Home / Galeri / Duniaku yang Berbeda
Ilustrator: Erika Enjelia
Ilustrator: Erika Enjelia

Duniaku yang Berbeda

Miftahul Jannah Sima

Aku bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia lainnya, hanya manusia sepertiku yang bisa. Aku kadang kesal, suara-suara itu memenuhi isi otakku, kadang juga bisa mengintruksi gerakku. Sejak SD, aku sudah sering dirundung. Karena aku yang gemuk dan memiliki rambut yang ikal. Padahal kata Bunda, aku cantik dengan itu semua. Jadi, aku harus menutup telinga dari ejekan mereka.

Aku anak yang pemalu. Tak mudah bagiku memulai obrolan, jadi susah mendapatkan teman. Aku memiliki sahabat. Ia baik, selalu menjadi tempatku menyurahkan keluh kesahku. Berteman dengannya kumulai sejak awal memasuki bangku SMA, hanya dia temanku. Aku pun homeschooling, karena ini lebih baik untukku. Sebab aku berbeda.

Aku bingung, kenapa aku harus mengonsumsi obat-obatan? Aku tak merasa memiliki penyakit.

Tiba-tiba aku mendengar suara Bik Minah yang teriak memanggil-manggil Bunda. Aku berlari dan melihat Bunda tergeletak dengan Bik Minah yang sibuk menelpon ambulans.

“Bunda kenapa, Bik?”

“Nyonya pingsan, Non. Sebentar lagi ambulansnya  datang.”

Di sinilah aku, melihat pintu yang membatasiku dengan Bunda. Kulihat Ayah yang duduk dengan cemas. Aku pun tak kalah cemasnya. Aku sangat menyayangi Bunda. Aku tak bisa jika harus kehilangannya.

Beberapa jam kemudian dokter keluar, berbicara dengan Ayah. Kulihat ekspresi Ayah yang semakin sedih dan putus asa. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi. Samar-samar aku mendengar suara mereka lagi. Mereka selalu muncul dalam hidupku. Hanya aku, hanya aku yang bisa mendengar mereka.

“Pasti sesuatu buruk telah terjadi”

“Jangan berfikir yang aneh-aneh dulu”

“Tapi sepertinya semuanya sedang berduka”

“Tidak, Bunda pasti baik-baik saja”

“Kalau ingin tahu lihat saja”

Iya, aku harus melihat Bunda. Bunda harus baik-baik saja. Aku kemudian masuk, kulihat Bunda tertidur. Aku menggenggam tangan dingin Bunda. Kulihat kelopak mata Bunda terbuka dan kudapatkan tatapan yang kusuka, teduh, dan damai. Bibirnya yang tak pernah berkata kasar, selalu tersenyum untukku. Bunda mengangkat tangan bekas infusnya dan kemudian membelai lembut kepalaku.

“Bunda baik-baik aja, kan?”

“Bunda selalu baik, Nak. Kamu udah makan?” aku menggeleng.

“Maunya makan sama Bunda,” Kemudian aku lihat orang berseragam putih membawa Bunda.

“Bunda mau dibawa ke mana?” suster itu hanya mengelus pundakku. Memberikan senyuman, yang kurasa dengan mimik iba. Aku menjadi semangkin bingung. Kemudian aku keluar dan melihat Ayah yang menatap kosong ke depan. Ada bekas air mata di sana. Ayah terlihat sangat kacau, kurasa.

Hari suram telah berlalu. Bunda sudah sehat dan selalu menemaniku di rumah. Aku selalu berdiam di rumah dan terkadang menelpon Dinda untuk bercerita. Dinda sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku mampu berjam-jam berbicara apa saja dengannya. Saat ini, Dinda sedang berkunjung ke rumahku. Aku mengajaknya makan malam bersama Ayah dan Bunda karena ini momen spesial. Hari ini ulang tahun Bunda. Aku sangat senang karena baru ini Ayah bisa makan bersama kami lagi sejak Bunda yang masuk rumah sakit.

“Ayah, hari ini Risa seneng. Bisa kumpul seperti ini. Bisa rayain ulang tahun Bunda, bareng Dinda juga.”

Kulihat Ayah berhenti makan dan menatapku. Aku bingung dan mengeluarkan ekspresi bertanya.

“Dinda? Siapa dia?”

Aku belum mengenalkan Dinda dengan Ayah. Baru ke Bunda aku mengenalkannya.

“Ini, Yah. Namanya Dinda,” jawabku sembari merangkul Dinda. Ayah hanya menatapku dengan marah.

“Risa, habis ini minum obat, yah” ucap ayah.

“Gak mau. Risa kan udah sembuh, Yah.”

“Jadi kamu gak minum obat lagi?” aku hanya menjawab dengan anggukkan.

“Aku udah sembuh, iya kan Bunda?” tanyaku untuk meyakinkan Ayah.

Praaanngggg. Aku kaget. Ayah melempar piringnya.

“Risa, Ayah mohon. Ayah sudah lelah. Ini memang sulit untuk kita. Ayah tahu itu. Ayah juga tidak bisa terima ini. Selama ini Ayah berusaha ikhlas. Kamu tahu kan Ayah sudah hancur, hancur nak.”

Aku bingung, cemas, dan takut karena baru kali ini Ayah marah padaku. Kulihat Bik Minah berlari kecil dan mengumpulkan pecahan piring.

“Ayah kenapa marah-marah. Risa takut. Bunda….. Risa takut,” tangisku sambil memeluk bunda.

“Bunda juga kaget lihat Ayah kek gini. Ayah gak biasanya marah-marah. Malu, Yah. Di sini ada Dinda”.

“Ayah kan sudah bilang kamu harus minum obat. Biar kamu gak ngayal-ngayal seperti ini lagi Risa. Kamu harus bisa menerima kenyataan kalau Bunda udah gak ada. Bunda gak bisa selamat karena serangan jantung saat itu. Dan Dinda, dia hanya teman khayalan kamu, kamu berkhayal, itu semua hanya imajinasi, delusi. Semua ini gak nyata nak.”

“Bik, kenapa Risa gak minum obatnya lagi?” Bik Minah berdiri dengan ekspresi takut.

“Bibik selalu kasih, Tuan. Tapi Bibik ndak tahu kalau obatnya ndak diminum sama Non Risa.”

Ayah menatapku. Aku tidak mau melihatnya.

“Ambilkan obatnya, Bik”

Tiga buah obat di depanku.

“Minum obatnya.” Ayah memaksaku meminum obatnya.

“Gak mau. Aku udah sembuh. Aku gak suka obatnya. Dia buat Dinda dan Bunda gak mau datang sama aku.” marahku dengan gigi bergenelatup.

“Memang seperti itu seharusnya. Kamu harus sembuh. Biarkan Bunda tenang di sana. Selama ini, dia sudah sangat frustasi dan stres mikirin kamu. Kalau kamu sembuh pasti bunda senang. Coba kamu lawan semua halusinasi itu. Ayah sudah sangat terpukul dengan kepergain Bunda. Ayah mau kamu bisa mengerti, kamu harus minum obat biar kamu tidak selalu berhalusinasi.” ucap Ayah. Aku lihat mata Ayah yang sedikit mengeluarkan air.

“Ayah ngomong apa? Ayah salah. Ayah jahat. Aku benci Ayah.”

Aku berlari ke kamar, dan mengabaikan panggilan Ayah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah pembohong. Selama ini aku selalu bersama Bunda, makan bersama, bahkan Bunda selalu membuatkan susu coklat panas untukku. Aku menangis, memukul dadaku yang sesak. Aku benci ayah. Ayah bilang Bunda sakit karena memikirkan aku. Katanya, aku juga sakit, padahal badanku sehat-sehat saja. Lalu aku sakit apa? Apa aku sakit jiwa? Apa aku yang menyebabkan bunda pergi? Banyak lagi pertanyaan yang memenuhi otakku. Otakku benar-benar penuh..

 Lalu aku mendengarnya lagi…

“Kamu tidak ada gunanya”

“Kamu harus menerima kenyataan”

“Tidak,itu bohong. Bunda selalu ada. Dinda juga kan”.

“Kamu pecundang, kamu tidak berguna. Mati saja”

“Susul bundamu. Pergi saja. Biarkan ayahmu sendirian, ia jahat”

DIIIIIIAAAAAAAAAAAAAMMMM…..

Aku berlari, mencari gunting di laci meja belajarku. Lebih baik aku mati, lebih baik aku pergi.

“Benar, Risa. Hidup ini tidak ada gunanya. Tidak ada yang menyayangimu lagi”

“Jangan, Ayahmu pasti akan sedih jika kamu melakukannya, Bunda juga akan sedih”

“Masalahmu akan selesai jika kau pergi”

“Tidak, bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah”

HAHAHAHAHAA. Aku menangis kemudian tertawa. Kupingku berdengung,  jantungku sangat cepat berdetak, kulihat bunda tersenyum namun berubah sedih. Aku bingung. Aku menangis, meraung. Samar-samar aku mendengar suara ayah dan suara dobrakan pintu. Kulihat tetesan merah pekat di sprai ku. Menetes, membentuk gambar bunga. Satu…dua…tiga…, tetesan itu terus mengalir, tatapanku semakin kabur. Kulihat selulet lelaki. Suara kain yang disobek kudengar, kurasakan kain itu melilit tanganku. Badanku melayang. Mataku terpejam dan semuanya gelap.

Aku terbangun, aku berharap aku di surga. Tapi ternyata aku kembali ke ruang bau obat ini. Ayah di sampingku dengan rambut acak-acakan. Sepertinya Ayah tak pernah mandi. Kulihat Ayah tersenyum saat mata kami beradu.

“kamu sudah bangun nak. Maafkan ayah. Ayah janji akan selalu ada untuk Risa. Bersama-sama kita berusaha, biar Risa bisa sembuh”.

Kemudian di sinilah aku. Tempat orang sepertiku berkumpul. Kata orang waras itu, aku mengidap skizofrenia, entahlah aku tak paham penyakit apa itu. Katanya aku jadi suka berkhayal dan menganggapnya menjadi nyata. Aku hanya mengangguk dan menurut agar aku bisa sembuh. Ternyata selama ini, aku berada di dunia yang berbeda, kuanggap semuanya sesuai keinginanku. Aku memiliki sifat yang berubah-ubah, kepribadian ganda katanya. Aku ingin sembuh, agar tak menyusahkan Ayah. Aku ingin menikmati kebahagiaan dengan orang-orang yang nyata. Membuang semua bayangan kelam dan menjadi normal tentunya.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Ilustrator : Sherenika Azalia

Untukmu yang Terkasih

Malam ini awan menangis, air matanya jatuh menyapu pekat debu yang belakangan memenuhi sudut kota. Seakan tahu isi hatiku kini, hujan turun di saat yang tepat. Aku tidak sedang sedih, hanya sedang rindu, sedikit.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *