Home / Opini / Binatang Anarkisme
Binatang Anarkisme

Binatang Anarkisme

OLEH HISHAQEE NURAINI
[penulis adalah mahasiswa Departemen Ilmu Politik USU]

Demonstrasi telah usai, yang tertinggal hanyalah rentetan polemik baru. Panggung politik kita riuh dengan tulisan yang bersegel pasal tempat segala titah dapat terlaksana atau tidak untuk diributkan kembali, sebagai panggung baru politisi gedung bundar untuk memerankan siapa yang lebih merakyat dan siapa yang tidak merakyat. Pasar politik kita masih menggantung perut rakyat dengan harga-harga yang terkena gosip kenaikan harga BBM yang kemarin katanya akan naik. Alih-alih harga BBM naik, semua yang ada di pasar kita telah naik, dan sekarang sedang berusaha distabilkan kembali. Jalanan politik kita menyisakan serakan hasil penjajahan lain yang menjelma puing-puing pengatasnamaan perjuangan. Suara-suara politik rakyat di bawah, yang selalu menjadi sejarah hidup sejati tiap kebijakan seperti biasa hanya menjadi kelu kesah bisu dimakan udara negara mereka.

Kita memasuki isu-isu baru pengisi hari-hari rakyat yang makin tidak mengerti ini negara seperti apa. Peninggalan demonstrasi masuk jajaran top gosip yang tak jauh berputar dari kata kekerasan, bentrokan, kerusakan, penjarahan, luka akibat ini dan itu. Dan selebritas utamanya tentu saja para demonstran (mahasiswa, aktivis, buruh, sebagian kader partai politik) yang memakai kaos berpangkat rakyat dan polisi yang memakai kerah berpangkat aparatur negara.

Mahasiswa dan demonstrasi
Demonstrasi selama ini selalu identik sebagai senjata mahasiswa dalam memerangi ketidakadilan yang dilakukan oleh negara kepada rakyatnya. Demonstrasi juga menjadi kawah candradimuka mahasiswa yang menyejarah dalam memainkan peran politiknya sebagai parlemen jalanan yang independen dan hanya berpihak kepada rakyatnya. Demonstrasi selalu menjadi milik mahasiswa.

Kepemilikan ini bukan tanpa sebab dan pertimbangan, karena memang mahasiswa merupakan suatu kelompok masyarakat yang sadar dan tersadarkan. Menurut Benedict Anderson dalam panggung politik, mahasiswa pernah disebut sebagai satu-satunya oposisi yang efektif (the only effective opposition). Mahasiswa melalui sikap penentangan yang sistematis menegaskan perbedaan otonomnya dari struktur masyarakat tradisional. Mahasiswa disebabkan oleh kualitasnya yang spesifik tampil sebagai suatu lapisan masyarakat vokal dan berorientasi ke depan sekaligus idealis. Konsekuensi dari hal ini, mahasiswa tentu saja memiliki suatu posisi sosial tertentu dan sangat menentukan, di mana di dalamnya sejumlah privilese menjadi hak mahasiswa yang dikuasai secara independen.

Binatang anarkisme
Melihat jalanan seusai peperangan yang disebut membela hak rakyat saat ini-tanpa mengabaikan elemen lain yang turut serta dalam demonstrasi-mahasiswa tetap menjadi elemen inti dalam gerakan awal demonstrasi yang digelar. Dan sayangnya, mata telanjang kita hanya bisa melihat hasil karya yang menampilkan jumlah angka sekian miliar yang harus dikeluarkan oleh negara untuk memperbaiki wajah kotanya.

Mahasiswa yang melibatkan diri dalam demonstrasi untuk keadilan rakyat ini entah bagaimana menjelma menjadi begitu tidak sadar, tersadarkan, apalagi menyadarkan. Menyandera mobil plat merah, menjarah mobil yang mengangkut gas, merusak pos polisi, sampai-sampai merusak lampu jalan dan lampu lalu lintas yang dalam kesadaran manapun tidak berkorelasi dengan kenaikan harga BBM dan keadilan untuk rakyat yang mereka dengungkan di jalanan.

Mahasiswa mengalami dekadensinya dalam menggelar demo keadilannya. Demonstrasi yang menjadi panggung politik mahasiswa pun drastis berubah menjadi arena perang unjuk batu, pukulan, pembakaran ban, dan tarian anarkis yang menjemukan. Rakyat yang dipakai namanya juga jengah dengan kebrutalan yang dipertontonkan. Mahasiswa tidak ubah hanya menjadi binatang anarkisme yang melolong, dengan idealis yang entah dinamakan apa dan entah keadilan mana yang dibela.

Demonstrasi mahasiswa kemarin lalu hanya sandiwara. Sandiwara balas dendam yang sama saja seperti yang dimainkan para politisi gedung bundar. Para politisi bersandiwara dengan pertarungan citra si setan penghisap darah dan si pahlawan pembela kebenaran. Sedangkan demonstrasi adalah sandiwara untuk sebuah momen aji mumpung untuk melegalkan anarkisme yang ditarik sangat jauh ke berbagai alasan yang tinggi menumpuk bukan hanya sekedar kenaikan harga BBM.

Sebagian mungkin beranggapan lumrah dengan tontonan brutal itu dan menganggapnya heroik, apalagi dengan tumpukan alasan selama ini: ketidakadilan hukum, pelayanan publik yang minim, birokrasi berpintu-pintu, korupsi berjamaah berlapis seribu, ketimpangan sosial, kesusahan hidup, skandal politik, dan para selebritas politik, dan bisa jadi sampai hal sekecil kesombongan dan perilaku aparat apa saja yang berseragam yang sering bukan membantu menyelesaikan kesulitan rakyat tapi malah menjadi masalah baru.

Namun, tetap tidak bisa diterlantarkan begitu saja bisikan berjama’ah rakyat sebenarnya yang menyayangkan kerusakan yang terjadi, dan kekecewaan mengapa harus ada pengerusakan sarana publik yang sudah sangat minim  disediakan negara dan tanpa harus dirusak pun dalam hitungan beberapa waktu juga rusak karena disediakan hanya seadanya. Bukankah yang terjadi akhirnya sama sekali bukan lagi pembelaan atas nama keadilan? Nyatanya hanya kerusakan dan menjadi alasan baru untuk kekerasan yang berusaha dilegalkan lainnya baik oleh para aparat berseragam, lalu kembali lagi oleh para demonstran. Ini cuma sandiwara balas dendam tiada akhir.

Sudah saatnya mahasiswa yang selalu jadi motor penggerak mengembalikan demonstrasi sebagai senjata pembela keadilan bagi rakyat seperti sejarah yang selama ini telah ditorehkan mahasiswa sebelum ini, dengan konsep, kematangan visi dan gerak, dan ketulusan membangun dan memperbaiki kerusakan pada negara. Bukan menambah lagi kerusakan baik secara fisik maupun mental. Jadilah mahasiswa yang layak menyebut diri sebagai agent of change, bukan menjadi mahasiswa yang pada akhirnya hanya mewarisi segala lakon munafik elit negara. Bukankah semua yang ada di gedung bundar itu dulunya adalah mahasiswa? Apakah mahasiswa saat ini dengan keanarkisannya adalah bentuk lain dari degradasi kualitas mereka yang selama ini menjalankan negara? Jika begitu, maka yang menjalankan negara kelak hanyalah binatang anarkisme yang melolong dan brutal, dan negara kita hanya hutan rimba politik yang lebih mengerikan lagi.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

cyber

Parlemen Dunia Maya

Beberapa waktu lalu mata dunia tersorot habis pada fenomena Arab Spring. Indonesia juga mengalami gejala-gejala sosial politik yang sama di dalam negeri, meski dalam tingkat yang relatif stabil dalam proses mengkritisi pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *