Home / Lifestyle / Kenali dan Atasi Bystander Effect dengan Cara Sederhana

Kenali dan Atasi Bystander Effect dengan Cara Sederhana

Sumber Foto: ibunda.id

“The world will not be destroyed by those who do evil, but by those who watch them without doing anything” (Dunia tidak akan dihancurkan oleh mereka yang melakukan kejahatan, tetapi oleh mereka yang menyaksikannya tanpa melakukan apa-apa) – Albert Einstein.

Esra Natalia / Frans Dicky Naibaho

Pijar, Medan. Pada suatu insiden kecelakaan, apakah kamu akan memilih membantu korban atau hanya diam saja menunggu orang lain untuk mengambil tindakan? Jika kamu memilih menunggu orang lain maka kamu terkena efek saksi (bystander effect).

Bystander effect merupakan suatu fenomena di mana seseorang hanya mengamati lalu mengurungkan niatnya untuk membantu saat ada yang memerlukan bantuan. Ini dikarenakan anggapan bahwa akan ada orang lain yang menolong dan memberi bantuan. Mungkin tidak masalah jika satu orang saja yang berpikir demikian. Namun, jika setiap orang yang lewat memiliki pemikiran yang serupa akan berujung tidak ada satu pun orang yang akhirnya memberi bantuan.

Istilah bystander effect pertama kali muncul akibat kasus yang dialami oleh seorang wanita bernama Catherine Genovese pada 13 Maret 1963 di New York. Dilansir dari The Guardian, dijelaskan bahwa Genovese yang baru saja pulang bekerja sebagai manajer sebuah bar di New York sedang berjalan dari mobilnya menuju gedung apartemen tempat ia tinggal. Seorang lelaki  bersenjatakan pisau mulai mendekati dan mengejarnya, namun Genovese langsung berlari dan mulai berteriak meminta tolong.

Lampu-lampu apartemen mulai menyala dan orang-orang melihat keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Lelaki itu berniat untuk pergi, tetapi ketika ia melihat tidak ada yang datang untuk membantu Genovese, ia kembali mengejar Genovese dan membunuhnya. Seakan orang-orang yang berada di apartemen hanya menjadi penonton. Kejadian tersebut disaksikan oleh tiga puluh delapan orang, tetapi tidak satu pun dari mereka yang mengambil tindakan walau hanya untuk sekadar menghubungi polisi.

Peristiwa tersebut berujung pada John Darley dan Bibb Latane, ahli psikologi sosial mulai melakukan penelitian dan pembentukan teori mengapa hal tersebut dapat terjadi. Darley dan Latane berasumsi bahwa kegagalan bystander untuk memberi tanggapan pada dasarnya bukan karena mereka tidak peduli terhadap korban, tetapi karena ada hal yang membuat mereka ragu-ragu.

Bystander gagal memberi respons pada keadaan darurat apabila terjadi penyebaran tanggung jawab. Dengan kata lain, makin banyak saksi yang ada, makin berkurang rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri pada keadaan darurat tersebut. Jumlah tanggung jawab yang diasumsikan oleh bystander pada suatu keadaan darurat dibagi di antara mereka. Jika hanya ada satu bystander pada suatu keadaan darurat, maka orang itu menanggung keseluruhan tanggung jawab. Namun jika ada 100 bystander pada suatu keadaan darurat, maka masing-masing orang menanggung satu persen tanggung jawab.

Ketika kita benar-benar dihadapkan pada keadaan darurat tersebut, situasinya tidak sesederhana itu. Selain adanya difusi tanggung jawab yang terjadi, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana setiap individu akan merespons. Respon setiap orang sangat dipengaruhi oleh kesadaran, pengetahuan, keterampilan, dan keputusan masing-masing individunya.

Seseorang mungkin saja memiliki niat untuk membantu. Namun, berbagai hal membuatnya menjadi enggan untuk bertindak. Pertolongan yang hendak diberikan dapat dihambat oleh rasa takut terhadap adanya konsekuensi negatif yang potensial. Sehingga untuk beberapa alasan, saksi mungkin memutuskan untuk menahan diri dan menghindari resiko untuk mengambil tindakan dalam hal menolong korban pada saat keadaan darurat.

Perlu bagi kita untuk mengatasi bystander effect. Sebagai insan yang hidup berdampingan dengan orang lain, memiliki empati dan simpati sangatlah penting. Usaha untuk mengatasi bystander effect dapat dilakukan mulai dari hal sesederhana membantu orang tua yang hendak menyeberang jalan. Dalam menghadapi bystander effect juga perlu adanya keberanian dalam menginisiasi dan memulai terlebih dahulu.

Bystander effect hadir untuk menjelaskan kepada setiap orang bahwa tidak perlu ragu untuk menolong karena menjadi yang pertama memberi bantuan bukan hal yang buruk.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: kaskus.co.id

Apakah Kamu Berjiwa Solidaritas atau Bermentalitas Kepiting?

Pada saat masa sekolah atau bahkan kuliah, pasti beberapa teman kita akan mengajak teman-teman lainnya untuk tidak mengumpulkan tugas bersama-sama dengan mengatasnamakan solidaritas. Perilaku seperti ini bukannya menunjukkan kesolidaritasan, namun merupakan cara untuk menjatuhkan seorang teman karena ketidaksukaan melihat kemajuan temannya sendiri. Fenomena seperti ini biasanya disebut juga dengan crab mentality atau mentalitas kepiting.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *