Home / Lifestyle / Inner Child, Luka Masa Lalu yang Perlu Disembuhkan
Sumber Foto:
tumblr/movemequotes
Sumber Foto: tumblr/movemequotes

Inner Child, Luka Masa Lalu yang Perlu Disembuhkan

Nia Nuryanti Barus / Intan Sari

Lupakan masa lalu yang sempat menghadirkan luka, hiduplah di masa sekarang dan melanjutkan masa depan.

Pijar, Medan. Setiap orang pasti pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di dalam kehidupan mereka. Pengalaman tersebut ada yang hadir dalam waktu yang cukup lama dan beberapa mungkin hanya sekedar singgah dan berlalu. Tanpa kita sadari, pengalaman tidak menyenangkan tersebut dapat menjadi luka yang bisa memengaruhi proses pendewasaan seseorang.

Tahukah Sobat Pijar, ketika kita mendapatkan suatu perlakuan yang buruk dari seseorang dan ingatan akan perlakuan tersebut membekas di dalam diri kita, saat itulah “inner child” yang terdapat di dalam diri kita terluka.

Inner child merupakan alam bawah sadar dari manusia, di mana alam berisi kepribadian seseorang yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil atau sisi kekanak-kanakan dalam diri seseorang.  Banyak orang yang yang tidak menyadari bahwa di dalam diri setiap orang terdapat inner child atau jiwa anak kecil.

Misalnya ketika kita kecil, kita tidak sengaja menjatuhkan piring sehingga piring tersebut pecah dan akibatnya orang tua kita membentak kita dengan tidak wajar. Perlu Sobat Pijar ketahui, ketika bentakan tersebut kita terima, hal tersebut dapat membekas di dalam ingatan kita yang pada akhirnya dapat menciptakan sebuah luka batin.

Luka batin ini, tanpa kita sadari akan terbawa hingga dewasa. Akibatnya, ketika kita dewasa, kita akan kembali mengingat peristiwa tersebut dan alam bawah sadar kita otomatis akan menyimpan semua memori tersebut yang mengakibatkan kita akan memiliki sifat pemarah, mudah tersinggung, dan lain sebagainya.

Setiap luka pasti ada obatnya begitu juga dengan setiap kejadian menyakitkan yang dapat melukai inner child seseorang. Ketika luka batin yang kita terima tersebut tidak segera didamaikan/disembuhkan, maka akan hadir keinginan balas dendam yang mungkin dapat kita lakukan kembali kepada orang lain atau generasi penerus kita.

Dikutip dari kumparan.com terdapat 4 tahapan yang dapat Sobat Pijar lakukan untuk mengobati inner child ini yaitu:

  1. Fase pertama, kita perlu mengidentifikasi masalah utama yang menjadi penyebab inner child kita atau flashback ke masa lalu untuk mengingat setiap pengalaman menyakitkan yang pernah terjadi di kehidupan masa kecil kita. Walaupun terasa menyakitkan ketika mengingatnya, Sobat Pijar harus mencobanya ya.
  2. Fase kedua, adalah ikhlas dan sadar bahwa semua yang terjadi di masa itu sudah berlalu dan tidak ada hubungannya dengan masa sekarang dan masa depan Sobat Pijar. Ingatlah bahwa kita juga berhak bahagia dan terlepas dari setiap pengalaman menyakitkan tersebut.
  3. Fase ketiga, cobalah memaafkan diri sendiri dan orang lain atau siapa pun yang pernah memberikanmu luka menyakitkan tersebut. Belajarlah memaafkan dengan hati yang tulus dan ikhlas. Sobat Pijar harus tahu bahwa balas dendam terbaik adalah dengan mengubah luka menjadi pelajaran berharga. Karena setiap pengalaman menyakitkan tersebut dapat dijadikan pelajaran, bukan sebuah rasa dendam yang harus dibalaskan.
  4. Fase keempat dan yang terakhir, adalah sebagai makhluk yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan, Sobat Pijar harus bersabar dan meminta kepada Sang Pencipta untuk senantiasa dikuatkan dalam menjalani proses kehidupan ini walau terkadang tidak sesuai dengan harapan Sobat Pijar.

Untuk menyembuhkan inner child yang terluka di dalam diri seseorang memang harus melalui proses yang panjang dan tidak semudah yang dikatakan oleh orang lain. Namun, hal penting yang wajib kita ketahui ialah kita harus sadar bahwa di dalam diri kita terdapat inner child yang butuh untuk diterima, dirangkul, diperhatikan dan dicintai.

Sesekali kita juga butuh berdialog dengan diri kita sendiri dan menyadari bahwa kita sudah hidup di masa sekarang dan akan melanjutkan masa depan dengan terlebih dahulu berdamai dengan masa lalu.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: kaskus.co.id

Apakah Kamu Berjiwa Solidaritas atau Bermentalitas Kepiting?

Pada saat masa sekolah atau bahkan kuliah, pasti beberapa teman kita akan mengajak teman-teman lainnya untuk tidak mengumpulkan tugas bersama-sama dengan mengatasnamakan solidaritas. Perilaku seperti ini bukannya menunjukkan kesolidaritasan, namun merupakan cara untuk menjatuhkan seorang teman karena ketidaksukaan melihat kemajuan temannya sendiri. Fenomena seperti ini biasanya disebut juga dengan crab mentality atau mentalitas kepiting.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *