Home / Berita / Tabunya Berbicara Kesehatan Mental di Negeri Ini

Tabunya Berbicara Kesehatan Mental di Negeri Ini

Sumber foto: liputan6.com

Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Psikis manusia semakin hari semakin gencar dibicarakan belakangan ini. Bahkan, yang lebih parah lagi hampir 57 ribu penderita gangguan jiwa di dunia terpaksa dipasung. Data yang dihimpun dari Human Right Watch yang dikutip melalui laman Historia.id, penderita gangguan jiwa yang dipasung itu terpaksa harus hidup seperti binatang hanya karena dianggap lebih aman dan tidak mengganggu orang banyak.

Bercerita mengenai gangguan jiwa dan kesehatan mental mungkin tak jauh bedanya seperti berbicara seks di Indonesia. Masyarakat awam masih menganggap bahwa obat dari kesehatan mental adalah ibadah yang masih kurang cukup hingga iman yang lemah. Alih-alih memunculkan empati, membahas kesehatan mental masih menjadi stigma negative di kalangan masyarakat kita.

10 Oktober dijadikan sebagai peringatan hari kesehatan mental internasional. WHO, sebagai organisasi kesehatan dunia menjadikan tanggal tersebut sebagai pengingat oleh seluruh masyarakat dunia bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang bisa diremehkan bagi setiap kalangan. Dalam hal ini, WHO menganggap bahwa peringatannya memberikan kesempatan bagi semua pemangku kepentingan yang menangani masalah kesehatan jiwa agar bisa berbicara lebih banyak mengenai usaha apa lagi yang perlu dilakukan untuk mewujudkan perawatan kesehatan mental bagi semua orang di seluruh dunia. Sebab, Hampir 1 miliar penduduk di dunia ini memiliki gangguan kesehatan mental, 3 juta diantaranya  meninggal setiap tahun akibat penggunaan alkohol yang berbahaya dan satu orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri.

Dari sini, kita sadar bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang bisa di pandang sebelah mata. Mereka yang mengalami gangguan kejiwaan terpaksa berjibaku dengan dua hal, kesehatan mental yang mereka miliki dan hukuman sosial dari masyarakat. Sehingga mereka terpaksa dikurung dan dipasung selayaknya binatang. Banyak keluarga merasa malu apabila memiliki kerabat yang mengidap gangguan kejiwaan. Praktik pasung dianggap sebagai hal yang lumrah dan hal ini sudah terjadi semenjak zaman kolonial dahulu.

Seperti yang dikutip dari laman Historia.id dan In and Out Magelang Assylum karangan Sebastiaan Broere, beberapa aturan adat di nusantara yang membahas isu kesehatan mental memaksa masing-masing keluarga yang mempunyai kerabat dengan gangguan kejiwaan terpaksa harus dikurung dan dipasung. “Adanya aturan adat tersebut menjadi alasan penting keluarga atau warga desa di Indonesia terpaksa mengurung kerabat yang menderita gangguan jiwa,” ungkap Sebastiaan Broere.

Serupa dengan penyakit-penyakit lain, sejatinya mereka yang mengidap gangguan terhadap kesehatan dan mental sudah seharusnya mendapatkan perawatan. Saya yakin, mengurung orang yang sekalipun mereka menderita gangguan jiwa adalah hal yang ilegal. Aturan ini juga berlaku di Eropa,” ungkap Sebastian.

Beberapa penyintas secara terbuka berbicara kepada Human Rights Watch. Hasilnya mereka menemukan beberapa negara seperti China, Indonesia, Nigeria, dan Meksiko terpaksa memasung saudara-saudara mereka yang mengalami gangguan kejiwaan dengan alasan tertentu. “Kami telah menemukan praktik belenggu lintas agama, strata sosial, kelas ekonomi, budaya dan kelompok etnis,” ucap Kriti Sharma peneliti senior dari Human Rights Watch.

Indonesia sendiri sempat menyinggung terkait memasung keluarga yang mengidap gangguan kejiwaan. Pemerintah dengan keras melarang pemasungan melalui UU Kesehatan Jiwa tahun 2014 agar mereka yang mengidap gangguan kejiwaan bisa mendapatkan perawatan dan pemeliharaan layanan kesehatan jiwa. Dan pada 1977 dahulu, pemerintah mengkampanyekan kesehatan jiwa dengan cara melarang mereka yang mengidap gangguan jiwa untuk dipasung.

(Editor: Erizki Maulida Lubis) 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: Elshinta.com

Peran Dokter di Masa Pandemi dalam Peringatan Hari Dokter Indonesia

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 24 Oktober diperingati sebagai ‘Hari Dokter Indonesia’. Hari besar ini diadakan dengan maksud untuk mengingat jasa para dokter kepada masyarakat luas dan juga individu. Di masa pandemi ini, kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada para dokter yang saat ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi Covid-19. Dengan tekad dan jasa mereka, masyarakat Indonesia yang terkena Covid-19 pun banyak yang tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *