Home / Berita / Ketahui Yang Kita Mau, Kita Butuhkan, dan Saring Lingkar Toxic-mu

Ketahui Yang Kita Mau, Kita Butuhkan, dan Saring Lingkar Toxic-mu

Sumber foto: instagram @soulifecommunity

Talitha Nabilah Ritonga

Pijar, Medan. Pertemanan merupakan aspek terpenting dalam hidup kita. Sebuah pertemanan ibarat keluarga yang dapat kita pilih. Dalam keluarga kita tidak dapat memilih siapa yang ingin kita jadikan keluarga. Sedangkan dari pertemanan kita dapat memilih siapa yang ingin kita jadikan teman. Sebuah pertemanan dapat mempengaruhi kepribadian, sifat, dan sikap kita. Namun, dalam sebuah pertemanan juga terdapat orang-orang yang tidak memberikan dampak positif atau toxic kepada kita.

Sore sejuk di hari jumat (23/10) tepatnya pukul 17.00 WIB, Soulife Community mengadakan live session “Satu Jam Berdialog” bersama Niesya Harahap. Serial Satu Jam Berdialog kali ini merupakan serial ketiga yang mengangkat Happy Mind, Happy Life yang berfokus pada toxic friendship sebagai temanya.

Serial Satu Jam Berdialog ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan kampanye toxicbuatpelik yang diusung oleh Soulife Community. Kegiatan ini dilaksanakan melalui akun Instagram @soulifecommunity dan @niesyahrp yang diawali dengan pembukaan oleh moderator serta pembacaan riwayat pengalaman sang pembicara.

Niesya Harahap merupakan sarjana psikologi yang sedang melanjutkan studinya di
Universitas Indonesia jurusan Psikologi Sains. Ia juga aktif sebagai musisi bersama tim Suarasama, Mataniari Indonesia, dan Solois.

Orang-orang toxic terkhususnya toxic friendship selalu tidak mendukung pencapaian yang didapat temannya. Mereka cenderung memicu stress, sakit hati, sampai seseorang meragukan dirinya sendiri. Hal-hal inilah yang dapat merusak kesehatan mental seseorang.

Niesya mengungkapkan jika kita ingin terbebas dari yang namanya toxic friendship kita harus bisa mengontrol diri kita untuk tidak terhanyut dalam keinginan teman kita. Ia juga memaparkan bahwasanya tidak masalah jika kita meninggalkan teman kita yang toxic.

“Ketika teman toxic melampaui batasan kita dan kita sudah berusaha men-direct dan open up tapi mereka tidak peduli, maka pilihan terakhir adalah meninggalkannya dalam arti menjaga jarak dengannya. Karena tidak semua orang bisa langsung meninggalkan atau memutuskan hubungan begitu saja,” ungkap Niesya.

Lalu, bagaimana sih mengatasi toxic friendship tersebut?

Semua bermula dari perasaan kita. Niesya mengatakan bahwasanya kita jangan meminimalisir pentingnya perasaan kita. Jika kita tidak nyaman dan tidak dapat menjadi diri kita sendiri saat bersama teman tersebut, maka kita tidak perlu merubah diri kita sendiri untuk mereka. Jadilah diri sendiri, karena kita harus mulai berpikir bahwasanya teman tersebut belum tentu teman terbaik kita.

“Dalam pertemanan itu, mungkin ada orang-orang yang toxic di dalamnya. Tapi kita harus bisa menimbang-nimbang worth it kah kita berteman dengan mereka. Kita harus liat seberapa banyak pengorbanan kita dibandingkan hal yang bisa kita dapatkan atau kontribusi positif teman kita itu terhadap kehidupan kita. Kita itu harus peka dan kembali ke diri kita sendiri. Apa yang kita butuhkan, orang seperti apa yang kita butuhkan untuk support diri kita. Intinya itu fokus kepada diri kita. Jika kita sudah tau apa yang kita mau, orang-orang seperti apa yang buat kita nyaman, kita akan lebih bisa menyaring orang-orang yang toxic. Kita tidak akan bisa dikontrol oleh orang-orang yang toxic jika kita tau apa yang kita mau,” tutup Niesya.

Sesi ini memicu antusiasme dari warganet mengenai toxic friendship. Hal ini dilihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada kolom obrolan langsung. Tidak hanya itu, pada sesi ini, Niesya turut membagi ceritanya yang pernah mengalami toxic friendship.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Harapan Baru Gubernur Sumut untuk Muryanto Amin, Rektor Baru USU

Muryanto Amin terpilih sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) untuk periode 2021-2026. Terpilihnya Muryanto sebagai Rektor USU berdasarkan hasil sidang pemilihan dan penetapan yang telah dilakukan Majelis Wali Amanat (MWA) USU. Sosok yang sebelumnya menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) ini memperoleh 18 suara (57,75 %) dengan mengungguli pesaingnya, Farhat 11 suara (35,75) dan Muhammad Arif 2 suara (6,5%).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *