Home / Hiburan / Film / Mengaduk Romansa dan Sains Fiksi dalam Supernova

Mengaduk Romansa dan Sains Fiksi dalam Supernova

Sumber Foto : http://youtube.com/sorayaintercinefilms

Azela Nurul Syaf

Pijar, Medan. Film Supernova – Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh adalah film drama Indonesia yang dirilis pada 11 Desember 2014. Bertemakan tentang romansa, psikologi, dan sains, film ini disutradarai oleh Rizal Mantovani dan diperankan oleh Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, dan Hamish Daud.

Supernova menceritakan tentang Dimas (Hamish Daud) dan Reuben (Arifin Putra) dua orang mahasiswa Indonesia yang bertemu di sebuah pesta mewah di negeri Paman Sam. Keduanya berikrar bahwa suatu hari mereka akan menulis sebuah buku, sebuah cerita roman sains yang menggerakkan hati banyak orang.

Untuk menunaikan ikrar mereka yaitu berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menyatukan pendapat dan menulis roman yang mereka beri judul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara eksekutif muda Ferre (Herjunot Ali) dan wakil pimpinan redaksi majalah wanita di Indonesia, Rana (Raline Shah) yang kemudian saling jatuh cinta. Padahal Rana telah memiliki suami bernama Arwin (Fedi Nuril). Cinta terlarang ini sama persis dengan hasil karya yang ditulis pasangan gay tersebut.

Bagaikan Kesatria dan Puteri di kerajaan cinta, kisah romantis Ferre dan Rana berlanjut semakin dalam. Ferre dan Rana tidak bisa lepas dari kekacauan cinta terlarang yang terasa benar, dan keteraturan kehidupan pribadi rumah tangga Rana dan Arwin yang baik-baik saja, tetapi terasa salah. Tokoh Bintang Jatuh bernama Diva (Paula Verhoeven) yang berprofesi sebagai pelacur kelas atas pun turut melengkapi kisah Ferre dan Rana.

Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sebuah blog puitis, romantis, dan fenomenal bernama Supernova menjadi benang perajut kehidupan nyata antara Ferre, Rana, dan Diva dengan kisah fiksi karya Dimas dan Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.

”Dia adalah cyber avatar, dia adalah turbulensi yang bisa diakses kapan saja dimana saja, dia akan mengimplikasi sistim pemahaman orang-orang tanpa hierarki, tanpa dokma apapun. Dan internet adalah teknologi yang tidak mengenal batas teritorial. Sang turbulensi, sebuah ledakan yang paling dahsyat di muka bumi. Dialah Supernova, sang cyber avatar.”

Secara keseluruhan, film yang berdurasi 2 jam 15 menit ini berhasil divisualisasikan dengan cerdas oleh sang sutradara. Meski demikian, tak bisa ditampik bila ada penonton yang kurang memahami jalan cerita film ini. Karena bukunya pun kerap mendapatkan komentar yang serupa. Tak heran jika butuh berulang kali menonton film ini agar dapat  menerima maksud yang ingin disampaikan Dee Lestari, sang pengarang novel tersebut.

Nama Dee Lestari sudah tak diragukan lagi sebagai salah satu penulis ternama di Indonesia. Setiap buku yang ia telurkan kerap terpajang di jajaran buku-buku best seller. Salah satunya adalah seri pertama Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh yang menyedot perhatian di dunia sastra, bahkan dipilih untuk ditransfomasikan menjadi film layar lebar.

Seperti apa cerita romansa bertemu sains? Seperti apakah pula novel karya Dee Lestari satu ini divisualisasikan dalam bentuk film? Sobat Pijar sudah mulai penasaran bukan? Temukan sendiri jawabannya dalam film Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

(Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Youtube Suara Disko

Bisakah “Serenata Jiwa Lara” Membangkitkan Kejayaan City Pop?

Diskoria dengan single keduanya yang berjudul "Serenata Jiwa Lara" sukses menarik perhatian banyak kalangan dengan dibuktikan oleh jumlah penonton yang mencapai lebih dari 3,5 juta sejak perdana tayang pada 17 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *