Home / Lifestyle / Toxic Relationship: Cinta atau Obsesi?

Toxic Relationship: Cinta atau Obsesi?

Sumber Foto: psychologicalhelingcenter.com

Samuel Sinurat

Pijar, Medan. Dewasa ini, istilah toxic relationship menjadi sebuah tren baru yang menyita perhatian generasi milenial. Toxic relationship didefinisikan sebagai hubungan yang tidak sehat dan berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang. Hubungan ini tidak hanya bisa terjadi pada sepasang kekasih, tapi juga dalam lingkungan teman dan bahkan keluarga.

Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan ke-toxic-an di dalam hubungan. Pertama, kehidupanmu selalu dikontrol olehnya. Misalnya, apa yang hendak akan kamu lakukan atau kerjakan harus berdasarkan izin dan persetujuan dari dia, walaupun itu tidak sejalan dengan keinginannmu. Hal ini membuat kamu harus mengikuti keinginannya suka ataupun tidak.

Kedua, sulit untuk menjadi diri sendiri. Akibat sering dikontrol, kamu akan kehilangan jati diri dan akan bersikap sesuai apa yang diinginkannya. Misalnya, saat kamu ingin mengutarakan pendapat, kamu harus berpikir berkali-kali karena takut yang kamu ucapkan salah dan menyinggung perasaannya.

Ketiga, tidak mendapat dukungan. Setiap pencapaian yang kamu peroleh dianggap sebagai kompetisi. Bahkan, ia tidak suka jika kamu berhasil melakukan sesuatu yang seharusnya membuat ia menjadi bangga dan senang. Kamu juga tidak akan pernah mendapat dukungan serta apresiasi, justru akan mendapatkan perkataan kasar dan kritik yang tidak membangun dan akan menghambat kesuksesanmu.

Keempat, selalu dicurigai dan dikekang. Rasa iri dalam hubungan sebenarnya merupakan hal wajar dan normal. Namun, hubungan akan menjadi beracun jika rasa iri menjadi berlebihan. Misalnya, ia dengan tega mengambil atau merusak barang pribadimu.

Kelima, sering ditipu. Kejujuran merupakan salah satu pondasi untuk membentuk hubungan yang baik. Namun, jika ada tindakan untuk menutupi banyak hal, itu artinya saat ini kamu sedang berada dalam hubungan yang toxic.

Keenam, menerima kekerasan fisik. Selama menjalani hubungan, ia sering kali melampiaskan amarah kepadamu hingga tak segan untuk melakukan kekerasan fisik. Hal ini merupakan tanda terjadinya toxic relationship yang lebih serius dan sangat mengindikasikan hubungan yang tidak sehat.

Toxic relationship memiliki beberapa dampak, diantaranya; hilangnya kepercayaan diri, merasa takut untuk melihat sesuatu, dan akan menggangap orang yang baru dikenalnya sebagai sebuah ancaman terhadap dirinya.

Keluar dari toxic relationship tidaklah mudah, apalagi hal yang mempersulit untuk keluar dari hubungan itu adalah rasa perduli dan rasa sayang yang terlalu berlebihan terhadap pelaku. Untuk itu, saran terbaik agar bisa mengatasi hubungan beracun ini adalah dengan melakukan diskusi secara baik terhadap pelaku. Tujuannya ialah agar hubungan ini tidak lebih memberatkan korban, serta dapat mengembalikan hubungan menjadi normal. Sebab mengembalikan psikologi korban dari hubungan toxic ini sangat sulit, karena yang dialami oleh korban relationship bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis atau sering disebut tekanan batin.

Pada dasarnya, menjalin hubungan harus dipenuhi oleh rasa saling peduli dan mengasihi. Sebab, hubungan dengan tindakan kekerasan, baik fisik atau non-fisik, hanya akan merugikan satu pihak. Ini akan membuat hubungan tersebut tidak bisa berjalan dengan baik.

Bila sobat Pijar merasa pernah atau sedang mengalami hubungan toxic, segeralah diskusikan untuk mencari solusi agar hubungan tersebut bisa berjalan normal kembali dan apa yang telah dibina tidak berakhir dengan menyedihkan.

(Editor: Diva Vania)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber Foto: Kaskus

Kintsugi, Seni Memperbaiki Penuh Kreativitas

Sobat Pijar pasti pernah secara tidak sengaja merusak barang mau itu berupa gelas, piring, mangkuk, ataupun lainnya. Meskipun barang tersebut sudah pecah, jangan terburu-buru untuk membuangnya. Melalui kerajinan yang berasal dari Negeri Sakura ini, barang yang sudah terpecah belah tadi bisa diperbaiki, loh! Namanya yaitu, Kintsugi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *