Home / Galeri / Untukmu yang Terkasih
Ilustrator : Sherenika Azalia
Ilustrator : Sherenika Azalia

Untukmu yang Terkasih

Intan Sari

Malam ini awan menangis, air matanya jatuh menyapu pekat debu yang belakangan memenuhi sudut kota. Seakan tahu isi hatiku kini, hujan turun di saat yang tepat. Aku tidak sedang sedih, hanya sedang rindu, sedikit.

Seperti kata orang, hujan dan kenangan adalah satu paket yang sering datang bersamaan, lantas menilisik masuk memenuhi ruang pikiran seseorang. Dan orang itu adalah aku.

Aku, duduk diam menikmati bulir-bulir air yang mengeluarkan aroma petrikor di atas rumput depan rumah. Tenang, bagian paling menyenangkan dari hujan. Pikiranku menembus jauh ke belakang. Aku teringat pada seseorang yang teramat baik di muka bumi ini.

Seseorang yang setiap kali aku mengingatnya, aku jadi teringat pada Tuhan. Seseorang yang senantiasa membuatku selalu ingin mengucap rasa syukur atas hadirnya ia di sisiku. Seseorang yang wajahnya meneduhkan mata setiap kali aku memandangnya. Seseorang yang dengannya aku bisa menghabiskan waktu tanpa penyesalan.

Ya, aku tak pernah merasa sia-sia bersamanya. Menjalani hari-hari dengannya membuatku merasakan warna-warni kehidupan. Ia adalah sosok manusia penyayang yang lembut. Tapi jangan salah, jika ia sudah terluka, ia juga bisa marah dan kecewa. Itu adalah bagian yang kutakutkan. Aku selalu khawatir tiap kali sudah membuatnya marah, apalagi kecewa.

Aku tak mau kehilangannya. Aku menyayanginya, namun sampai kini aku tak dapat mengatakannya. Aku masih sering melakukan sesuatu yang tak disukainya, tak terhitung berapa kali ia terluka karenaku. Untukmu, yang mungkin sedang membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku mencintaimu sejak pertama kali aku mengenalmu.

Malam ini ia tak berkabar, sudah sejak dua hari lalu tepatnya. Ia pergi ke kota lain untuk menyelesaikan beberapa urusannya. Ia sibuk, waktunya dipadatkan oleh berbagai agenda kemanusiaan. Itu juga yang mungkin membuatku mengaguminya. Ia tak pernah bermain-main dengan waktu. Ia selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik yang dia bisa, setidaknya itulah yang kutahu selama ini.

Dia manis. Betapa tidak? Di tengah kesibukannya ia masih saja menyempatkan waktu untuk sekadar menanyakan kabarku, atau meluangkan satu hari hanya untuk sekadar jalan dan mendengarkan ceritaku.

Pesan atau dering telpon darinya adalah salah satu hadiah terindah dalam hari-hariku yang diberikan oleh Tuhan. Sesederhana apapun itu, pesannya selalu dapat membuatku tersenyum saat membacanya. Dan itu hanya berlaku untuknya, untuk setiap pesan darinya. Tidak dari orang lain.

Namun, dua hari ini..

Kemana ia? Mengapa ia tak memberitahuku kabar terbarunya di kota yang ia kunjungi itu? Tak tahukah ia bahwa di sini aku menunggunya, mengkhawatirkannya lebih tepat. Ataukah ia sudah tak mengenalku lagi? Melupakan aku? Atau bagaimana?

Ah! Pikiran itu terus berkecamuk dalam kepalaku. Aku sedang khawatir. Rindu yang terlalu lama ditabung lama-lama akan membuncah menjadi segumpal takut. Aku takut ia kenapa-kenapa, aku takut ia dalam bahaya. Di sini yang aku mampu hanya mendoakannya, meminta kepada Sang Pemilik Langit untuk senantiasa menjaganya dari marabahaya.

Kau tahu? Di zaman yang sudah serba canggih ini, ia adalah salah satu dari sedikit orang yang enggan menggunakan media sosial. Ia tak punya Facebook, Instagram, YouTube, atau bahkan WhatsApp. Kemarin sempat ada, namun tak digunakan dalam waktu yang lama.

Entahlah, aku tidak mengerti. Ia tak dapat dikatakan tua, namun ia lebih suka SMS dan telpon saja katanya. Sebenarnya ia juga suka video call, denganku. Iya, hanya denganku. Dulu. Sewaktu aku sedang di luar kota kala itu. Sekarang? Tidak lagi digunakannya semasif dulu, sebab aku kini satu kota dengannya.

Tapi bagaimana ini? Keadaannya sekarang? Aku tak tahu menahu soal itu. Yang aku tahu, tak ada pertanda buruk yang kurasakan, hanya ada sedikit kekhawatiran. Wajar, ia tak memberi kabar.

Sebenarnya seminggu lalu ia sempat mengatakan bahwa ia akan sibuk untuk beberapa hari ke depan. Ia harus menyelesaikan tanggung jawab atas pekerjaannya. Aku bisa memahami itu. Namun, malam ini. Entahlah, aku seperti benar-benar merindukannya. Suaranya, senyumnya, tatapan matanya, pelukan hangatnya, kecupannya yang selalu mendarat tepat di dahi dan rambutku, ia benar-benar sosok yang membuatku tak menyesal telah dilahirkan ke muka bumi ini.

Dulu, tiap kali aku sedang sedih, kesal, ingin marah. Ia selalu ada di sampingku, mendengarkanku lalu memelukku. Ah aku benar-benar rindu tampaknya. Aku rindu semua perlakuannya padaku.

Kini, ia sedang jauh dariku. Aku duduk menikmati hujan sendirian, tanpamu. Kamu yang biasanya menghabiskan waktu bersamaku di sini, menceritakan kenangan hingga masa depan. Meminum secangkir teh hangat bersama camilan ringan yang kita buat berdua. Momen seperti itu adalah bagian yang paling aku rindukan kini. Walau sebenarnya aku lebih rindu hadirmu.

Pernah suatu waktu aku bertanya pada Tuhan, mengapa ia hadirkan sosokmu ke dalam hidupku. Waktu itu kamu membuatku kesal. Kita berbeda pendapat. Aku menangis kala itu, tapi tidak di depanmu. Aku bertanya dalam marah pada-Nya “mengapa ya Tuhan?”

Keesokan harinya kamu mendatangiku dengan senyuman, membuatkanku sarapan yang lezat ditambah minuman hangat. Aku yang sedang kesal kala itu, seketika luluh di depanmu. Tembok keegoisan dalam diriku luntur seketika karena perlakuan baikmu padaku. Kamu mengatakan kamu menyayangiku. Hatiku seperti diaduk-aduk, aku sedih karena pertengkaran malam itu denganmu, namun aku senang karena akhirnya kita baikkan.

Kamu, memang paling bisa melunakkan kerasnya hatiku. Kamu juga yang sampai saat ini masih membersamai perjalanan hidupku, tak bosan dengan semua tingkah dan sikapku, tak pernah lelah mengingatkanku pada kebaikan. Kamu, masih menjadi orang pertama tempatku berpulang dari kerasnya perjalanan.

Dan kamu semoga baik-baik saja di sana, aku di sini mendoakanmu sama seperti kamu mendoakanku. Ada satu kalimat yang paling aku suka darimu, “jangan sedih sayang, saat jauh kita bisa terasa dekat dengan doa. Doa itu mendekatkan kita, Ibu menyayangimu, Nak. Jangan lupa berdoa ya,”

Bu, kamu adalah titipan Allah yang harus kujaga sampai nanti. Bu, tak cukup kata-kataku untuk menggambarkan betapa luar biasanya dirimu, kasih sayangmu tak terhingga sepanjang masa, Bu.

Ibu, aku mencintaimu.

Anakmu.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Jonathan Alexander

Eloknya Pemandangan

       

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *