Home / Hiburan / Buku / Merah itu Cinta, Menguak Merah dalam Kisah Berbeda

Merah itu Cinta, Menguak Merah dalam Kisah Berbeda

Sumber Foto: montasefilm.com

Mhd Abdul Fattah

“Merah. Bukan perempuan atau laki-laki. Merah, bukan darah, tidak juga berarti luka. Merah itu cinta dan kebahagiaan. Bayangan tentang masa depan yang memerahkan pipinya. Mendengar jawaban yang dinanti membuat dirinya begitu merah.”

Pijar, Medan. Cinta, tidak habis-habisnya mewarnai hidup manusia, karena diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk memberi sedikit rasa manis dalam kehidupan. Namun tak selamanya cinta berasa manis, seperti kopi yang terasa pahit tapi akan tetap diseruput habis karena memiliki rasa nikmat tersendiri. Namun cinta itu berarti dan membawa kebahagiaan bagi mereka yang merasakan, begitu katanya.

Cinta itu merah atau merah yang berarti cinta? Entahlah, yang pasti kisah cinta di balik novel ini akan membuat kita merasakan merah. Sebelum kita mencoba untuk memerahkan perasaan untuk membaca, ada baiknya diketahui bahwa kisah cinta yang rumit dibalik Merah itu Cinta merupakan hasil karya FX Rudy Gunawan. Melalui Penerbit Gagas Media pada tahun 2007, novel ini dapat diterima pembaca yang cukup baik dibuktikan dengan adanya beberapa novel yang mengalami cetak ulang berkali-kali.

Sebagai penulis tentu saja kemampuan FRG tidak diragukan lagi. Ia telah menghasilkan sejumlah novel termasuk Mata yang Malas dan 107.8 FM: Radio Negeri Biru. Bahkan Rudy juga telah menghasilkan novel adaptasi skenario  film seperti Tusuk Jelangkung, Bangsal 13, Mirror, dan Realita Cinta Rock n Roll. Tapi dalam novel Merah itu Cinta ini FRG tidak bisa membebaskan diri dari batasan skenario film. Ya, sebelum dibukukan, Merah itu Cinta sudah dibuat filmnya melalui racikan Nova Riyanti Yusuf dengan judul yang sama. Walaupun pada nyatanya tidak bisa booming seperti film cinta pada umumnya.

Mengangkat hal tabu yang dibahas di Indonesia, FRG dinilai cukup berani memasukkan unsur LGBT ke dalam novel ini. Mungkin hal tersebutlah yang membuat filmya tidak selaris novelnya. Namun dengan digabungkan dalam cerita cinta pada umumnya, membuat hal tabu seakan tertutupi di dalam novel.

Dikisahkan tentang kehidupan wanita bernama Raisa yang memiliki kekasih bernama Rama. Semua diawali dengan warna merah, Raisa sama seperti Rama yang nyaris fanatik dan terobsesi pada warna merah dan putih. Pertemuan mereka pun dikarenakan Rama yang sangat menyukai warna merah rambut Raisa dengan memotretnya secara terang-terangan. Lelaki itu juga mengenakan kaus oblong merah, begitulah awal perkenalan mereka hingga timbul benih cinta Raisa kepada Rama yang tumbuh dengan cepat. Semua dimulai dari merah.

Merah. Ya cintanya pada Rama adalah cinta yang merah. Cinta yang menyala. Cinta yang berani. Cinta yang menantang. Cinta yang penuh gairah dan siap berkorban untuk menggapai kebahagiaan.”

Jika kalimat di atas menggambarkan merahnya cinta Raisa pada Rama, namun berbanding terbalik dengan kisah yang disajikan. Merah itu kebahagiaan yang dapat berubah menjadi tragedi dan menghasilkan duka, sehingga perlu adanya perjuangan untuk menerima kenyataan bahwa Rama telah meninggal dunia. Sampai akhirnya pengakuan pahit Arya yang merupakan kekasih homo Rama selama bertahun-tahun yang berharap Raisa akan kembali menjadi dirinya yang tangguh dan memiliki harapan.

Sedikit gila memang, namun apabila membacanya seakan menemukan titik balik dari seorang Arya yang memiliki perasaan cinta pada Raisa, meskipun tak bisa dipungkiri karena ditemukannya sosok Rama pada diri Raisa.

Secara keseluruhan, FX Rudy Gunawan ingin menyampaikan imajinasi yang ada di pikirannya tentang bagaimana realitas masa kini soal percintaan. Banyak remaja sebagai pembaca yang sering kali menjadikan dirinya sebagai korban dari kata cinta. Padahal cinta itu bukanlah hanya kata yang terucap dari bibir, melainkan perasaan yang timbul karena adanya suatu tekad untuk membentuk sebuah hubungan, di dalamnya terdapat kejujuran satu sama lain sebagai pondasi utama.

Sebagai sebuah novel, Merah itu Cinta juga tentu memiliki kekurangan. Salah satunya yaitu bahasa yang digunakan tidak seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia, karena masih banyak ditemukan ejaan asing di dalam novel. Selain itu juga, isi cerita tidak berjalan sempurna dikarenakan penulis tidak menyelesaikan akhir ceritanya. Sehingga para pembaca akan memikirkan akhir cerita Arya yang meninggalkan Raisa. Namun, tidak serta merta menjadi alasan untuk tidak membacanya. Karena dengan adanya alur cerita yang menjadi teka-teki sepanjang chapter, membuat pembaca jadi penasaran untuk mengetahui bagaimana kelanjutan cerita sehingga membaca sampai habis.

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: www.instagram.com

The Devil All The Time Ungkap Sisi Gelap Sifat Manusia

Netflix Original Movie terbaru berjudul The Devil All The Time, berdasarkan novel karangan Donald Ray Pollock dan arahan Sutradara Antonio Campos ini mulai tayang di layanan streaming Netflix pada 16 September 2020 lalu. Film ini ramai menjadi perbincangan, karena dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti, Tom Holland (Spiderman Far From Home), Bill Skarsgard (Hemlock Grove), Robert Pattinson (The King), Sebastian Stan (The Martian), Riley Keough (Earthquake Bird), Jason Clarke (Mudbound), Haley Bennet (The Red Sea Diving Resort), Harry Melling (The Old Guard) dan Eliza Scanlen (Little Women).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *