Home / Galeri / Gadis di dalam Cermin

Gadis di dalam Cermin

Ilustrator : Erika Sihite

Salwa Salsabila

Aku menatap gadis di dalam cermin itu. Semakin ku tatap, semakin jelas. Ia tidak sesuai, ia berbeda. Ia menatapku lekat, begitu pula aku. Semakin lekat kulihat ia, semakin tampak kekurangannya. Ia tidak elok. Ia aneh. Ia begitu kuno. Wajahnya tidak masuk standar wajah yang diinginkan orang, begitu juga dirinya. Kulitnya hitam, hidungnya besar, berjerawat. Lengkap sudah. Ia minta dilenyapkan saja dari muka bumi ini.

Seberapa hebat pun usaha yang dilakukannya agar terlihat layak, semuanya sia-sia. Belum lagi cemoohan orang-orang di luar sana. Mereka pikir itu semua lucu, padahal tanpa orang-orang itu sadari, mereka menghancurkannya lebih dalam lagi, sampai ke kepingan terkecil di hatinya.

Gadis di dalam cermin itu mencoba menarik ujung-ujung bibirnya beberapa senti, berusaha menyimpulkan senyum. Dulu, ayah gadis itu mengatakan bahwa putrinya adalah yang tercantik, senyum putrinya adalah yang termanis. Tapi, gadis itu sekarang pun tersadar. Bahkan ayahnya pun berbohong.

“Aku ini nggak cantik, yahbegitu ia ingin bilang ke Ayahnya kalau ada waktu. Lalu gadis itu melenyapkan senyumnya. Ia mendekatkan diri, mencoba melihat dirinya lebih jelas. Dulu ia pikir, ia memiliki mata yang paling bagus. Namun mata yang ia lihat sekarang basah, mengisyaratkan sedih, mengasihani dirinya sendiri yang memang benar-benar terlihat menyedihkan.

Sejenak kemudian, gadis itu tertawa. Menertawakan kekurangannya, menertawakan lukanya yang kian perih. Gadis itu sadar, ia tak akan bisa menjadi seperti mereka yang ada di luar sana. Berfoto dengan percaya dirinya, tanpa takut dunia akan mengolok-olok fisiknya.

Mereka semua beruntung. Mereka semua terlahir sempurna. Mereka semua terlahir begitu indah. Mereka semua layak ada. Mereka terlihat sama dengan baju-baju masa kini yang terlihat begitu cocok dikenakan oleh mereka, dengan gaya-gaya lucu yang tidak terlihat aneh digunakan oleh mereka. Mereka semua cantik, dan tentu saja mereka memiliki keuntungan untuk itu. Mereka lebih dihargai karena tampak lebih sesuai. Mereka selalu dimaafkan karena fisik terlihat tanpa cela.

Namun, gadis dalam cermin itu…

Ia sering dibentak. Tidak ada yang berpikiran untuk menghargai gadis sepertinya. Tidak ada yang mau menjaga perasaannya. Semua perkataan orang-orang hanya akan melukainya. Sedikit, lalu sedikit, sampai akhirnya, luka itu menganga lebar. Ia menjadi bahan lelucon. Fisiknya menjadi objek komedi bagi orang-orang. Orang-orang itu tertawa, di depan gadis yang nyaris hancur. Bahkan terkadang, gadis itu ikut tertawa bersama mereka, perlahan-lahan mencoba menyetujui perkataan-perkataan mereka yang sejujurnya melukai.

Satu yang orang-orang itu lewatkan, mereka tidak akan pernah tahu, bahwa di malamnya, gadis itu selalu menatap kosong ke arah cermin besar di kamarnya. Menatapi kembali kekurangannya, menahan tangisnya walau sering gagal dihalau, dan mencoba ikhlas. Namun hasilnya nihil. Karena lelucon-lelucon mengenai dirinya terus berulang, bagai kaset rusak. Enggan berhenti. Baik dari mulut yang sama, maupun dari mulut yang berbeda, mulut orang-orang yang baru menyadarinya. Pada akhirnya, tangisan diam-diam di malam hari itu tak berhenti. Menjadi rutinitas rahasia yang hanya diketahui olehku dan gadis itu.

***

Perkenalkan, nama gadis di dalam cermin itu Dian. Nama itu diberi oleh ibunya. Ibu gadis itu terinspirasi dari nama seorang putri kerajaan Inggris yang terkenal karena kecantikan dan kebaikan hatinya. Mungkin, ibu gadis itu ingin putrinya menjadi seperti putri Inggris itu. Tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan baik hatinya.

Namun, rasanya gadis itu harus memohon maaf kepada ibunya sendiri, karena tidak bisa mewujudkan mimpi besar itu. Ia tidak memiliki keduanya, cantik ataupun hati yang baik. Ia adalah manusia yang benar-benar baru.

Lalu aku menatap gadis bernama Dian itu. Gadis dengan mata sembab itu juga menatapku balik dari cermin. Ia tampak sangat lelah. Sangat muak dengan tangisan-tangisan malam yang tak kunjung berhenti. Tapi ia tetap diam di sana, menungguku beranjak dari tempatku berdiri sekarang, tepat di seberangnya.

“Mengapa tidak bisa berhenti membenci diri sendiri?” tanyaku kepada gadis itu. Ia menatapku nanar. Lalu menunduk. Menahan tangis.

Ia menggeleng singkat. “Tidak tahu.” itu jawabnya.

Sama sepertiku, ternyata ia juga tidak tahu jawabannya. Ia tertunduk lagi, meneruskan tangis yang tadi sempat ditahannya. Ia terlihat begitu rapuh. Inginku ulurkan tangan kananku untuk membelai rambut hitamnya, namun aku mengurungkan niatku. Itu sesuatu yang mustahil kulakukan.

Aku mencoba menarik napas dalam sebelum bersuara. Namun suaraku tercekat tepat sebelum aku berhasil menyuarakannya. Aku menyadari sesuatu. Aku tidak berhak mengatakakan apa pun lagi kepada gadis di dalam cermin itu. Karena sama sepertinya, aku juga belum bisa berhenti membenci diri sendiri.

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan?” tanyaku. Ia mencoba mengusap pelan pipinya, menghapus setetes air mata yang sudah meluncur bebas dari matanya.

“Dihargai…” jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan. Tapi tetap terdengar jelas olehku.

“Diperlakukan sama, dicintai…” sambungnya. Ia menarik napas. Memantapkan posisinya, lalu kembali menjawab. “Dihargai.” suaranya sedikit sengau dan bergetar, namun ia tersenyum. Senyum yang tadi sempat sirna, kini kembali terbit, walau matanya masih basah karena air mata. Aku ikut tersenyum. Aku menyetujui jawabannya. Persis seperti yang kuingin kan.

“Kamu tahu? Kamu itu berharga. Kamu itu luar biasa. Kamu akan dihargai ketika bertemu orang-orang yang tepat. Dan percayalah, mereka bukanlah orang-orang itu,” kalimat yang kuucapkan itu membuatnya menatapku semakin dalam.

“Masih banyak orang-orang yang belum menemukanmu, namun, segera, kamu akan ditemukan oleh mereka.” aku menyelesaikannya lalu tersenyum hangat. Ia membalas senyumku sama hangatnya.

Setelah itu, ia kembali melenyapkan senyum itu, lalu menatapku lurus-lurus. Aku tahu ia masih mendengarkanku. Oleh karena itu aku melanjutkan, “Ayahmu… ia tidak berbohong. Ia bersungguh-sungguh saat mengatakan kamu cantik. Kamu cantik.” ucapku tulus.

Ia masih menatapku tanpa bergeser sesenti pun dari tempatnya, “Ayahmu akan hancur kalau ia melihat kamu menangis seperti ini. Maka berhentilah menangis dan sering-seringlah tersenyum.” Aku serius saat mengatakannya. Ayah mana yang sanggup melihat putrinya dalam kondisi serapuh ini?

Ia pun tersenyum kembali. Senyumnya, merekah makin lebar. Iya, senyum itu yang ku maksudkan.

“Terima kasih,” katanya tulus.

“Oh, tidak-tidak. Terima kasih.” Karena sudah tersenyum. Sambungku dalam hati.

“Lalu, kapan orang-orang itu akan menemukanku?” tanyanya skeptis.

“Pada saat yang paling tepat. Di saat yang tidak pernah kau duga.” jawabku yakin.

“Lalu, tentang orang yang mencintaimu, mereka sudah di sini. Ada aku, ayahmu, ibumu, dan dua adik laki-lakimu yang nakal itu. Percayalah, mereka sangat mencintaimu.” tepat setelah aku mengucapkannya, wajah ayah, ibu, dan adik-adikku terlintas juga di benakku. Oh, benar. Aku bahkan tertegun dengan kalimat yang aku ucapkan sendiri.

“Kamu mungkin tidak sempurna. Tapi, hei, lihatlah. Dengan ketidaksempurnaanmu itu masih ada yang mencintaimu, bukan? Lalu, apalagi yang kamu takutkan?” aku memberikan senyuman terbaik yang kumiliki saat menyelesaikan kalimatku barusan. Aku puas, aku lega.

Gadis dalam cermin itu mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Menyadari sesuatu. Bahwa yang dilupakannya selama ini adalah menoleh ke belakang. Ia terlambat menyadari kehadiran orang-orang yang mencintainya walau dirinya tidak elok, aneh, dan kuno. Lalu aku dan gadis di dalam cermin itu saling menatap. Mata yang dulunya kami anggap mata yang paling indah itu akan selalu menjadi terindah, maka dari itu kami sama-sama mengusap air mata yang masih bersisa di sudut mata kami. Lalu mengulur senyum tulus.

Sejak saat itu, aku dan bayanganku resmi berdamai dengan diri sendiri.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Jonathan Alexander

Eloknya Pemandangan

       

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *