Home / Sosok / Hagai, Putra Sumatra yang Berhasil Menembus NASA melalui Penelitian
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Narasumber)
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Narasumber)

Hagai, Putra Sumatra yang Berhasil Menembus NASA melalui Penelitian

Suryani / Diva Vania

Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”

Pijar. Medan. Kata-kata Bung Karno ini mungkin cocok disematkan pada sosok Hagai. Remaja kelahiran Tuntungan, 21 Juni 1998 ini berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional berkat prestasi gemilangnya.

Pemuda yang memiliki nama lengkap Hagai Raja Simanulingga ini berhasil menciptakan suatu penelitian baru saat ia tengah mengenyam pendidikan di SMA Unggul Del yang terletak di Kabupaten Toba Samosir.

Penelitian tersebut berjudul “Microaerobic Fermentation Under Microgravity”  yang bekerja sama dengan AMSE (The Apllied Math, Scince, and Engineering), salah satu institut ternama di Amerika Serikat.

Penelitian ini merupakan penelitian pertama karya anak bangsa yang berhasil sampai ke ISS (International Space Station) dan berhasil diterbangkan oleh NASA (National Aeronatics and Space Administration) ke luar angkasa.

Alat hasil penelitian yang berhasil diciptakan oleh Hagai dan Timnya yang berhasil diterbangkan oleh NASA ke luar angkasa. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Narasumber)
Alat hasil penelitian yang berhasil diciptakan oleh Hagai dan Timnya yang berhasil diterbangkan oleh NASA ke luar angkasa. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Narasumber)

Hagai, selaku pemimpin tim mengatakan bahwa, “Sebelumnya, saya tidak pernah terpikir sama sekali untuk dapat meneliti hal seperti ini. Namun, sewaktu kecil saya pernah mempunyai cita-cita ingin menjadi astronot atau bekerja mengenai hal-hal yang ada di luar angkasa, dan menurut saya penelitian ini merupakan salah satu jalan Tuhan kepada saya untuk dapat membuktikan bahwa saya bisa menggapai mimpi yang setinggi itu,” terangnya.

Mekanisme kerja dari penelitiannya adalah mereka mendesain suatu lab kecil yang akan diterbangkan keluar angkasa. Dan, robotlah yang sebenarnya menjalankan praktikum tersebut di luar angkasa.

Robot yang mereka rancang nantinya akan membantu melakukan kegiatan fermentasi dengan memantau pertumbuhan ragi di luar angkasa dalam kondisi near-zero gravity.

Hanya dengan menggunakan medium gula dan saccharomycetaceae, ia bersama sembilan orang temannya dan dua orang guru pembimbing (Elin Bawekes dan Arini Desianti Parawi) akhirnya berhasil melakukan penelitian ini dan mendapat segudang apresiasi.

Di antara apresiasi tersebut, ia diundang ke America Corner yang dihadiri oleh Duta Besar Amerika Serikat dan mendapat sertifikat bergengsi dari ASGSR (American Society for Gravitational and Space Research Meeting). Selain itu, ia juga mendapat apresiasi dari pemerintah Indonesia yang diberikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga dalam Telekonferensi di Jakarta.

Sosok Hagai kembali menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki anak bangsa yang berpotensi besar dan mampu bersaing dengan pemuda-pemudi dari negara maju lainnya. Saat ini, Hagai diketahui sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas terbaik di Indonesia yaitu Institut Teknologi Bandung dengan jurusan Teknik Informatika.

“Indonesia masih sangat jauh tertinggal akan penelitian, keseriusan dalam penelitian, metode penelitian, dan juga kita belum dapat terkoneksi dengan baik antara satu dengan yang lain. Dalam artian bejalan sendiri-sendiri, tidak terhubung antara masyarakat dengan peneliti ataupun peneliti dengan peneliti dalam membangun suatu penelitian yang berdampak besar,” ujarnya.

Dalam penelitian tersebut, dampak langsung yang dirasakan masyarakat memang belum besar, karena penelitiannya masih penelitian yang paling dasar.

Pemuda yang kini berstatus sebagai mahasiswa tersebut berharap agar kelak generasi muda penerus bangsa dapat mempersiapkan diri untuk membenahi negeri agar menjadi lebih baik lagi.

“Kita yang nantinya akan menikmati bonus demografi, jadi marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri. Jangan hanya mencintai diri sendiri, tapi cintai negeri ini dan cintai sesama. Sehingga kelak, kita tidak hanya memperkaya ataupun memegahkan diri sendiri, namun semuanya itu untuk kemegahan bangsa Indonesia. Mari sama-sama kita saling berangkulan, yuk kita gapai Indonesia maju di 2045,” ucapnya semangat.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

(Karya: Star Munthe)

Panjang Umur Perjuangan, Gie

Sore ini salah satu kedai kopi yang tak jauh dari kampus hijau dipadati oleh suara-suara yang berdesakan menuju topik demonstrasi mahasiswa. Jauh sebelum sore tak bertepi ini terjadi, tertulislah dalam sejarah kisah mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Pemuda yang kini namanya hidup sepanjang reformasi, walau sesungguhnya ia tak punya banyak waktu untuk pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *