Home / Berita / Ketika Mahasiswa Menggugat
Fotografer: Alvira Rosa
Fotografer: Alvira Rosa

Ketika Mahasiswa Menggugat

Alvira Rosa Damayanti

Pijar, Medan. Belum lagi habis perbincangan mengenai virus corona yang masih terus melanda, kini Indonesia kembali di marakkan dengan istilah Omnibus Law.

Mengapa? Sebab undang-undang yang disahkan pemerintah pada tanggal (5/10) kemarin, menjadi alasan mengapa Indonesia ricuh akan banyaknya demo-demo yang berlangsung. Tidak hanya terjadi di kota-kota besar, demo juga terjadi di kota-kota kecil di sekitaran kota besar lainnya dan salah satunya adalah kota Binjai, wilayah Sumatera Utara.

Seruan aksi “Cabut Omnibus Law” dilayangkan oleh Presidium Mahasiswa Binjai pada (9/10) dengan tujuan titik aksi adalah kantor DPRD Kota Binjai. Aksi ini diikuti oleh banyak mahasiswa dari berbagai kampus serta ikatan-ikatan mahasiswa dari universitas lain yang berdomisili di Binjai.

Tidak mencampur adukkan kasta universitas, para mahasiswa beriring jalan mulai dari stasiun kereta api Binjai, hingga ke depan kantor DPRD Kota Binjai. Riuh sorai teriak lantang para mahasiswa mendapatkan tatapan salut dan kagum oleh beberapa pengguna jalan.

Buruh tani dan darah juang adalah salah satu lagu pengisi dari aksi yang dilakukan pada siang hari itu dan salah satu lagu wajib dengan judul ‘Indonesia Pusaka’ sesekali terdengar dengan khidmat.

“Hati-hati Intel, hati- hati Intel, indomie telor!.”

Riuh sorai nada sindiran berulang kali dilayangkan oleh para mahasiswa yang terjun langsung ke jalan mengikuti seruan aksi ini. Mengingat mereka melakukan aksi sindiran tersebut untuk menyindir para mahasiwa yang hilang, sebab ditahan oleh oknum-oknum yang menyamar atau menyalah gunakan kekuasaan mereka.

Seruan kini berganti, yang tadinya riuh sorai nada sindiran kini bergantian dengan nada seruan marah, sebab para anggota DPRD tak satupun kunjung keluar. Membiarkan para mahasiwa berbaur dan menutupi separuh bahu jalan, dan dibiarkan panas-panasan, sambil terus berteriak “KELUAR! KELUAR! KELUAR!”

Aktvitas gerak untuk masuk kedalam gedung DPRD, terhalangi oleh banyaknya polisi-polisi yang berjaga. Berbaris serempak, menghalangi mobil aksi untuk masuk kedalam gerbang, bersama jumlah pengikut aksi yang tidak terhitung ada berapa. Namun para pengikut aksi tetap tidak menciut, mereka semakin lantang menyuarakan suara agar DPRD keluar, dan melayangkan sindiran-sindiran halus dengan cara mereka.

Dan tiba saatnya sorakan riuh keluar, mengiringi dua anggota dewan perwakilan yang ‘mungkin’ menyambut aksi ini dengan terpaksa.

Mengapa? Sebab para mahasiswa sudah kecewa, dari sekian banyaknya anggota dewan yang dipilih saat pemilihan umum, mengapa yang keluar hanya dua orang saja? Dan aksi bahu membahu, saling ejek, dan menyindir tidak lagi bisa dielakkan seketika.

Teuku Alif Aulia selaku koas dari seruan aksi ini, menyampaikan beberapa pasal yang menjadi ajang aksi ini dilakukan, seperti salah satunya adalah menolak pasal 79 ayat 2 ‘Pemotongan waktu istirahat’.

“Hal ini bertentangan dengan hak kita menjadi umat muslim, di mana kita beribadah dengan waktu yang tidak ada.” ucap Alif dengan lantang dan mendapat soraian setuju dari para pengikut aksi, disusul dengan sorakkan mengiringi anggota dewan ketiga yang turut hadir di tengah-tengah seruan ini.

Salah satu dari tiga anggota DPRD, Chairil Anwar, menyuarakan pendapatnya mewakili DPRD yang lainnya. “Jika hari ini, kalian semua kecewa dengan keputusan RUU Omnibus Law, maka kami dari hiperaksi PKS juga sudah menolak sejak awal RUU Ombnibus Law ini.”

Dengan lantang satu mahasiswa mencetus, “Hati-hati pencitraan!” yang kemudian membuat aksi kembali riuh dengan tawa mengejek dan sindiran-sindiran kembali menjerit sahut menyahut.

Melihat aksi yang kian semakin padat, matahari terus menyorot terik. Para pengguna bahu jalan ikut bergabung menyaksikan, Chairil Anwar kembali berujar. “Kami DPRD kota Binjai, juga memihak kepada seluruh mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia.”

Dengan perkataan akhirnya, “Tuntutan kami terima. Pada hari senin kami menerima dan hari selasa akan kami layangkan ke pusat.” ujarnya.

Teriakan kian lantang, menyuarakan bahwa ingin tuntutan aksi dilayangkan hari itu juga di depan para mahasiswa. Namun, terlindas oleh hari dan waktu, aksi harus menerima bahwa tuntutan baru akan bisa dilayangkan ke pusat di hari selasa.

Foto Pendukung: Penandatangan berkas perjanjian untuk menyampaikan tuntututan aksi ke DPR-RI. (Fotografer: Alvira Rosa)
Penandatangan berkas perjanjian untuk menyampaikan tuntututan aksi ke DPR-RI. (Fotografer: Alvira Rosa)

Untuk meminta ketepatan suara dan janji yang telah dilontarkan, penandatanganan berkas pun dilakukan, penandatangan di atas materai oleh ketiga wakil DPRD yang menyambut.

“Jika tuntutan kita ditolak dan hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Maka kita akan kembali dengan aksi-aksi lainnya, Setuju!” ujar Alif dan para pengikut aksi menyauarakan dengan lantang kata setuju.

Kini para pengikut seruan aksi serta Presidium Mahasiswa Binjai, tinggal menunggu hasil keputusan dari para DPRD kota Binjai mengenai tuntutan yang dilayangkan. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, maka aksi yang tidak lagi menggunakan kata damai, akan segera dilakukan.

“Kepada Mahasiswa di mana pun kalian berada, kita harus tetap menjadi agent social dan terus mengontrol pemerintahan. Karena kalau bukan kita siapa lagi.” tutup Tengku Ibrahim Bazhier, selaku koordinasi seruan aksi Presidium Mahasiswa Binjai.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: Elshinta.com

Peran Dokter di Masa Pandemi dalam Peringatan Hari Dokter Indonesia

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 24 Oktober diperingati sebagai ‘Hari Dokter Indonesia’. Hari besar ini diadakan dengan maksud untuk mengingat jasa para dokter kepada masyarakat luas dan juga individu. Di masa pandemi ini, kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada para dokter yang saat ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi Covid-19. Dengan tekad dan jasa mereka, masyarakat Indonesia yang terkena Covid-19 pun banyak yang tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *