Home / Galeri / Aku Ingin Pergi ke Tempat di mana Mimpi Tak Pernah Terbangun
Sumber Foto: soyvirgo.com
Sumber Foto: soyvirgo.com

Aku Ingin Pergi ke Tempat di mana Mimpi Tak Pernah Terbangun

Star Yeheskiel Munthe

 Apa yang lebih menakutkan daripada mimpi buruk?

Jatuh cinta kepada mimpi indah. Mimpi indah yang hanya mimpi.

***

Tubuhku berubah menjadi biru. Kupikir aku akan mati dengan segala ketakutan yang bersarang di pikiranku. Aku selalu meyakinkan diriku, bahwa semua ini tidak nyata. Hanya menunggu bunyi alarm. Semua ini akan berakhir.

Aku adalah representasi dari kesedihan yang tak menerima warna ini sebagai kenyataan hidup. Sudah lama rasanya mimpi buruk ini tak kunjung mengenal akhir. Barangkali aku harus menyakiti diri tubuh khayal ini untuk menyadarkan tubuh asliku.

Tenang. Semua ini hanya mimpi. Mana mungkin ada naga bersayap yang bermain bersama anak-anak di dunia nyata. Mana mungkin di dunia nyata seperti di sini, orang dewasa menggunakan pakaian yang sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Mana mungkin dunia nyata memiliki orang-orang seperti di sini, orang-orang memilih jalanya sendiri, bukan dipilih oleh arus trend. Bagaimana pun, aku tidak mungkin bisa menerima hal gila seperti ini sebagai kenyataan.

Kupikir semua orang di sini menggunakan bahasa yang berbeda dari dunia nyata. Kenapa orang-orang di sini menganggap teriakanku sebagai hal yang biasa? Di mana norma yang mengikat itu? Aku tak mungkin menerima ini semua sebagai kenyataan, sekali pun benar aku menikmatinya.

Karena aku sudah cukup terluka dengan harapan yang tinggi selama ini. Setiap kali aku menggantungkan harapan. Ia hilang terseret ombak. Aku harus menyadarkan diriku sebelum aku benar-benar tak bisa mengelak dari kata jatuh cinta.

“Ku mohon, matahari dunia nyata tolonglah segera terbit…” sebutku dengan tubuh tersungkur di bawah langit biru kelam bertabur bintang. Aku sungguh tak bisa membohongi diri lagi, bahwa tempat ini sebaiknya nyata. Tapi itu tidak mungkin. Aku harus membenci sesuatu yang tak mungkin bisa kupeluk erat. Sebelum harapan membunuhku dari dalam.

“Permisi, ini masih jam tiga pagi. Ya, mungkin sedikit lama, tapi aku tahu di mana tempat yang tepat untuk menyaksiskan matahari terbit. Oh, maaf, namaku Karin.”

Begitu banyak misteri indah yang begitu saja melintasi diriku. Aku sebaiknya tak berkomunikasi dengan mereka. Karena berbicara melebihi tiga kalimat saja sepertinya akan membuatku tenggelam dalam fantasi. Aku harus menutup diri.

“Hei, Tuan. Tak usah khawatir. Aku hanya menawarkanmu sesuatu yang setiap orang di kota ini cintai, Matahari. Lagi pula apa yang dilakukan seorang pria di tengah padang rumput yang dingin tanpa mengenakan mantel.”

Aku memilih untuk diam. Dia tersenyum lalu menawarkan tangan. Ia membawaku ke tempat yang tak jauh dari titik di mana aku tersungkur. Di sana ada rumah yang hangat.

“Tak usah jawab ya atau tidak. Di kota ini pertanyaan tak terlalu berharga. Namun, sepertinya matamu mengisyaratkan bahwa kau terbenam dalam tanda tanya. Kau pasti dari dunia nyata. Hahaha… sebaiknya kau kenakan mantel dan minum kopi hangat ini.”

Aku lantas terhipnotis dengan kebaikan yang tak nyata. Apakah yang lebih indah daripada semua ini jika ini semua adalah kenyataan.

“Waktumu tinggal 30 menit sebelum matahari terbit. Ayo, aku bawa kau ke belakang rumah. Di sana ada hamparan laut lepas yang biru kehitaman, sebentar lagi akan berwarna keemasan.”

Bagaima bahasa dunia nyata bisa sama dengan dunia mimpi. Aku tak akan jatuh lebih dalam. Aku tak akan mencintai matahari mereka. Aku hanya harus menarik nafas dan mengatakan pada diri sendiri. Setelah matahari ini. Hari akan berjalan seperti biasa.

Laut dan seorang perempuan. Sial, aku lupa ini adalah kelemahanku. Sontak nadiku memaksa bibirku berucap tentang segala hal yang kutakutkan. Aku takut tentang segala hal.

“Kau tahu, sebenarnya aku takut matahari. Aku takut bahwa aku akan meninggalkan ketidaknyataan ini dan berganti kenyataan yang tidak benar-benar kunikmati. Aku takut kalau aku mencintai waktuku di sini, aku hanya akan terjatuh. Apa yang harus kulakukan, Karin?”

Perempuan itu tertawa kecil dan menunjuk ke arah laut. Tepat di sana matahari mulai tampak dan sedikit menyilaukan.

“Sebenarnya kita sudah bertemu tiga ratus kali sebelumnya. Namun, setiap kali kau bermimpi, kau tak pernah membawa ingatan yang sama. Barangkali setiap petualangan yang kita lalui, segera kau lupakan setelah bangun tidur. Kau tahu, aku juga takut. Aku takut apabila aku harus jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. Tapi untuk semua kenangan, hanya padaku abadi itu berteduh.”

Aku lantas tertawa dan menanyakan, “Apakah diriku pernah jatuh cinta dengan mimpi ini.”

“Entahlah, di sini cinta tak pernah terjatuh. Ia tumbuh dan tak akan jatuh. Itu sedikit menggambarkan perasaanku.”

Perempuan itu menangis, tapi senyum melengkung di bibirnya. Seolah perpisahan akan tiba, tapi bibirnya tenang menggambarkan besok pasti jumpa.

“Besok aku akan minum vodka dengan dirimu yang baru. Selamat pagi, Sayang.” Tutupnya dengan peluk. Aku terbangun di atas ranjang. Disampingku alarm tak berhenti berdering. Bahkan jendelaku terlalu silau.

“Sial, ini Senin. Aku terlambat pergi ke kampus.” Lalu semua ingatan itu hilang begitu saja.

Seperti hari-hari sebelumnya. Seperti hari-hari selanjutnya.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Ilustrator: Asti Febriana

Seperti Hujan Kemarin

Seperti hujan pekan kemarin Gemuruh membahana, perkasa Hingga terjerembab daun kering si pohon beringin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *