Home / Jalan-Jalan / Angkringan Jumteng, di mana Kebersamaan Menjadi Nilai Penting
Fotografer: Star Munthe
Fotografer: Star Munthe

Angkringan Jumteng, di mana Kebersamaan Menjadi Nilai Penting

Yoga Haditya/Star Yeheskiel

“Mural sebagai latarnya, tikar sebagai alasnya, pinggir jalan sebagai jendelanya, telur puyu tusuk sebagai hidangannya, dan suara lalu lalang kendaraan sebagai iringan musiknya. Lebih dari semua itu, tempat ini menjual suasana yang hangat.”

Pijar, Medan. Malam jauh melintang melebihi pertanyaan yang hinggap kala fajar mulai meyingsing. Malam begitu berarti jika makna ditemukan dari segudang defenisi. Tak jauh dari tempat hiruk pikuk kota yang seharusnya, tepatnya di Jalan Ahmad Yani No. 70, Kesawan, Medan, terdapat pemaknaan dari defenisi kesederahaan.

Angkringan Jumpa Tengah atau akrab dibibir anak muda Angkringan Jumteng hadir sebagai wujud protes terhadap arus globalisasi yang menuntut perubahan di banyak sektor. Angkringan Jumteng sejatinya menawarkan hal yang tidak ditawarkan tempat nongkrong pada umumnya. Adapun ide itu mencuat kedalam beberapa hal; kesederhanaan yang tampak dari fasilitas dan pemilihan tempat serta kebersamaan yang tergambar dari suasana yang tak ingin dipeluk sepi.

Biasanya laris dan digunakan oleh hampir seluruh tempat nongkrong, mulai dari desain yang instagramable, tempat yang mewah menyajikan konsep unik dan berbeda, internalisasi gaya eropa, mengunggulkan kopi sebagai tawaran primer, bahkan sekadar menyediakan wi-fi sebagai saranan penarik massa.

Semua poin tadi coba dilawan oleh empat sekawan yang menjadi penggagas Angkringan Jumteng. Ada Reza, Joko, Dedew, dan Mocit yang mengaku bahwa ide ini hanya sekadar muncul begitu saja dan modal nekat menjadikannya eksperimen.

Absennya wi-fi dan colokan sebagai entitas wajib pada tempat nongkrong mainstream ternyata bukan berarti empat sekawan tidak berpikir panjang akan makna nyaman. Bahkan peniadaan dua hal tersebut ternyata memiliki tujuan untuk menghadirkan perasaan natural dari arti nongkrong, yakni kebersamaan yang melebur dengan komunikasi tatap muka bercampur humor yang mengundang tawa.

“Kami mendirikan tempat ini memang melawan arus global di mana dengan nongkrong di pinggir jalan lesehan tanpa wi-fi dan colokan sama temen temen itu juga asik. Jadi, menurut saya asik main sama teman-teman tuh gak harus yang mewah, dengan kesederhanaan pun kita bisa asik juga kok,” sebut Reza kepada tim reporter Pijar.

Angkringan Jumteng sebenarnya memiliki filosofi yang lebih dalam daripada suasana pinggir jalan yang hangat. Angkringan dan Jumpa Tengah merupakan dua kata yang berasal dari dua bahasa daerah yang berbeda. Angkringan dalam artian tempat nongkrong berasal dari daerah Yogyakarta. Sedangkan Jumpa Tengah merupakan kebiasaan masyarakat Medan dalam mengistilahkan titik tengah atau titik kumpul dari sebuah kesepakatan.

Tak hanya berhenti pada nama belaka. Yogyakarta dan Medan dipadukan oleh empat sekawan dalam memberikan wajah pada Angkringan Jumteng. Kesederhanaan yang mahal milik Yogyakarta dan kebersamaan milik Medan yang berarti. Bisnis ini awalnya hanya menarik seputaran lingkungan perkawanan empat sekawan untuk mampir dan berbaur. Tapi teknik promosi ‘dari bibir kebibir’ akhirnya mampu menjadikan Angkringan Jumteng disinggahi oleh banyak kalangan.

“Aku udah pernah ngerasain langsung angkringan yang ada di Yogyakarta dan ini (Angkringan Jumteng) memang punya aroma yang sama seperti yang di sana. Tanpa wi-fi dan colokan, suasana di sana benar-benar mencair dalam bentuk canda tawa,” ujar Tasia salah satu pengunjung Angkringan Jumteng.

Angkringan Jumteng yang berdiri sejak tiga bulan lalu, tepatnya  pada 1 september 2019 memang bisa dikatakan masih terbilang muda. Namun karena gaya dan ciri khas yang tepat, Angkringan Jumteng mampu eksis di telinga anak Medan. Berdasarkan wawancara reporter Pijar dengan empat sekawan, bahkan Angkringan Jumteng sudah memiliki pelanggan yang cukup banyak dan berasal dari berbagai kalangan.

Angkringan Jumteng sekiranya berhasil membuat pelanggannya menghilang dari Medan. Setidaknya suasana itu sedikit terlepas dari pelukan hangatnya Kota Medan. Dengan tempat yang sederhana tapi sudah bisa meneguhkan kata nyaman dengan pelukan suasana yang berkonsep tempo dulu ala angkringan yang ada di Jawa, ditambah sajian menu makanan yang berupa jajanan tradisional, dan ditemani lampu kuning pada langit-langitnya, akhirnya berhasil menyulap ruang.

Tempat nongkrong yang satu ini menyajikan beragam makanan dan minuman. Tapi bagi empat sekawan, salah satu sajian andalan mereka adalah nasi kuning. Adapun menu lain yang sebaiknya para pengunjung coba sambil menikmati suasana hangat Angkringan Jumteng adalah sate usus, telur puyuh, dan ampela.

Tak hanya itu, Angkringan Jumteng juga menghadirkan nasi perang yang dibungkus dengan sepincuk daun pisang. Adapula menu lain seperti bakwan, tempe goreng, dan juga risol. Karena mengangkat konsep sederhana, harga yang dibandrol untuk makanan yang tersaji berada dikisaran di bawah Rp20.000.

Angkringan Jumteng hadir kala senja sudah lewat yang ditutup dengan gelap. 19.30 WIB sampai suasana dipeluk sepi adalah jadwal buka tempat ini. Kecuali hari Senin, suasana sederhana dan kebersamaan itu bisa didapatkan setiap hari. Bercerita sambil lesehan di bawah lampu kuning yang ditemani makanan khas angkringan dan juga sesekali diwarnai oleh suara knalpot kendaraan yang berlalu lalang adalah suasana yang akan jarang untuk kamu dapati di kota sibuk ini.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Tesayunidia Tebe

Deli Park Medan, Kembalinya Tongkrongan Anak Medan

usat Perbelanjaan atau yang sering kita sebut mall merupakan tempat favorit berkumpulnya masyarakat dari semua kalangan hingga usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *