Home / Berita / Tuberkulosis Penyakit Berbahaya yang Terabaikan di Tengah Pandemi

Tuberkulosis Penyakit Berbahaya yang Terabaikan di Tengah Pandemi

Sumber foto: dokumentasi panitia

Miftahul Jannah Sima

Pijar, Medan. Kasus pandemi saat ini masih terus bergulir dan tampaknya menjadi prioritas dalam penangan medis. Namun pertanyaannya, apakah hanya Covid-19 saja yang dapat menular dan sangat berbahaya? Sebenarnya bukan hanya Covid-19 saja yang patut kita cemasi. Pasalnya ada juga penyakit yang memiliki gejala yang sama, menular dan juga berbahaya.

Tuberkulosis (TBC) atau biasa disebut TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit ini biasanya akan memberikan gejala berupa batuk yang berlangsung lama atau sekitar lebih dari 3 minggu. Batuknya pun disertai dahak maupun darah. Namun, TB juga bisa menjangkit tanpa mengeluarkan gejala.

TB tidak hanya menyerang paru-paru saja. TB juga bisa menyerang tulang, usus, ataupun kelenjar. Penyakit ini dapat menular dari percikan ludah yang dikeluarkan dari penderita TB, baik dalam berbicara, batuk, ataupun bersin.

Maka dari itu, Aliansi Jurnalis Indenpenden (AJI) Jakarta bekerja sama dengan Stop TB Patnership Indonesia(STPI) melakukan diskusi publik melalui Zoom meeting. Diskusi ini dilakukan untuk menambah pengetahuan partisipan tentang penyebaran TB di Indonesia. Acaranya pun dapat membuat kita sadar bahwa saat ini bukan hanya Covid-19 saja yang perlu disoroti. Pengidap TB  juga memerlukan penanganan medis yang baik dan cepat.

Beberapa narasumber handal dihadirkan dalam acara ini, salah satunya perwakilan dari STPI, Lukman Hakim. Baginya, pengidap TB akan mengalami krisis ekonomi karena penyakit ini berlangsung dengan lama dan harus mengeluarkan banyak uang untuk obat-obatan.

Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) juga mengambil peran dalam meeliminasi TB. Mereka menyadarkan masyarakat agar dapat memahami kebutuhan pengidap. Selain itu, masyarakat juga harus mengambil peran untuk berkontribusi dalam menangani TB. Masyarakat bisa menjadi advokasi kebijakan TB, bisa sebagai pendamping, dan layanan pasien TB.

Penyakit TB ini bukan hanya tanggung jawab oleh menteri kesehatan saja, tetapi juga menjadi mandat bagi semua menteri agar penyakit TB dapat segera diatasi. Namun melihat saat ini kita yang masih berada di tengah pandemi, tentu menjadi penghambat pembasmian TB.

Setelah melakukan diskusi, akhirnya pada bulan April lalu protokol layanan TB ini pun dikeluarkan. “Kami juga pada bulan Mei melakukan survei lapangan untuk melihat bagaimana penanganan pasien TB dan tentunya memberikan arahan bagi masyarakat agar tidak melupakan penyakit TB ini,” imbuh Lukman.

Ully Ulwiyah yang merupakan ketua Yayasan Pejuang Tangguh TB RO Jakarta mengatakan saat ini penanganan TB kurang diperhatikan, sebab gugus kesehatan banyak digunakan untuk menangani kasus Covid-19. Keterbatasan ruang pasien, juga menyebabkan pasien lama mendapatkan pertolongan. Hingga menyebabkan pasien meninggal. “Pasien terkadang khawatir, ketika mereka ingin berobat malah akan menjalani rapid test terlebih dahulu. Hal itulah yang membuat mereka enggan untuk berobat,” ujar Ully.

Tak hanya kasus Covid-19 saja yang bisa diliput, banyak hal dalam kasus TB juga bisa dinaikkan sebagai tulisan oleh seorang jurnalis. “Kita bisa mengangkat stigma masyarakat dan perihal ekonomi yang dialami penderita TB,” ujar Adhitya Ramadhan selaku jurnalis Kompas.

Mengenai penyakit TB, di Indonesia sendiri masih sangat kekurangan fasilitas untuk pengobatannya. Fasilitas-fasilitas yang ada masih diprioritaskan untuk pasien Covid-19. Hal ini yang harus menjadi sorotan penting bagi para pemerintah untuk menyediakan layanan dan ruang alternatif khusus penyakit TB.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Harapan Baru Gubernur Sumut untuk Muryanto Amin, Rektor Baru USU

Muryanto Amin terpilih sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) untuk periode 2021-2026. Terpilihnya Muryanto sebagai Rektor USU berdasarkan hasil sidang pemilihan dan penetapan yang telah dilakukan Majelis Wali Amanat (MWA) USU. Sosok yang sebelumnya menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) ini memperoleh 18 suara (57,75 %) dengan mengungguli pesaingnya, Farhat 11 suara (35,75) dan Muhammad Arif 2 suara (6,5%).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *