Home / Berita / Tuntutan Perempuan pada Omnibus Law untuk Mempertahankan Hak-Nya

Tuntutan Perempuan pada Omnibus Law untuk Mempertahankan Hak-Nya

(Sumber Foto: Instagram @narasi_perempuan)

Alvira Rosa Damayanti

Pijar, Medan. Jika mengulas kembali, mantan Presiden kelima Indonesia adalah seorang perempuan. Tidak hanya itu, beberapa tokoh politik di Indonesia kini juga diisi oleh perempuan! Hal ini membuktikan bahwa di Indonesia perempuan sudah ikut memegang andil demi keberlangsungan negara.

Pada masanya, hak-hak perempuan di Indonesia sudah diperjuangkan oleh R.A Kartini. Maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk merelakan hak-haknya direbut kembali. Terlebih lagi oleh pemerintah Indonesia melalui Omnibus Law RUU Cipta kerja yang disahkan (5/10) tempo hari. Namun, hal tersebut masih begitu marak hingga sekarang.

Forum diskusi mengenai penolakan terhadap pasal Omnibus Law dilakukan oleh beberapa jurnalis perempuan muda, yang diisi oleh 5 narasumber. Di mana forum ini diisi dan diikuti oleh beberapa jurnalis yang berasal dari Pers Mahasiswa yang berbeda, melalui aplikasi zoom meeting pada (14/10).

Mengangkat tema ‘Kekuatan Pers Adalah Kekuatan Demokrasi’, para jurnalis perempuan muda mengatakan bahwa aksi perempuan yang terjun langsung kelapangan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele ataupun sebelah mata. Sebab, apa yang para perempuan perjuangkan pada hari ini, semua dilakukan untuk mempertahankan hak yang seharusnya. Hak untuk menjaga kehormatannya dan membela kaum perempuan yang tidak berdaya.

Pasal Omnibus Law RUU Cipta Kerja menyangkut tentang dihapusnya cuti haid, cuti hamil, cuti melahirkan, hingga cuti keguguran. Penghapusan tersebut menjadi pasal yang begitu merugikan bagi kaum perempuan yang bekerja sebagai buruh. Atas dasar ini pula, perempuan-perempuan di Indonesia berani untuk angkat bicara dan memperjuangkan hak-hak mereka.

Berkaca dengan kejadian sebelumnya, saat Undang-Undang Ketenagakerjaan tahun 2003 juga membahas mengenai empat cuti yang sempat dilanggar oleh perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, lalu bagaimana jika pasal tersebut benar-benar dihapuskan?

Sebab pelanggaran pasal ini pula, setidaknya sudah terjadi beberapa kasus, seperti kasus keguguran terhadap 13 bayi, kematian 5 bayi yang baru dilahirkan, sampai diberikannya cek kosong sebagai kompensasi atau bonus kerja.

Perempuan-perempuan di Indonesia, menyalurkan rasa kecewa dan amarahnya kepada  pemerintah dengan ikut terjun langsung ke arena lapangan. Namun apa yang didapatkan? Hanya pengusiran dari aparat-aparat pemerintahan itu sendiri.

Apakah salah jika perempuan ikut terjun langsung? Apakah hal tersebut akan membuat perempuan dipandang sebelah mata dan dianggap memiliki fisik yang begitu lemah? Apa karena hal tersebut, sehingga perempuan harus mundur dan berada di dalam posisi belakang?

Pertanyaan mengenai mengapa perempuan selalu diarahkan di bagian belakang selalu menjadi tanda tanya. Padahal untuk menuding hal ini, kaum perempuan banyak beranggapan bahwa tidak semua perempuan memiliki fisik yang begitu lemah.

Sebab, jika bukan perempuan yang mempertahankan haknya, siapa lagi?

“Jika memang pemerintah menganggap hal ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi mengapa masyarakat menganggap ini adalah hal yang sangat merugikan?” tutur Tina salah satu narasumber.

“Sebenarnya undang-undang ini dibentuk untuk kepentingan siapa?” tambahnya lagi.

Haruskah kita sebagai perempuan hanya menunggu jawaban dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjawab pembodohan ini. Ayolah, kita rebut lagi hak kita sebagai perempuan terhormat.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: Elshinta.com

Peran Dokter di Masa Pandemi dalam Peringatan Hari Dokter Indonesia

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 24 Oktober diperingati sebagai ‘Hari Dokter Indonesia’. Hari besar ini diadakan dengan maksud untuk mengingat jasa para dokter kepada masyarakat luas dan juga individu. Di masa pandemi ini, kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada para dokter yang saat ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi Covid-19. Dengan tekad dan jasa mereka, masyarakat Indonesia yang terkena Covid-19 pun banyak yang tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *