Home / Hiburan / Buku / Membenci Realitas Setelah Menuntaskan Metamorfosis
Fotografer: Lolita Wardah
Fotografer: Lolita Wardah

Membenci Realitas Setelah Menuntaskan Metamorfosis

Lolita Wardah / Star Munthe

“Sebuah gambar eksistensi sayaakan menceritakan  sebuah pasak kayu tidak berguna yang telah  tertutup salju­terjebak pada di kemiringan tanah di lapangan,  di tepi dataran terbuka yang luas pada malam musim dingin yang gelap.

Pijar. Medan. Nama besar seperti Kafka menjadi idola bagi banyak individu tersohor. Karyanya diterima semua golongan. Pemikirannya membuka era baru dalam dunia kepenulisan. Bahkan seorang Haruki Murakami mengaku mengagumi Kafka di atas segalanya. Franz Kafka merupakan seorang sastrawan yang berasal dari Praha. Seperti sastrawan hebat pada umumnya, karya Kafka hangat dibicarakan setelah kematiannya.

Metamorfosis, tak banyak yang perlu dilakukan para penjual buku untuk berkata jujur bahwa ini adalah buku yang sangat baik, rekomendasi. Mereka tak perlu bernyanyi, tak perlu menari, tak perlu mengadakan potongan harga, dan bahkan mereka tak perlu berpura-pura seperti biasanya hanya agar semua orang membaca buku ini dan sadar bahwa buku ini memang hebat seperti nama penulisnya, Franz Kafka.

Metamorfosis yang merupakan kumpulan cerpen yang dapat membuat siapapun yang membacanya akan merasa bahwa ia belum cukup dan jauh dari kata cukup. Metamorfosis merupakan satu-satunya karya kafka yang selesai, karena semasa hidupnya ia selalu bergaduh dengan pekerjaanya.

Pada kalimat pembuka, cerpen Metamorfosis  sukses membuat pembaca mengerutkan dahi. Bagaimana tidak, manusia yang sejatinya adalah makhluk tertinggi dan di agungkan berubah menjadi mahluk yang sangat rendah dan menjijikkan.

Kafka memberitahu kita suatu hal, bahwa sastra juga dapat berbeda dan  dapat menampilkan wajah baru dalam dunia itu sendiri. Demikian pula yang dirasakan Gabriel G Marquez, penulis One Hundred Years of Solitude ketika menerima anugrah Nobel Sastra.

Pagi ketika Gregor terbangun dari tidur lelap, ia melihat sekitar, ia dikejutkan bahwa realitas yang terjadi pada perawakanya sudah berubah menjadi sosok yang tak masuk-diakal dan akanlah ditolak masyarakat sebagai suatu hal yang lumrah. Seekor serangga yang sangat menjijikan.

Awalnya dia mengira bahwa hal yang terjadi padanya hanya sebuah mimpi. Namun dia melihat sekelilingnya, dan tak ada yang berubah. Ia menjajaki ruangan dengan penglihatannya. Ia tetap pada umumnya itu. Dan benar saja, hanya tubuhnya yang berubah.

Kafka dalam pembukaan ini juga mengisyaratkan bahwa kita bisa menulis dengan cara yang berbeda. Bagaimanapun, pembaca tak akan pernah menduga sebuah cerita yang menggambarkan sosok pria berubah menjadi kutu besar yang kemudian akan menerima penghakiman sosial atas apa yang ia sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi. Gregor, hidup memang benar adanya, benar adanya tidak adil.

Semasa hidupnya, Georger adalah seorang yang gila berkerja. Hal itu ia lakukan demi membuat keluarganya bahagia dan memberi kehidupan yang nyaman. Sejak 5 tahun yang lalu, ayahnya Herr Samsa hanya seorang pengganguran, dan ibunya Frau Samsa, hanya ibu rumah tangga biasa.

Rutinitas bekerja yang selayaknya dilakukan olehnya, berubah menjadi hal yang aneh dan kaku. Dini hari, seharusnya dia sudah pergi berkerja. Tapi, dia tak bisa melakukan rutinitasnya tersebut. Ia tetap terpaku diatas ranjangnya. Menerka-nerka kenapa ini semua terjadi. Dan hasil jawaban yang ia temukan nihil.

Hanya ada ibu dan saudaranya yang memberikan simpati pada Gregor pada saat itu. Ayahnya sendiri tak terima dengan sosok Gregor yang merupakan aib keluarga tersebut, ia berniat membunuhnya. Gregor hidup lama dalam pengasingan. Tinggal di kamar persegi dengan ruang gerak terbatas. Menahan beban malu, rasa lapar sebagai makhluk sosial, dan ketakutan mendalam.

Saat peristiwa “Metamofosis” telah senja, hidup keluarganya berubah drastis. Keuangan keluarganya menipis. Sebab alasan itu, keluarganya menyewakan sebagian rumah mereka, demi menghidupkan lagi finansial keluarga. Tiga laki-laki penyewa, membuat keluarga Gregor memperlakukan penyewa itu seistimewa mungkin dan menjadi pelayan.

Suatu hari insting yang terpenjara memaksa Gregor keluar dari neraka kamarnya. Hal itu membuat, ia terlihat oleh penyewa. Para penyewa itu langsung angkat kaki dari rumah mereka. Mereka merasa geli dan ketakutan.

Hal itu, membuat geram keluarganya dan ingin membuang serangga menjijikan itu. Saat akhir hidupnya, Gregor tetap tidak mendapat  perlakuan layaknya manusia dan tetap diasingkan, oleh keluarga yang ia ingin bahagiakan.

Gregor dalam sosok yang tak tergambarkan tetaplah memiliki jiwa manusia—ia berpikir, ia berjiwa, ia berperasaan, dan ia masih mengingat. Tapi fisik adalah sampul buku yang penting barangkali dalam bumi kita. Keberadaannya memang harus terlupakan. Gregor telah mati sebagai manusia, barangkali memang benar mati saat ia akan dilupakan. Gregor hidup sebagai sosok baru yang tak manusia lagi.

“Suatu buku haruslah bagai menikam atau mencederai pembacanya. Katanya, kalau buku itu tidak membangunkan kita dengan suatu tonjokan di kepala, untuk apa kita membacanya?”

 Begitulah kata Franz Kafka dalam suratnya pada 27 januari 1904. Dan benar saja, buku yang ia terbitkan, membuat insan yang membacanya tertampar dentuman keras. Seolah berkata, bagaimana bisa kau puas sedangkan kau tertinggal jauh.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Kapanlagi.com

Ranah 3 Warna, Keberuntungan Sebagai Buah Kesabaran

Ranah 3 Warna merupakan buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Buku setebal 469 halaman ini menceritakan kisah lanjutan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Alif yang telah lulus dari Pondok Pesantren Madani Gontor, Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *