Home / Lifestyle / Tsundoku: Membeli Buku Dahulu, Membaca Kemudian
Sumber Foto: Azka Fikri
Sumber Foto: Azka Fikri

Tsundoku: Membeli Buku Dahulu, Membaca Kemudian

Azka Fikri

Pijar, Medan. Bagi sebagian orang membaca buku adalah sebuah hobi. Sehingga ketika bepergian ke mana pun pasti ada saja buku yang ia bawa atau ketika pergi ke toko buku pasti ada saja buku yang ia beli.

Teruntuk penggemar buku, siapa pun pasti akan tergoda untuk membeli buku ketika sedang jalan-jalan di toko buku. Terlebih ketika ada pameran buku, para penggemar buku semakin menggila untuk memborongnya.

Natasia Fergina, mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU) ini termasuk orang yang sering membeli buku. Ia mengaku hobi membaca buku semenjak duduk di bangku SMP. Koleksi bukunya pun beragam, mulai dari komik, novel, self improvement, dan lain-lain, baik terbitan Indonesia maupun luar negeri.

Tak tanggung-tanggung, ia bahkan pernah membeli hingga 10 buku sekaligus yang menghabiskan uang Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Alasan ia membeli pun beragam, mulai dari  sampul buku yang menarik hingga buku tersebut bagus secara isi. Total buku  yang ia koleksi kini berkisar 100-an judul. Buku-buku tersebut biasanya ia beli di toko buku, pameran buku atau bahkan melalui bursa buku daring.

Ketika duduk di bangku SMP dan SMA, Natasia sanggup menghabiskan 1 buku dengan cepat dalam waktu 3 jam saja. Namun, saat ini ia mengatakan, untuk membaca sebuah buku tergantung dari mood ataupun kesibukannya selama kuliah. Ia pun mengatakan bahwasanya lebih penting mengoleksi buku dahulu, ketimbang segera membacanya.

“Sekarang aku gitu, beli banyak buku tapi belum sempat buat baca. Bacanya itu enggak aku targetin kayak dulu waktu SMP-SMA jadi aku sesuaikan sama mood  dan kesibukan aku yang sekarang aja,” katanya saat dihubungi reporter (20/5).

Saat ini masih banyak buku yang ia miliki tertumpuk di rak buku miliknya. Bahkan buku yang berjudul “The Emotional Healthy Woman” karangan Geri Scazzero dengan Peter Scazzero yang ia beli pada bulan Juli 2019 belum kunjung ia baca sampai saat ini dan ada belasan buku lainnya yang memiliki nasib serupa. Tetapi, ia juga sering membagikan koleksi bukunya kepada orang lain, ketika ia sudah selesai membacanya atau merasa bosan dengan buku miliknya.

Membeli buku dahulu, membaca kemudian, diutarakan bagi mereka yang hanya menimbun buku koleksinya, tanpa membacanya. Dalam budaya Jepang, istilah ini disebut “Tsundoku”.

Dikutip dari laman Open Culture, istilah “tsundoku” (???) diketahui berasal dari zaman Meiji (1868-1912).  Tsundoku merupakan umpatan dalam bahasa Jepang yang berasal dari gabungan kata (?????) “tsunde-oku”  (menumpuk dan meninggal) dan kata (??) “dokusho” (membaca buku). Kemudian kata “oku” (??) berubah menjadi “doku” (?) yang berarti membaca. Namun, karena “tsunde doku” sangat canggung di lidah, akhirnya frasa ini diganti menjadi “tsundoku”

Menurut Ephrat Livni dalam tulisannya berjudul “There’s a word in Japanese for the literary affiction of buying books you don’t read” di Quartz edisi 8 Oktober 2016, dituliskan bahwasannya tsundoku adalah penimbunan buku yang tak pernah dibaca.

Ungkapan lain yang memiliki arti kurang lebih sama dengan “Tsundoku” adalah “Bibliomania”. Lorraine Berry, seorang blogger asal Inggris mengulas istilah “Bibliomania” dalam artikelnya di The Guardian yang berjudul “Bibliomania: The Strange History of Compulsive Book Buying” (26/01/17).

Mengutip isi buku Bibliomania, or Book Madness A Bibliographical Romance karya Thomas Frognall Dibdin, Berry mengatakan pada awalnya kebiasaan mengoleksi buku merupakan hal biasa yang dilakukan para pria di Inggris. Namun, seiring berjalannya waktu kebiasaan tersebut berubah menjadi semacam sikap obsesif untuk mengumpulkan buku terus-menerus.

Perilaku Tsundoku dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, berikut kutipan dari infografis alinea.id yang berjudul “Perilaku Tsundoku”.

  1. Tsundoku lebih sering terjadi untuk jenis buku fiksi
  2. Ada bursa buku murah yang mendorong orang beli buku
  3. Mengoleksi buku dianggap sebagai kebanggan dalam pergaulan sosial
  4. Buku dianggap sebagai ukuran tingkat intelektual

Faktor di atas inilah yang memicu seseorang untuk membeli buku tetapi entah kapan membacanya atau malah sama sekali tidak dibaca dan hanya menjadi pajangan pada rak buku miliknya. Nah, Sobat Pijar mulai sekarang jangan biarkan bukumu tertumpuk sia-sia tanpa di baca sama sekali ya. Yuk baca buku Sob!

(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: kaskus.co.id

Apakah Kamu Berjiwa Solidaritas atau Bermentalitas Kepiting?

Pada saat masa sekolah atau bahkan kuliah, pasti beberapa teman kita akan mengajak teman-teman lainnya untuk tidak mengumpulkan tugas bersama-sama dengan mengatasnamakan solidaritas. Perilaku seperti ini bukannya menunjukkan kesolidaritasan, namun merupakan cara untuk menjatuhkan seorang teman karena ketidaksukaan melihat kemajuan temannya sendiri. Fenomena seperti ini biasanya disebut juga dengan crab mentality atau mentalitas kepiting.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *