Home / Hiburan / Film / Mengindonesiakan Film Horor di Film Perempuan Tanah Jahanam
Sumber Foto: Beritagar.id
Sumber Foto: Beritagar.id

Mengindonesiakan Film Horor di Film Perempuan Tanah Jahanam

Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. ­Joko Anwar bukanlah seorang sutradara sembarangan. Terbukti, film besutannya berhasil mendapatkan 1 juta penonton hanya dalam 9 hari penayangannya. Hal ini ditulis Joko dalam unggahan akun instagram pribadinya. Ia mengklaim film miliknya telah meraup sebanyak 1.133.160 penonton dalam 11 hari penayangan, sejak rilis 17 Oktober 2019 lalu. Hingga ‘turun’ dari bioskop, Perempuan Tanah Jahanam mampu memperoleh sebanyak  1,5 juta.

Prestasi yang cukup mencengangkan untuk sekelas film horor. Belum lagi, film ini juga mengungguli romansa Minke dari dalam film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo yang juga dirilis tahun ini.

Seperti biasa dan tak jauh beda dengan konsep dari Pengabdi Setan (2017), Joko Anwar membuat konsep sederhana dalam film horor. Maya (Tara Basro) adalah gadis yang memiliki catatan kelam terhadap keluarganya. Sang ayah merupakan seorang pendosa dan membuat seisi kampung menanggung akibat dari perbuatannya. Hal ini pun baru diketahui Maya ketika ia kembali ke kampungnya, Desa Harjosari.

Eksotisme yang menyeramkan sudah terlihat ketika film baru dibuka. Terlihat Maya dan Dini (Marissa Anita) bercengkerama ketika sedang bekerja. Mereka berdua adalah penjaga pintu tol dan bekerja hingga larut malam.

Hingga suatu ketika, mereka berdua mencoba untuk mengubah nasib, yakni menjadi penjual pakaian. Segala macam jenis pakaian mereka jual di sini. Maya menjajakan pakaian dari toko ke toko di pasar. Mereka berdua juga memiliki gerai pakaian sendiri di pasar tersebut.

“Saya selalu memasukkan unsur personal ke film-film saya. Contohnya karakter Maya (Tara Basro)  di Perempuan Tanah Jahanam yang menjual kain dari satu warung ke warung lain di pasar tradisional. Ibu saya semasa hidupnya juga pekerjaannya seperti Maya,” tulis Joko dalam akun instagramnya.

Setidaknya, ada banyak pesan yang berhasil dititipkan Joko dalam film yang berdurasi 1 jam 46 menit ini. Beberapa kutipan yang membuat kita sebenarnya lebih berkaca pada kenyataan. Film ini juga penuh kritik sosial. Salah satunya, desa-desa pedalaman dan terpencil yang masih miris dari sentuhan listrik.

Harjosari adalah sebuah kampung fiktif terpencil. Potret sebuah kampung yang terpencil semakin dijabarkan secara mendetail; Pertama, banyak orang yang tidak mengetahui di mana Harjosari itu berada. Kedua, daerah di sana cukup riskan untuk ditempuh dengan kendaraan umum. Jalanan di sana juga tidak semulus jalanan di Ibu Kota. Listrik? Lupakan. Kebanyakan warga masih berharap dengan cahaya dari api yang ada dalam lampu minyak.

Melalui Perempuan Tanah Jahanam, isu perempuan juga dijabarkan oleh Joko secara dalam dan rapi. Dini dan Maya adalah dua pekerja pemberani. Jadwal mereka bekerja sebagai penjaga pintu tol berada di luar nalar. Yakni, hingga tengah malam. Ketika di Harjosari, Dini ditawan oleh dua orang kaki tangan Ki Saptadi (Ario Bayu). Ia tak memiliki kesempatan apa-apa untuk kabur. Nyawanya sudah diujung tanduk. Ia berkata, “Kalau kalian menginginkannya, aku akan kasih. Lagian, aku sudah tidak perawan lagi.”

Bagi sebagian orang, ini adalah gurauan atau lelucuan biasa. Kenyataannya ada sebuah nilai dari kutipan Dini tersebut. Wanita hanyalah objek seksual bagi kaum adam di negeri ini. Hampir setiap hari, surat kabar lokal pasti menyediakan rubrik yang membahas pelecehan seksual. Pemerkosaan, pencabulan, hingga pembunuhan adalah pemberitaan harian bagi surat kabar daerah.

Salah satu contoh lainnya adalah ketika Ratih (Asmara Abigail) dikunjungi oleh dua pria dari desanya. Ratih yang saat itu sedang ditinggal oleh suaminya, dilecehkan secara verbal tanpa malu oleh kedua pria tersebut. Dengan keadaan terdesak, ia membela diri. Ia tak segan menghunus pisau yang digenggamnya tersebut menikam jantung pria-pria nakal itu.

Sayangnya, film ini memiliki akhir yang di luar dugaan. Mencengangkan? Tentu. Namun, akhir tersebut bukan menimbulkan tanda tanya. Melainkan sedikit kekecewaan. Mungkin bisa jadi, Joko ingin membuat film ini secara benar-benar Indonesia.

Segala sesuatu akan berakhir dengan metode diskusi dan musyawarah. Mengemas film ini dengan konsep keluarga di awal, lalu menutup film ini dengan sedikit debat tentang keluarga pula di akhir.

Perempuan Tanah Jahanam memang sejahanam itu. Tapi yang pasti, Joko telah memikirkan hal ini sematang-matang mungkin. Riset mendalam mengenai perkuburan, hingga rumah Ki Saptadi yang sejatinya merupakan tempat kandang sapi menjadi nilai tambah yang mengundang decak kagum. Serinci itu, memang. Inilah yang membedakan taji Joko Anwar di film horor dengan sutradara lain. Sentuhannya memang tak perlu diragukan lagi untuk sebuah horor mampu membuat napasmu menjadi sesak ketika menonton.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: 
https://www.pinterest.com/pin/675258537854182698/

Arah Langkah, Menyusuri Cerita Mengelilingi Indonesia

Kutipan di atas merupakan tonggak awal dalam sebuah perjalanan. Sejauh apa pun jarak yang kita raih, sedalam apa pun air yang kita selami, rumah adalah tujuan akhir dari semuanya. Perjalanan yang telah terekam nyata di ingatan, bagaimanapun cerita akhirnya, semua itu akan menjadi sebuah kenangan. Kenangan terindah untuk dapat di ceritakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *