Home / Berita / Sebuah Makna Di Balik Peringatan Hari Ibu

Sebuah Makna Di Balik Peringatan Hari Ibu

Sumber Foto: Tribunnews.com

Yayang Prilli Wandari

Pijar, Medan. Setiap anak pasti berfikir bahwa seorang ibu merupakan pahlawan baginya. Mengapa? Tentu saja karena sosok ibulah yang telah mengandung, melahirkan, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya serta membesarkan kita dengan kasih sayang yang berlimpah.

Terkadang, aktivitas yang sangat padat, membuat kita tanpa sadar mengabaikan sosok seorang ibu, seperti mengabaikan telepon dan pesannya, menolak ajakannya, menunda-nunda saat ia membutuhkan bantuan serta hal-hal kecil lainnya.

Namun meskipun begitu, tidaklah mengubah seluruh rasa cinta dan kasih sayang yang ia berikan untuk anak-anaknya. Hal itu dikarenakan cinta dan kasih sayangnya tulus dan tanpa batas.

Begitu spesialnya ibu bagi siapa pun, dibuatlah perayaan nasional yang didedikasikan khusus untuk memperingati perempuan yang sangat luar biasa ini. Perayaan tersebut dirayakan setiap tanggal 22 Desember yang dikenal semua orang sebagai Hari ibu.

Ya, tepatnya hari ini di tanggal 22 Desember 2019, merupakan peringatan Hari ibu Nasional yang ke-91 di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, peringatan hari ibu seperti ini di rayakan juga oleh hampir seluruh belahan dunia seperti Prancis, Jepang, Inggris, Thailand dan masih banyak negara-negara lainnya yang tentunya dengan tanggal-tanggal yang berbeda pula.

Jika ingin mengetahui makna dari Hari Ibu, maka kita perlu mengetahui sejarahnya. Hari Ibu berawal dari kesamaan pandangan untuk mengubah nasib perempuan di tanah air dan membuat berbagai organisasi perempuan yang ada di Sumatra serta Jawa berkumpul dalam satu tempat. Di dalamnya mereka membahas dan memperjuangkan peran wanita bukan hanya sebagai istri dan pelayan suami saja.

Berawal dari situlah, persatuan dari beberapa organisasi wanita itu semakin kuat dan akhirnya tergabung dalam organisasi yang lebih besar, yaitu Perikatan Perkoempolan Isteri Indonesia (PPII).

Di lansir dari laman Kompas.com, Kongres Perempuan Indonesia III yang berlangsung dari 22-27 Juli 1938 di Bandung menetapkan hari ibu diperingati setiap 22 Desember. Pemilihan tanggal itu untuk mengekalkan sejarah bahwa kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dimulai pada 22 Desember 1928. Setiap tahunnya, peringatan dilakukan untuk menghayati peristiwa bersejarah tersebut.

Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan keputusan presiden untuk menetapkan dukungan atas kongres Perempuan III. Melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 akhirnya hari ibu resmi menjadi hari nasional.

Jika dilihat dari sejarah lahirnya Hari Ibu, sebenarnya tanggal 22 Desember lebih tepat dimaknai sebagai hari perempuan di Indonesia. Karena pada saat itu para perempuan menyatukan dirinya dalam sebuah organisasi untuk memperjuangkan dirinya dalam masa sebelum kemerdekaan.

Namun seiring berjalannya waktu, saat ini makna Hari Ibu di Indonesia yaitu di mana kita memperingati kebesaran seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita, memperingati jasa-jasanya, dan lain-lain.

Hingga kebiasaan dari perayaan Hari Ibu yang biasa dilakukan di Indonesia sendiri itu biasanya mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih pada ibu,  walaupun sebenarnya hal tersebut dapat kita lakukan setiap hari.

Berbagai kegiatan dan hadiah pun diberikan untuk para ibu, seperti memberikan bunga, kado istimewa, mengadakan aneka lomba untuk para ibu di setiap daerah bahkan ada pula yang membebaskan para ibu dari beban kegiatan rumah tangga sehari-hari seperti membereskan rumah, memasak, mencuci dan lain sebagainya.

Meskipun begitu, sosok ibu di masa lalu maupun masa kini tetaplah seorang pahlawan, pahlawan bagi anak-anak maupun keluarganya, yang mampu melakukan banyak hal walaupun itu dapat mengorbankan dirinya sendiri. Nah Sobat Pijar, apakah kalian sudah mempersiapkan hadiah untuk ibu tercinta?

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Talitha Nabilah Ritonga

Parody, Pesta Akhir Tahun di Budaya Land

Libur telah tiba, penghujung tahun mulai menyapa penikmatnya. Sore itu, Budaya Land dipadati oleh keluarga-keluarga yang tengah menikmati masa liburnya. Tawa dan senyum sudah menjadi pemandangan yang tidak asing di sore itu. Parody telah menjadi wadah untuk tawa dan senyuman itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *