Home / Berita / Mengolah Hasil Riset untuk Menulis

Mengolah Hasil Riset untuk Menulis

Sumber Foto: Instagram @idntimes

Rizha Ananda

Pijar, Medan. Penulis yang baik harus dapat mengawali proses kreatif dan mengolah gagasan lewat riset. Kali ini IDN Times menyelenggarakan Indonesia Writers Festival 2020 melalui platform Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube IDN Times pada Sabtu (26/09) pukul 16.00 WIB dengan mengusung tema ‘Riset Dalam Penulisan Novel’.

Acara yang berlangsung secara virtual ini sudah dimulai sejak tanggal 21-26 September, dan pada hari Sabtu lalu menjadi hari terakhir penyelenggaraan Indonesia Writers Festival 2020. Acara yang dipandu oleh Stella Azasya sebagai moderator, menghadirkan sosok pembicara yang sangat berkompeten yaitu Agus Noor selaku sastrawan, novelis, dan cerpenis. Bersama Agus Noor, ia membahas banyak hal yang berkaitan dengan dunia kepenulisan, salah satunya mengenai pentingnya melakukan riset sebelum menentukan sebuah cerita.

Cukup banyak anak muda yang masih bingung untuk memulai langkahnya dalam menulis sebuah cerita. Belum lagi ada yang merasa buntu dalam melanjutkan cerita karena kehabisan ide, baik itu cerpen maupun novel. Maka melakukan riset adalah langkah yang tepat untuk masalah-masalah tersebut. Memangnya menulis fiksi itu juga memerlukan riset? Jawabannya adalah ya!

Riset dalam kepenulisan novel lebih mengarah pada bagaimana cara kita bermain dengan fakta, mempertajam fakta, mempertanyakan fakta, dan mengungkapkan fakta hingga memunculkan suatu gagasan dan ide untuk menentukan sebuah cerita.

Sebelumnya, kita juga sudah harus mempunyai bayangan dan asumsi terlebih dahulu sebelum melakukan sebuah riset. Kemudian hal yang harus kita kembangkan pada diri kita adalah kepekaan, rasa empati, dan perasaan ketika sedang menghadapi fakta-fakta yang akan kita dapatkan saat sedang melakukan riset lapangan.

Kepekaan yang dimaksud adalah seperti membaca ekspresi, tatapan mata, dan getar suara lawan bicara sehingga kita menemukan titik pandang yang unik dari orang yang ingin kita jadikan tokoh dalam cerita. Di sinilah peran penting riset dalam menulis novel. Pada titik ini juga, kita bisa menjadikan keunikan hasil riset sebagai salah satu sifat atau ciri tokoh yang nantinya dapat diingat oleh para pembaca. Contohnya, seperti barang yang identik, sifat mencolok, atau kebiasaan yang tidak biasa dari tokoh cerita.

Hal terpenting sebagai seorang periset adalah harus memiliki pemikiran yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Dengan demikian, para pembaca akan bertanya-tanya tentang bagaimana sang penulis dapat berpikiran sejauh dan masuk akal seperti itu. Karena sikap dan cara pandang seseorang terhadap dunia itu adalah hal yang menuntutnya dalam menentukan sebuah cerita. Maka tak heran jika setiap penulis memiliki keistimewaannya masing-masing.

“Periset harus berperan menjadi seorang teman kepada seseorang yang menjadi narasumber untuk tokohnya. Selain itu, periset juga dapat menjalin hubungan untuk membuat lawan bicaranya menjadi nyaman dan terbuka sehingga perasaan tersembunyi dari lawan bicara itu dapat digali,” ungkap Agus Noor.

Acara Indonesia Writers Festival 2020 ini berlangsung dengan lancar. Para peserta juga antusias dalam memeriahkan seluruh rangkaian acara yang juga membuka sesi tanya jawab, sekaligus menjadi penutup untuk acara tersebut.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: Elshinta.com

Peran Dokter di Masa Pandemi dalam Peringatan Hari Dokter Indonesia

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 24 Oktober diperingati sebagai ‘Hari Dokter Indonesia’. Hari besar ini diadakan dengan maksud untuk mengingat jasa para dokter kepada masyarakat luas dan juga individu. Di masa pandemi ini, kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada para dokter yang saat ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi Covid-19. Dengan tekad dan jasa mereka, masyarakat Indonesia yang terkena Covid-19 pun banyak yang tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *