Home / Berita / Memperingati Hari Difabel Internasional dalam Kacamata Ibu Pertiwi
(Sumber Foto: Berbagisemangat.com).
(Sumber Foto: Berbagisemangat.com).

Memperingati Hari Difabel Internasional dalam Kacamata Ibu Pertiwi

Zain Fathurrahman/Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Pada tahun 1992, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 3 Desember sebagai Hari Difabel Internasional. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disabilitas, menghilangkan stigma terhadap orang-orang yang menyandang disabilitas, juga untuk memberikan dukungan serta meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan para penyandang disablitas.

Data yang dikeluarkan dari World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa ada sekitar 15% penyandang disabilitas di dunia. Untuk Indonesia sendiri, berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) Kementerian Pertahanan dari Kementrian Sosial, penyandang disabilitas di Indonesia berjumlah 11,580,117 orang, dengan rincian 3,474,035 orang penyandang disabilitas penglihatan, 3,010,830 orang penyandang disabilitas fisik, 2,547,626 orang penyandang disabilitas pendengaran, 1,389,614 orang penyandang disabilitas mental dan 1,158,012 orang penyandang disabilitas kronis.

Dilihat dari besarnya jumlah penyandang disabilitas, Indonesia harus mampu menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas. Fasilitas-fasilitas publik yang ada harus dapat diakses oleh para difabel.

Berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan, diatur bahwa setiap bangunan harus menyediakan fasilitas/infrastruktur untuk penyandang disabilitas, kecuali perumahan pribadi.

Selain itu, ada Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas. Peraturan tersebut mengatur bahwa setiap penyelenggara fasilitas umum dan infrastruktur harus menyediakan aksesibilitas yang setara.

Walaupun banyak peraturan yang mengatur tentang kemudahan akses bagi penyandang disabilitas terhadap fasilitas, tetapi implementasi dari aksesibilitas untuk mencapai kesetaraan dalam penggunaan bangunan umum dan kantor pemerintah masih jarang.

Indonesia seharusnya bisa lebih memperhatikan fasilitas publik khusus difabel (Sumber Foto: Berbagisemangat.com)
Indonesia seharusnya bisa lebih memperhatikan fasilitas publik khusus difabel. (Fotografer: Hidayat Sikumbang).

Bisa kita lihat dari sarana transportasi umum yang tidak bersahabat bagi penyandang disabilitas, trotoar yang kurang mendukung, elevator yang terlalu sempit, sarana sanitasi yang tidak mendukung, juga jalanan yang licin serta tidak rata yang berbahaya bagi penyandang disabilitas.

Namun demikian, pemerintah tetap mengupayakan pemberian prioritas terhadap aksesibilitas secara progresif. Dikeluarkannya Undang-Undang No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas juga menjadi bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam mengayomi warganya.

“Sejauh ini, perhatian pemerintah semakin membaik, pemerintah juga selalu berusaha menyetarakan teman-teman disabilitas,” seperti yang dituturkan oleh Nina Gusmita, atlet voli duduk tim nasional Indonesia yang berlaga di Asian Para Games 2018 lalu.

Keseriusan pemerintah dalam melaksanakan Asian Para Games 2018 yang diadakan sebulan setelah Asian Games 2018 merupakan salah satu bentuk komitmen dari pemerintah untuk mengangkat hak-hak para difabel untuk mengekspresikan dan mengembangkan minat bakat yang ada di dalam dirinya.

“Buat teman-teman disabilitas yang lain, jangan pantang menyerah. Kamu ga sendiri, tetap harus selalu berkarya dan menjadi yang terbaik. Kita bisa, kamu juga harus bisa. Semangat!” pesan Nina kepada penyandang disabilitas yang ada di Indonesia.

Nina berharap, pemerintah bisa lebih menggalakkan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat karena kesadaran masyarakat itu sangat penting. Masyarakat masih berpikir dengan paradigma tradisional di mana penyandang disabilitas adalah  kaum yang patut dikasihani karena tidak mampu berbuat apa-apa.

Ketidaksempurnaan fisik dianggap sebagai penghalang bagi seseorang untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini tentu saja ditepis dan dipatahkan oleh Nina dan para difabel lainnya yang mampu untuk menunjukkan taringnya di perlombaan-perlombaan yang membutuhkan kekuatan fisik. Nina membuktikan bahwa kekurangan fisik tidak menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

(Fotografer: Valencia Christiani Zebua)

Seminar PKPU dan Kepailitan Perkenalkan Solusi atas Utang Piutang

Bahasan mengenai penyelesaian utang piutang menurut hukum mungkin terdengar asing di telinga masyarakat awam. Oleh karena itu, adanya seminar PKPU dan Kepailitan menjadi jalan tengah masyarakat agar dapat mengetahui lebih jelas bagaimana strategi jitu penyelesaian utang piutang menurut hukum yang berlaku. Seminar yang bertempat di Grand Aston City Hall, Medan pada Senin, 2 Desember 2019 ini menghadirkan tiga narasumber ahli dalam bidang hukum. Diantaranya Bpk hakim. Abdul Azis,S.H,M.H, Bpk. Yudhi Wibhisana, S.H, dan Bpk. Fajar Romi Gumilan, S.H.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *