Guruku Tunawiru

Hits: 16

Kecelakan terjatuh dari kursi yang ia alami saat berumur tujuh bulan menjadi titik awal kisah hidupnya yang berat. Namun kisah itu pula yang menimbulkan decak kagum dan memberi inspirasi bagi banyak orang. Inspirasi tentang semangat, cinta, dan keikhlasan yang tak terhalang batas.

Kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung pagi itu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Taman Pendidikan Islam, gedung berlantai dua yang terletak di Jalan Sisingamangaraja, Km 7, Medan Amplas, Medan. Hampir di setiap kelas terdengar jelas suara para guru yang menerangkan pelajaran atau sekedar menertibkan murid-muridnya. Tetapi hal itu tak terdengar dari ruang kelas tiga yang agak menjauh ke timur. Di kelas ini, bahasa isyarat menjadi bahasa resmi yang dipakai. Sebab berbeda dengan kelas lainnya, guru di kelas ini adalah seorang wanita penyandang tunawicara sekaligus tunarungu. Dialah Novi Sapitri sang guru tunawiru (tunawicara dan tunarungu).

Dilahirkan pada tahun 1979, Pitri, begitu ia akrab dipanggil, merupakan bayi normal seperti yang lain, hingga kecelakaan tragis menimpanya saat ia baru berumur tujuh bulan. Ia terjatuh dari kursi ketika ibunya lengah mengawasi. “Saya kira cuma jatuh biasa, makanya cuma dibawa ke tukang kusuk aja,” terang Sumarni, ibunya mengenang kejadian itu. Sang ibu baru menyadari Pitri menyandang cacat bisu dan tuli, saat usia Pitri telah mencapai 5 tahun, tapi ia belum juga dapat berbicara dan sulit untuk mendengar. Sayang, dikarenakan ketiadaan biaya saat itu, membuat Pitri urung mendapatkan pengobatan medis yang serius. Sejak itu, ibunya memberi perhatian lebih padanya dan mulai mengajarinya bahasa isyarat.

Di usia tujuh tahun Pitri mulai sekolah di SLB Taman Pendidikan Islam Amplas Medan yang cukup jauh dari rumahnya. Hal ini dikarenakan saat itu SLB masih merupakan sesuatu yang langka di Medan. Enam tahun menimba ilmu di sekolah itu ternyata dirasa masih kurang oleh Pitri yang mencintai ilmu pengetahuan. Maka, dengan dukungan yang besar dari orang tuanya Pitri pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP di sekolah yang sama.

Keinginan Pitri yang besar untuk menimba ilmu sesungguhnya tak pernah surut bahkan semakin menggebu setelah ia lulus SMP. Tapi sayang, kali ini semangat itu harus dikuburnya dalam-dalam. Tak ada satu pun SLB di Medan yang mencapai tingkat menengah atas setara SMA. “Sesudah saya cari tahu sama bapaknya yang ada cuma di Jakarta, tapi gak berani ngelepasnya kayak gitu sendiri, apalagi dia orangnya polos kali,” ungkap ibunya. Alasan sang ibu akhirnya memupus keinginan Pitri, dan bangku SMP adalah akhir dari pendidikan formalnya.

Layaknya pepatah, hidup bagaikan roda yang berputar. Pepatah ini juga berlaku dalam kehidupan Pitri. Saat menginjak usia 24 tahun ayahnya meninggal dunia. Membuat keluarganya seakan berada di titik terbawah kehidupan. Menjadikan ibunya satu-satunya tulang punggung keluarga. Terdorong keinginan membantu, Pitri menyatakan niatnya untuk bekerja. Terlebih ia menyadari, sebagai anak sulung ia punya tanggung jawab membantu biaya pendidikan dua adik perempuannya yang masih sekolah.

Mulanya ia bekerja sebagai karyawan pengemas di sebuah pabrik pengolahan udang di Belawan, Medan. Mengetahui beratnya pekerjaan yang ia jalani, ibunya yang merasa kasihan memintanya berhenti saat pekerjaannya masih berjalan tiga bulan. Beruntung saat ia baru saja mengundurkan diri, seorang kerabat bernama Pak Teten menawarkannya menjadi guru di sekolahnya  dulu.  Kesempatan baik ini pun segera diambilnya. Sebuah kesempatan yang merupakan bagian dari cita-citanya sejak dulu.

“Saya senang melihat anak-anak bisa menulis dan berhitung,” ungkap Pitri dengan tulus lewat tangannya ketika ditanya suka citanya dalam mengajar. Dan sebaliknya, saat ditanya tentang dukanya, ia kembali menjawab polos dengan tangannya, “Gak suka liat anak yang tak bisa menulis dan berhitung.”

Pengabdiannya di sekolah ini tak selalu berjalan mudah dan lancar. Berbagai masalah kerapkali menguji kesabarannya, yang tidak hanya datang dari murid, tetapi juga dari kalangan orang tua. Seperti misalnya, tak sedikit orang tua murid yang enggan anaknya dididik langsung oleh Pitri. Mereka ragu bagaimana mungkin anak mereka yang cacat diajari oleh guru yang juga cacat? Belum lagi  berbagai sindiran yang tak jarang datang padanya dari berbagai pihak sekitar. Namun semua itu, dijadikan Pitri sebagai motivasi baginya agar dapat menjadi orang yang berjiwa besar dan mau terus belajar menjadi lebih baik.

Pengabdian dengan kesabaran itu akhirnya mendatangkan berkah tersendiri bagi hidupnya. Sebab di sekolah inilah kemudian ia menemukan jodohnya, Muhammad Supardi, teman sekolahnya dulu yang juga penyandang tunawicara dan tunarungu. Pardi, begitu ia biasa dipanggil, bekerja sebagai pedagang jajanan di warung sekolah tersebut. Maka kisah baru pun dimulai Pitri sebagai seorang istri. Dan berlanjut sebagai seorang ibu setelah ia melahirkan Fahri, saat usia pernikahan mereka genap satu tahun. Kelahiran Fahri  merupakan dirasa sebagai anugerah baru dalam hidup Pitri, terlebih karena anak yang lahir dari kedua orang tua penyandang cacat ini ternyata normal seperti bayi lainnya, hingga saat ini usia Fahri telah mencapai 3 tahun 7 bulan.

Sekarang Pitri telah merasakan kebahagiaan utuh dalam hidupnya yang berjalan baik dengan menjalani hari-harinya bersama seluruh keluarga tercinta di rumah yang berada di Jalan Kolonel Yos Sudarso, Gang Kempol, Glugur, Medan. Mengajar, mengurus rumah tangga, merawat dan mendidik Fahri menjadi rutinitas yang menyenangkan baginya. Bahkan ia masih menyempatkan diri pula untuk mengembangkan bakat keterampilan yang dimiliknya dengan membuat prakarya aksesoris kerajinan tangan yang menarik. Pitri menjual hasil karyanya ke tetangga sekitar dan teman sesama pengajar di sekolah dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarganya.

Inilah sosok Novi Sapitri, guru “tunawiru” yang hidup dalam raga yang terbatas namun jiwa, semangat, dan cintanya jauh menembus batas. Kisah hidupnya adalah cermin bagi kita yang sempurna namun seringkali masih enggan mensyukuri hidup, untuk berjuang dan mengabdi di dalamnya. (Amir)

 

Leave a comment