Home / Olahraga / Belajar Beladiri Kuno dengan Aikido

Belajar Beladiri Kuno dengan Aikido

Sumber foto: https://satujam.com/

Asti Febriana

Pijar, Medan. Pecinta bela diri tentu sudah tidak asing lagi dengan aikido, olahraga ini bela diri tradisional dari Jepang yang sifatnya bertahan. Berbeda dengan bela diri pada umumnya yang lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fisik dan kecepatan, aikido lebih memfokuskan latihannya pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik. Aikido tidak mengutamakan kekuatan otot, melainkan sebaliknya untuk melatih kelenturan badan dan fokus.

Kata “Aikido” merupakan bahasa jepang yang berasal dari tiga huruf kanji, ? – ai (bergabung, menyatukan, menyelaraskan) ? – ki (jiwa, energi kehidupan) ? – d? (jalan, cara). Kata aikido didapat dari sekolah pertama bela diri milik Morihei Ueshiba dengan nama “Ueshiba Ryu Daito Aiki Jutsu” yang kemudian berubah menjadi  “Aiki Budo” lalu akhirnya disempurnakan dengan nama “Aikido”. Morihei Ueshiba lah yang menjadi penemu seni bela diri aikido, beliau kelahiran 14 Desember 1883 dan wafat pada 26 April 1969.

Morihei Ueshiba atau yang biasa disebut O-Sensei (Guru besar) ini telah mengajarkan ilmu seni bela diri aikido kepada seluruh muridnya yang lalu disebarluaskan ke mancanegara. Aikido di Indonesia dibawa masuk oleh Jozef Poetiray pada akhir tahun 1969, beliau merupakan Ketua Dewan dari Yayasan indonesia Aikikai (YIA) yang didirikan pada 28 Oktober 1983.

Seni bela diri Aikido ini memiliki sebuah kebiasaan atau tradisi untuk sebelum memulai latihan, yaitu “seiza”. Artinya, duduk bersimpuh dengan kedua kaki di lipat ke belakang, lalu dilanjut dengan melakukan penghormatan kepada lawan, barulah mereka dapat memulai latihan. Jenis bela diri aikido ini untuk perkelahian jarak dekat dan cepat, yang memiliki 2 teknik dalam gerakannya:

  1. Teknik kunci (katame waza)
  2. Teknik banting (nage waza)

Kedua teknik ini saling bergandengan dan mudah dipelajari untuk semua golongan. Gerakan yang lembut tidak membutuhkan tenaga yang besar untuk menjatuhkan lawan, aikido tidak mengajarkan pukulan ataupun tendangan, melainkan bagaimana bergerak dalam menghadapi serangan. Dari semua gerakan bela diri aikido hampir tidak pernah mundur dalam mengatasi berbagai jenis serangan lawan, gerakannya cenderung melingkar dibandingkan lurus, inilah yang menjadikan keunikan dari gerakannya.

Sama seperti jenis bela diri lainnya, aikido juga memiliki sistem tingkatan. Tingkatan dalam aikido terdiri dari dua bagian yaitu KYU (mudanshay?ky?sha) dan DAN (y?dansha). Jenjang tingkatannya pun berbeda-beda, mulai dari:

– Kyu 5 s/d Kyu 4       : Sabuk putih (anak-anak dibawah usia 16 tahun memulai dari KYU 10)

– Kyu 3 s/d Kyu 1       : Sabuk Coklat

– Dan 1 s/d Dan 10      : Sabuk Hitam

Aikido juga tidak mengenal sistem kompetisi atau pertandingan, melainkan menggunakan sistem embukai atau sejenis peragaan dalam seni gerak bela diri. Hal ini karena bertentangan dengan prinsip seni beladiri yang didasarkan pada stabilitas mental dan pertahanan diri. Seseorang tidak hanya bertarung dengan tangan kosong di aikido, tapi juga ada senjata yang digunakan, seperti pedang kayu, tongkat pendek, dan pisau kayu, yang semuanya terbuat dari kayu agar tetap aman digunakan walaupun terkena oleh lawan di dalam pertarungan.

(Editor: Muhammad Farhan)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Memancing, Sabar Sebelum Disambar

Memancing tak terlihat lebih aktif dan energik jika dibandingkan dengan olahraga fisik lainnya. Stigma ‘membosankan’ dan ‘sia-sia jika tidak dapat hasil’ pun masih dianggap ada pada sebagian orang. Terasa klise jika memancing hanya dipandang sebelah mata, karena olahraga ini dapat memberikan manfaat penting kepada si pemancing baik dari kesehatan fisik dan kejiwaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *