Home / Hiburan / Film / Masa Muda yang Tak Akan Kembali Terulang di Reply 1988

Masa Muda yang Tak Akan Kembali Terulang di Reply 1988

Sumber Foto: http://ahgasewatchtv.com/

Salwa Salsabila

“Ternyata orang dewasa menyimpannya rapat-rapat. Mereka hanya sibuk untuk menjadi orang dewasa dan hanya bersikap kuat, karena tekanan yang ada seiring dengan usia mereka. Orang dewasa juga merasakan duka.” -Seong Duk-sun (Reply 1988)

Pijar, Medan. Berbicara tentang dunia serial pertelevisian, serial asal Korea tentu saja tidak bisa dilewatkan. Dewasa ini, serial televisi asal negeri ginseng tersebut banyak mendapat perhatian dari seluruh penikmat serial televisi di dunia. Tentu saja, Indonesia tidak pernah menjadi pengecualian untuk hal-hal seperti ini. Bahkan negara Indonesia kerap kali menjadi salah satu penyumbang penayangan terbanyak dari luar Korea.

Berawal dari gelombang hallyu yang menyapu Indonesia, hal-hal mengenai Korea tak asing lagi bagi Indonesia. Hampir seluruh masyarakat Indonesia pasti sudah pernah menikmati hal-hal berbau Korea di Indonesia. Salah satunya adalah serial televisi Korea yang akrab di sapa drakor (singkatan dari drama Korea) oleh masyarakat Indonesia. Bahkan Indonesia kerap kali ikut menyiarkan berbagai Serial Televisi Korea di stasiun televisi Nasional.

Salah satu Serial Televisi Korea yang banyak dicintai oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia, adalah Reply 1988. Tidak aneh, memang. Karena selain diperankan oleh aktor-aktor yang mumpuni, plot cerita yang tidak biasa dari drama ini mencuri perhatian seluruh penonton dari berbagai kalangan di dunia.

Reply 1988 adalah musim ketiga dari trilogi drama garapan Shin Won-ho yang mengangkat tema keluarga. Dari 2 seri “Reply” lainnya, Reply 1988 bisa dikatakan adalah yang paling sukses. Drama ini memegang rekor pencapaian rata-rata rating tertinggi untuk serial televisi kabel Korea sepanjang masa, yaitu mencapai 18,0%. Pencapaian tersebut masih mengalahkan rating yang diraih oleh “Itaewon Class” dan “Crash Landing On You”.

Drama dengan rating tinggi ini berhasil membawa penonton menuju suasana kota Seoul pada tahun 1980-an. Fokus cerita adalah tentang 5 keluarga, yang sama-sama memiliki anak berumur 18 tahun, dengan latar belakang sosial yang berbeda-beda, berusaha bertahan hidup di era krisis moneter Korea dengan saling melengkapi satu sama lainnya.

Keluarga dari Kim Jung-hwan yang merupakan keluarga yang paling mampu dari 4 keluarga lainnya, keluarga dari Seong Duk-sun yang tinggal tepat di bawah rumah dari Kim Jung-hwan, keluarga dari Choi Taek yang merupakan pemain Baduk (Catur Korea) berbakat, keluarga dari Sun-woo anak sulung yang paling berbakti dengan ibunya, dan keluarga dari Ryu Dong-ryong yang merupakan anak dari kepala sekolah dan seorang ibu karier.

Walaupun menampilkan cerita mengenai status sosial yang berbeda-beda, penulis naskah, Lee Woo-jung menjelaskan bahwa tidak ada kesenjangan sosial yang ditampilkan di dalam drama. Berbagai konflik kehidupan, persahabatan, dan cinta pertama yang dimunculkan dalam film ini sukses membuat penonton ikut terbawa ke dalam ceritanya.

Plot dari drama  yang sangat realistis dan mampu mengaduk-aduk emosi ini mengajak penonton untuk menyaksikan cerita para anak dari 5 keluarga tersebut bersahabat dan tumbuh bersama, yang menimbulkan banyak momen-momen kehidupan berharga. Tentang mimpi-mimpi anak umur 18 tahun, kenangan-kenangan masa kecil, dan cinta pertama.

Namun yang membuat penonton makin tertarik untuk mengikuti ceritanya dari awal hingga selesai adalah untuk mengungkap teka-teki yang sengaja diciptakan penulis naskah mengenai siapakah yang menjadi suami dari Seong Duk-sun. Ini berhasil menggugah rasa penasaran penonton untuk terus mengikuti cerita ini dari episode awal hingga tuntas.

Selain cerita mengenai anak-anak dari 5 keluarga tersebut, konflik keluarga juga dimunculkan kepada para orang tuanya. Hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana para orang tua selalu menyembunyikan rasa sedihnya di depan anak-anak mereka, padahal realitasnya mereka lah yang paling sering merasakan duka.

Reply 1988 adalah drama yang patut diapresiasi. Baik dari segi videografi yang diambil dengan sangat artistik dan realistis maupun dari nilai-nilai moral yang dapat dipetik. Drama ini juga dikemas dengan balutan humor-humor ringan yang akan mengocok perut penonton selagi menontonnya.

Drama ini juga menjadi pembuktian kepada masyarakat yang selalu menganggap drama Korea hanya sebatas tentang kisah cinta dari seorang konglomerat kaya raya, untuk lebih mengapresiasi keanekaragaman jenis cerita dari drama Korea. Bagaimana, tertarik untuk menontonnya?

(Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Frans Dicky Naibaho

Mahen dan Kenangan yang “Pura-Pura” Dilupakan

“Pura-Pura Lupa” yang diciptakan oleh Pica Iskandar ini berhasil menyita perhatian masyarakat. Selain karena dilantunkan oleh suara merdunya Mahen, kisah di balik lagu ini pun menoreh hati pendengarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *