Home / Hiburan / Buku / Sebelas Lagu yang membalut Sebelas Cerita di Buku 11:11
Fotografer: Frans Dicky Naibaho
Fotografer: Frans Dicky Naibaho

Sebelas Lagu yang membalut Sebelas Cerita di Buku 11:11

Sulisintia Harahap

“… Orang bilang, jodoh takkan ke mana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan ke mana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap. Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi.” – hal. 30

Pijar,  Medan. Alam semesta begitu luas. Makhluk yang mendiaminya juga begitu banyak. Begitu pun cerita yang ada pada setiap makhluk, tempat, bahkan waktu yang terus berjalan. Perjalanan hidup yang lalu, dijadikan sebuah sejarah yang diambil pelajarannya. Perjalanan hidup di masa sekarang, dijadikan sebuah rencana untuk menuju masa depan. Dan perjalanan hidup di masa depan, dijadikan sebuah wadah untuk menikmati segala masa yang telah terjalani.

Sebuah perjalanan hidup, akan ada ketika diceritakan. Dalam bentuk apa pun kita menceritakannya. Baik bercerita langsung secara blak-blakan, bercerita lewat catatan pengisi buku harian, atau bahkan bercerita lewat rangkaian kata-kata puitis yang teralun sebagai lirik dalam sebuah lagu.

Begitulah sekilas gambaran buku 11:11 karya Fiersa Besari ini. Kumpulan sebelas cerita dengan sebelas lagu yang mewakili setiap ceritanya. Ibarat sebuah film yang tentu memiliki soundtrack yang melengkapinya.

Buku kelima dari penulis yang akrab disapa Bung ini merupakan Albuk (album buku) keduanya setelah Albuk pertama yang berjudul Konspirasi Alam Semesta. Jauh berbeda dengan Albuk keduanya, Bung tidak mengaitkan cerita pada satu bab dengan bab lainnya seperti pada Albuk pertamanya. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek (cerpen) yang memiliki cerita berbeda pada setiap babnya.

Buku dengan tebal 302 halaman ini, hanya terdapat sebelas sub judul yang tidak saling berkaitan. Sebelas sub judul itu adalah Ainy, Melangkah Tanpamu, Acak Corak, Home, Samar, Temaram, Kala, Glimpse, Harapan, I Heart Thee dan Senja Bersayap.

Bung mengemas setiap ceritanya dengan imajinasi yang melanglang buana. Bagaimana tidak, pada bagian cerita sub judul Samar, imajinasi Bung sampai pada negeri kayangan dengan segala keajaibannya. Belum lagi pada Dunia Kala yang bercerita tentang masa depan dengan segala kecanggihannya dan manusia yang bukan hanya beraktivitas di bumi namun sudah sampai ke planet Mars.

Sepertinya, tantangan menggambarkan cerita yang terasa nyata tidak mempersulit Bung sama sekali. Apalagi cerita dengan memadukan science-fiction, sukses membuat pembaca membayangkan hal semu namun terlihat nyata.

Tak dapat dipungkiri, sebuah cerita tanpa balutan kisah cinta rasanya seperti ada yang kurang. Seperti pada kutipan yang mengawali tulisan ini, kutipan itu sedikitnya dapat menggambarkan sebagian isi buku ini.  Karena sobat Pijar akan menemukan kutipan tersebut terlebih dahulu di bagian belakang cover buku ini.

Pada buku ini, Bung merangkai kisah cinta bukan hanya sekadar romansa para pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih di sebuah taman. Akan tetapi lebih dari itu, mulai dari kisah cinta sebuah keluarga, kisah cinta beda dunia, kisah cinta sejati namun melayang diterpa takdir, sampai pada kisah keterpurukan seseorang saat cinta pergi dan tak kembali.

Seluruh cerita digambarkan Bung seolah nyata. Bermain dengan kata-kata membuat imajinasi pembaca pun ikut bermain pada rekaan khayalan yang terasa begitu nyata. Apalagi dengan alunan musik pada lagu  yang menyertai setiap cerita. Karena itu juga, sobat Pijar tidak akan merasa bosan dengan setiap cerita yang ada. Rasanya ingin cepat menghabiskan setiap lembarnya hingga selesai pada lembar terakhir buku.

Ya, setiap lagu itulah yang menjadi keunikan tersendiri pada buku yang terbit di dua tahun silam ini. Jika sobat Pijar membeli buku ini, maka akan mendapatkan sebuah CD player dan sebuah artwork (semacam kertas foto), serta catatan cara untuk menikmati buku sambil tenggelam mendengarkan lagu-lagunya di pembatas buku ini. Namun jika sobat Pijar sedikit malas untuk memutar CD player-nya, Bung sudah meletakkan gambar QDR di setiap akhir cerita yang bisa sobat Pijar scan untuk mendengarkan lagunya.

Tenggelam dalam cerita dan lagu pada buku ini, sangat cocok untuk menemani waktu luang sobat Pijar selama di rumah aja. Tertarik untuk membacanya?

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Fotografer: Frans Dicky Naibaho

Mahen dan Kenangan yang “Pura-Pura” Dilupakan

“Pura-Pura Lupa” yang diciptakan oleh Pica Iskandar ini berhasil menyita perhatian masyarakat. Selain karena dilantunkan oleh suara merdunya Mahen, kisah di balik lagu ini pun menoreh hati pendengarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *