Home / Lifestyle / 40 Detik Untuk Lebih Menghargai Kesehatan Mental yang Manusiawi
Sumber Foto: World Health Organization: WHO
Sumber Foto: World Health Organization: WHO

40 Detik Untuk Lebih Menghargai Kesehatan Mental yang Manusiawi

Jenni Sihombing/Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Charles Bukowski pernah menulis, “Suatu hari, ketika kamu ingin turun dari tempat tidur di pagi hari dan kamu berpikir  ‘saya tidak akan berhasil’ tertawalah dalam hati dan ingatlah ketika di banyak masa sebelumnya dalam hidupmu berapa kali kamu mengatakan hal yang sama, dan ternyata kamu mampu melaluinya.”

Kemajuan teknologi, pendidikan, media sosial dan pekerjaan merupakan beberapa hal yang senantiasa melekat dalam diri dan kehidupan kita. Sehingga tak jarang kemajuan dan perkembangan yang teramat cepat mampu mengguncang kondisi kesehatan mental.

Terkhusus bagi kalangan usia 15-29 tahun, yang secara langsung merasakan dampak dari apa yang terjadi. Dalam rentang usia tersebut pula angka kematian bunuh diri terjadi cukup tinggi. Hal ini dapat dikaitkan sebagai salah satu dampak gangguan pada kesehatan mental. Tercatat ada sekitar 800.000 tingkat kematian bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia.

Untuk itu, hadir sebuah gerakan “40 Second of Action” yang diprakarsai oleh WHO mengingat bunuh diri merupakan penyumbang kematian terbesar kedua pada kelompok individu muda. Sesuai dengan namanya 40 Second of Action, gerakan ini mengajak kita untuk berkontribusi mencegah terjadinya kasus bunuh diri yang berdasarkan data terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh dunia.

40 Second of Action juga hadir sebagai tema dalam peringatan hari kesehatan mental atau kesehatan jiwa sedunia pada 10 Oktober 2019 yang tujuan utamanya adalah sebagai alat untuk mencegah sekaligus mengurangi tingginya angka kematian bunuh diri.

Lewat gerakan ini pula, kita diajak agar mampu mengalokasikan waktu sebanyak 40 detik untuk berbicara dan mencurahkan kondisi perasaan kepada seseorang dan mampu meluangkan waktu setidaknya 40 detik untuk mendengarkan curahan hati seseorang.

Kesehatan mental yang terganggu dan bunuh diri memang merupakan dua hal yang saling berkaitan. Apabila ditelusuri, kematian dengan cara bunuh diri diakibatkan karena stress mendalam dan depresi yang tinggi.

Bagaimana tidak, usia 15-29 tahun adalah masa di mana mereka harus melalui perkembangan dan kemajuan yang berjalan cepat. Pada tahap ini pula mereka dihadapkan pada dunia pendidikan yang semakin berkembang, pekerjaan, keluarga, alkohol, obat-obatan, konflik di mana-mana dan kemajuan teknologi di sana-sini serta bencana alam.

Biasanya, orang yang mulai terpengaruh kesehatan mentalnya  akan mengalami perubahan sikap. Seperti rasa takut yang berlebihan, perubahan pola pikir, dan perubahan emosi seperti hal-nya tiba-tiba diam.

Di sinilah posisi dan dukungan kita sangat dibutuhkan walau hanya sekadar memberikan motivasi dan kata-kata positif, mengajak untuk berbicara, dan mendengarkan keluh kesah mereka tanpa perlu menghakiminya. Lewat ini, mereka akan merasa bahwa mereka tidak sendirian. Menghubungkan mereka kepada psikiater, psikolog, dan konseling juga merupakan langkah yang tepat jika memang mereka membutuhkan penanganan tersebut.

Hal-hal di atas sesuai dengan tujuan konkret yang ingin dicapai lewat aksi 40 Second of Action yakni untuk meningkatkan kesadaran tentang kasus bunuh diri yang telah menjadi penyakit secara global dan meningkatkan pengetahuan tentang apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bunuh diri.

Selain itu, gerakan ini ditujukan untuk menghilangkan stigma keliru tentang pelaku bunuh diri dan menyadarkan mereka yang sedang berjuang atau ingin bunuh diri agar sadar bahwa mereka tidak sendiri.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: byrawpixel

Support System, Ingatlah Kamu Tidak Sendiri Di Bumi

Sebagai makhluk sosial, sudah sewajarnya individu akan melibatkan peran individu lain dalam jalan hidupnya. Perjuangan kadang membutakan setiap orang, bahwa jalan terjal yang dilaluinya memanglah dilaluinya dengan dua kaki saja. Peran sekecil apapun akan memberi dampak pada perjalanan itu, sekalipun itu hanya sekadar ungkapan mendung.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *