Home / Lifestyle / Catcalling Bukanlah Pujian, Ia Adalah Pelecehan
Sumber Foto: The Concordian
Sumber Foto: The Concordian

Catcalling Bukanlah Pujian, Ia Adalah Pelecehan

Intan Sari

Pijar, Medan. Saat sedang berjalan sendiri melewati sekelompok orang (biasanya lawan jenis) ada ketakutan tersendiri bagi kita, khususnya perempuan. Pasalnya, kita kerap kali mendapatkan gangguan berupa sapaan, panggilan, atau siulan yang mengganggu.

Bayangkan, kamu sedang berjalan di suatu tempat, tiba-tiba kamu melewati segerombolan orang (biasanya lawan jenis) dan mereka mulai memanggil-manggil kamu atau meneriaki beberapa hal.

Teriakan yang didapat bisa bermacam-macam, mulai dari meminta kamu melihat ke arah mereka, meminta kamu tersenyum untuk mereka, bertanya kamu hendak kemana, bertanya apakah kamu ingin ditemani, meminta berkenalan, dan lain-lain.

Siulan/sapaan ini disebut catcalling. Catcalling merupakan sebuah bentuk pelecehan seksual secara verbal yang terjadi di sekitar kita, yang mana korban dari fenomena ini didominasi oleh perempuan, namun tak menutup kemungkinan laki-laki pun menjadi korban catcalling.

Apakah ini adalah sesuatu yang asing? Rasanya hampir setiap kita pernah mengalami situasi semacam ini.  Inilah yang disebut dengan catcalling. Bentuknya macam-macam, bisa siulan, panggilan, dan komentar yang bersifat seksual atau tak diinginkan dari pelaku kepada korban yang lewat. Secara lebih luas, ini merupakan sebuah street harassment atau bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat publik.

Menurut riset dari Hollaback di 42 kota di seluruh dunia, 71 persen perempuan pernah mengalami street harassment sejak usia pubertas (11-17 tahun), dan lebih dari 50 persen di antaranya termasuk pelecehan fisik. Namun, catcalling dan street harassment sendiri adalah fenomena yang masih jarang sekali diteliti dan dibahas lebih lanjut.

Sebuah survei yang dilakukan oleh kelompok dukungan bagi penyintas atau korban kekerasan seksual, Lentera Sintas Indonesia bekerja sama dengan wadah petisi daring Change.org dan media perempuan, menunjukkan bahwa pelecehan seksual secara verbal menjadi jenis kekerasan seksual paling umum terjadi.

Survei yang berlangsung sepanjang Juni tersebut berhasil menjaring 25.213 responden baik dari kota maupun kabupaten guna melihat kesadaran dan pengalaman publik tentang kekerasan seksual. Ternyata, sebanyak 58 persen pernah mengalami pelecehan dalam bentuk verbal.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: byrawpixel

Support System, Ingatlah Kamu Tidak Sendiri Di Bumi

Sebagai makhluk sosial, sudah sewajarnya individu akan melibatkan peran individu lain dalam jalan hidupnya. Perjuangan kadang membutakan setiap orang, bahwa jalan terjal yang dilaluinya memanglah dilaluinya dengan dua kaki saja. Peran sekecil apapun akan memberi dampak pada perjalanan itu, sekalipun itu hanya sekadar ungkapan mendung.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *