Home / Lifestyle / Onychophagia, Kebiasaan Gigit Kuku yang Berakibat Fatal
Sumber Foto: http://topcareer.id/
Sumber Foto: http://topcareer.id/

Onychophagia, Kebiasaan Gigit Kuku yang Berakibat Fatal

Nia Nuryanti Barus / Annisa Nahda

Pijar, Medan. Menggigit kuku merupakan suatu kebiasaan yang telah mendarah daging untuk sebagian orang. Banyak masyarakat yang menganggap kegiatan ini adalah sesuatu yang wajar dan sudah biasa. Namun, siapa sangka, ternyata menggigit kuku dapat mengakibatkan dampak yang membahayakan.

Kebiasaan menggigit kuku ini disebut dengan onychophagia. Biasanya penderita onychophagia tidak bisa mencegah dirinya untuk menggigit kuku atau melakukannya secara tidak sadar.

Kegiatan menggigit kuku memang memiliki sensasi kenikmatan tersendiri bagi onychophagia, tetapi kegiatan ini juga memiliki dampak buruk yang jarang diketahui. Terlalu sering menggigit kuku dapat menimbulkan sakit perut, di mana bakteri yang terdapat pada kuku bisa saja masuk ke dalam pencernaan dan menyebabkan sakit perut yang cukup serius.

Tak hanya itu, penyakit yang kedua ialah peradangan pada kuku yang dapat menyebabkan pembengkakan pada jari serta infeksi yang dapat terjadi apabila lapisan di bawah kuku yang sangat rentan terkupas dan dengan mudah dapat terserang oleh bakteri dan yang terakhir kegiatan menggigit kuku juga dapat menyebabkan pertumbuhan kuku tidak normal bahkan kuku dapat tumbuh ke dalam.

Penyebab onychophagia sendiri biasanya disebabkan dari mengikuti perilaku yang sama di dalam anggota keluarga tersebut sehingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang menular. Sedangkan penyebab lain yang menjadi pemicu dikarenakan rasa cemas yang berlebihan tentang suatu hal dan rasa bosan yang menghampiri.

Dikutip dari Journal of behaviour theraphy and experimental, kebiasaan seseorang menggigit kuku juga menunjukkan bahwa orang tersebut cenderung perfeksionis. Di mana perfeksionis ialah sifat seseorang yang menginginkan segala sesuatunya bisa berjalan sempurna sesuai dengan yang diinginkannya. Sehingga orang-orang perfeksionis yang melakukan kebiasaan ini sebagai cerminan bahwa mereka sedang menunjukkan rasa frustasinya akibat  keinginan yang tidak tercapai.

Laura, salah satu mahasiswi Universitas Sumatera Utara yang mengalami onychophagia mengatakan bahwa dia sudah terbiasa melakukan kegiatan menggigit kuku ini dari kelas V SD.

“Awalnya sih kakak saya sering dimarahi oleh orangtua karena sering menggigit kuku, lalu saya ikutan dan akhirnya pada saat kakak saya berhenti saya yang menjadi terbiasa menggigit kuku hingga sekarang sudah menjadi mahasiswa,” ungkapnya.

“Saya tahu dampak dari kebiasaan buruk ini, namun tetap saja tidak bisa berhenti padahal saya sudah sangat ingin berhenti, saya selalu saja melakukan kegiatan ini tanpa sadar biasanya saya melakukannya pada saat bosan, pada saat dosen menerangkan dan pada saat menunggu,” jelasnya.

Tetapi sobat Pijar tidak perlu khawatir karena ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebiasaan buruk ini yang dilansir dari tempo.co yaitu:

Cari tahu alasan awal dari kebiasaan anda mulai menggigit kuku mungkin disebabkan adanya kulit kuku yang robek, merasa cemas, atau bosan. Ketika Anda menyadari apa yang memicu kebiasaan menggigit kuku, ambilah jeda, tarik napas, dan segera alihkan perhatian untuk melakukan hal yang lain.

Bagi wanita dapat menjaga kuku dengan menggunakan pewarna kuku atau kuteks,. Pemakaian kuteks yang pahit juga dapat membantu menimbulkan efek jera dan enggan melanjutkan kebiasaan tersebut.

Ganti dengan kebiasaan yang baru. Seorang psikolog, Jeremy Dean, mengatakan bahwa taktik yang bagus adalah dengan mengganti kebiasaan ini dengan yang lain, seperti mengunyah permen karet, menggosokkan kedua tangan, atau memiliki semacam mainan yang dapat dimainkan dan melakukan peregangan.

Jaga kuku tetap pendek. Tidak ada yang bisa digigit, bukan? Bahkan, jika anda secara rutin mengecat kuku atau merawatnya dengan selalu memotong pendek kuku, hal ini akan menjadi pengingat bahwa Anda telah melakukan upaya untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau dan memiliki niat untuk merubah suatu kebiasaan. Dorongan dan tekat yang sangat kuat dari dalam diri menjadi faktor terkuat untuk memulai perubahan. Nah, Sobat Pijar mulai sekarang biasa kan hidup sehat dan menghilangkan kebiasaan buruk ya.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: kaskus.co.id

Apakah Kamu Berjiwa Solidaritas atau Bermentalitas Kepiting?

Pada saat masa sekolah atau bahkan kuliah, pasti beberapa teman kita akan mengajak teman-teman lainnya untuk tidak mengumpulkan tugas bersama-sama dengan mengatasnamakan solidaritas. Perilaku seperti ini bukannya menunjukkan kesolidaritasan, namun merupakan cara untuk menjatuhkan seorang teman karena ketidaksukaan melihat kemajuan temannya sendiri. Fenomena seperti ini biasanya disebut juga dengan crab mentality atau mentalitas kepiting.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *