Home / Jalan-Jalan / Bolu Kemojo, Si Hijau Manis dari Tanah Melayu

Bolu Kemojo, Si Hijau Manis dari Tanah Melayu

Sumber Foto: sajiansedap.grid.id

Patricia Astrid

Pijar, Medan. Bagi kalian penikmat jajanan tradisional khususnya kue basah, pasti sudah tidak asing lagi dengan kue tradisional khas Melayu Riau yang satu ini. Bolu Kemojo merupakan satu dari banyaknya makanan khas Melayu yang gemar dikonsumsi berbagai kalangan masyarakat. Bolu Kemojo atau yang kerap disebut bolu kojo ini berasal dari kata ‘kamboja’ atau bunga kamboja dikarenakan bentuknya yang menyerupai bunga kamboja.

Hidangan tradisional yang satu ini memiliki tekstur yang unik, yaitu sedikit padat dan basah di dalamnya. Berbeda dengan layaknya tekstur kue bolu pada umumnya yang ringan dan lembut, bolu kemojo memberikan rasa manis yang berpadu dengan aroma telur dan tekstur sedikit padat.

Meskipun memiliki bentuk yang unik dan rasa yang khas, namun siapa yang menyangka bahwa hanya dibutuhkan beberapa bahan saja untuk membuat kue tradisional yang selalu dihidangkan di perayaan adat ini. Tepung, gula pasir, telur, daun pandan, dan santan adalah lima kunci dalam membuat bolu kemojo. Daun pandan yang dicampur dengan air daun suji merupakan kunci dibalik warna hijau yang ada pada warna bolu. Kelima bahan itu kemudian dicampur dan diaduk di dalam wadah, lalu dimasukkan ke dalam loyang yang berbentuk bunga kemboja agar dilanjutkan ke tahap akhir yaitu tahap pemanggangan.

Proses pembuatan bolu kemojo ini tergolong mudah dan cepat, namun siapa sangka bahwa untuk melalui proses pemanggangan dibutuhkan teknik-teknik tertentu agar bolu kemojo dapat matang secara sempurna. Sebagai contoh, ketika kita hendak memanggang bolu, harus dipastikan bahwa alat pemanggang sudah dalam keadaan yang panas. Kemudian, dalam proses pemanggangannya pun kita harus memperhatikan api yang digunakan. Api tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil karena akan mempengaruhi tekstur dan tingkat kematangan bolu. Sebelum itu, cetakan pemanggang pun harus dipanaskan selama kurang lebih 15-20 menit dan dioleskan mentega agar menghindari adonan menjadi lengket saat pemanggangan dan bentuk bolu menjadi rusak.

Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula variasi dalam membuat hidangan-hidangan tradisional. Seperti halnya bolu kemojo yang biasanya dibuat dengan cara dipanggang, namun sekarang sudah banyak ditemukan bolu kemojo dengan cara dikukus. Rasanya tidak jauh berbeda dengan bolu yang dipanggang, yang membedakan hanyalah bagian bawah bolu yang cenderung sedikit gosong atau berwarna kecoklatan jika dipanggang. Sekarang, bolu kemojo juga tersedia dalam berbagai varian rasa seperti coklat, keju, durian, jagung, dan lain-lain.

Masyarakat Melayu hingga saat ini masih menjunjung tinggi adat dan budaya mereka. Hidangan bolu kemojo ini masih sering disediakan dalam setiap acara adat dan biasanya bolu kemojo dibuat dalam jumlah yang banyak untuk dibagikan ke tetangga sekitar yang melambangkan sisi gotong royong.

Hingga saat ini bolu kemojo masih menjadi salah satu ikon kuliner yang selalu dijadikan buah tangan oleh para wisatawan yang datang berkunjung ke Riau. Jadi, apakah Sobat Pijar tertarik untuk mencoba kue tradisional yang satu ini?

(Editor: Muhammad Farhan)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: Dokumentasi pribadi

Kreasi Mi dari Durian dalam Cita Rasa Mi Bolang

Mi Bolang bukanlah mi si anak-anak nusantara yang suka berpetualang itu. ‘Bolang’ sendiri merupakan akronim dari kata ‘biji durian, andaliman, dan bunga telang’. Meskipun begitu, penggagas dari Mi Bolang ini adalah pemuda-pemudi asal Medan, yaitu Fany, Annisa, Rizka, Andima dan Zulfaijal.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *