Home / Hiburan / Film / Okja dan Padamnya Kebebasan Hewan

Okja dan Padamnya Kebebasan Hewan

Sumber foto: https://www/bleedingcool.com/

Arsy Shakila Dewi

Manusia adalah makhluk yang paling tidak berguna di alam semesta ini, jika mereka tidak ada, tak apa, maka alam sangat senang mendengar kabar tersebut.

Pijar, Medan. Nama film Okja diambil dari nama binatang peliharaan seorang gadis perempuan dan kakeknya yang dititipkan seekor babi sintetis dari perusahaan multinasional, Mirando Corporation. Konon babi itu setelah 10 tahun akan diambil kembali untuk diikutsertakan dalam perlombaan babi terbaik. Rupa Okja seperti gabungan dari kuda nil, gajah, dan lembu laut.

Berawal dari strategi Lucy Mirando yang merupakan CEO Mirando Corporation dalam meraih kepercayaaan publik akan perusahaan mereka, dibuatlah ajang kompetisi festival babi super untuk menepis pemikiran masyarakat mengenai hewan sintetis atau buatan. Mereka mengirimkan 26 babi sintetis ke 26 peternak lokal di tiap negara berbeda. Nantinya dari 26 itu akan dipilih satu babi terbaik sebagai wajah baru Mirando Corporation.

Singkat cerita, terpilihlah Okja sebagai babi terbaik. Karena itu, Okja harus dibawa ke Amerika dan berpisah dengan Mija. Mija yang sangat menyayangi Okja tak terima jika harus berpisah dengannya. Berawal dari sini, petualangan Mija dimulai.

Ia pun berusaha merebut Okja kembali. Berbagai kejadian pun terjadi kepadanya. Di tengah perjalanan ia dibantu oleh Front Pembebasan Hewan Jay yang berniat membongkar kebusukan-kebusukan Mirando Corporation. Ditambah hambatan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam tubuh perusahaan sehingga upaya untuk menyelamatkan Okja tidak berlangsung mudah.

Film Okja adalah film karya sutradara Bong Joon Ho. Karya ini ditulis oleh dirinya dan Jon Ronson. Film tersebut dibintangi oleh pemeran cilik Korea Selatan Ahn Seo-hyun bersama dengan para pameran Hollywood Tilda Swinton, Paul Dano, Steven Yeun, Lily Collins, dan Jake Gyllenhaal.

Walaupun film ini diperankan oleh pemeran cilik, bukan semerta-merta film ini dapat dinikmati oleh kalangan anak kecil. Sebaliknya, Okja menampilkan pengaplikasian sistem kapitalisme yang kejam, budaya konsumerisme yang merusak, beserta pemelintiran fakta dengan mendayagunakan media demi terciptanya nama baik perusahaan. Di beberapa bagian terdapat pula penggunaan bahasa kasar dan muatan kekerasan cukup eksplisit di dalamnya.

Terlepas itu semua, ada juga cinta, kehangatan, canda-tawa, dan keseruan yang ditampilkan dalam film Okja ini. Saat film mengambil latar penceritaan di kampung halaman Mija, penonton mendapati hubungan antar makhluk hidup berikut hamparan pemandangan yang menyejukkan mata. Mija dan Okja berjalan-jalan menyusuri hutan bersama, berburu lauk untuk makan malam bersama, lalu tidur siang bersama.

Film yang diproduksi tahun 2017 oleh Netflix ini bekerja sama dengan perusahaan film milik Brad Pitt, Plan B Entertainment, dan menghabiskan biaya produksi sebesar 50 juta dollar. Latar film mengambil 3 lokasi yakni pedesaan Seoul yang menampilkan ketenangan, perkotaan di Seoul yang mewakili kekacauan dan kesenangan, hingga perkotaan di New York yang mewakili kemuraman.

(Editor: Widya Tri Utami)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

http://www.cnnindonesia.com

Story of Kale Kisahkan Problematika Percintaan Masa Kini

Bagi para pecinta film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), siapa sih yang tidak mengenal sosok Kale? Seorang pria yang sempat menjadi buah bibir para kaum hawa karena sikapnya yang memberi harapan palsu alias PHP kepada Awan. Kali ini, kita akan mengenal lebih dekat dengan Kale melalui film Story of Kale yang diperankan penyanyi Ardhito Pramono tersebut. Film Story of Kale merupakan spin-off dari film NKCTHI yang menceritakan masa lalu Kale sebelum mengenal Awan (Rachel Amanda). Film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko ini sudah tayang pada 23 Oktober lalu di bioskop online dan harga tiketnya pun terbilang murah, yaitu Rp10.000. Selain itu, film ini juga mengusung tema Toxic Relationship yang tidak jauh dari kehidupan percintaan masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *