Home / Opini / Menonton Pendidikan Nasional
Menonton Pendidikan Nasional

Menonton Pendidikan Nasional

OLEH HISHAQEE NURAINI
[penulis adalah mahasiswa Departemen Ilmu Politik USU]

Pendidikan Indonesia sepertinya tidak keluar-keluar dari fase galau dan lebay, sebab bingung mau menyebut apa lagi. Rasanya negara ini tidak kekurangan praktisi pendidikan dan para profesor yang bisa memberi jalan keluar untuk perbaikan pendidikan. Ujian Nasional (UN) tiap tahun menjadi biang keresahan yang mampu membuat kita deg-degan. Kita mau ketinggalan berapa zaman lagi dari negara lain?

Tahun 1983 Goenawan Mohammad pernah mengulas Totto Chan: Gadis Pinggir Jendela dalam Catatan Pinggir-nya. Ia mengungkapkan buku itu menggambarkan cara-cara efektif pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Jepang. Ia menyebutkan di masa itu terdapat 50.000 anak-anak Jepang tengah menderita “phobia sekolah”. Akibat sistem pendidikan keras dan disiplin, para siswa tertekan, bahkan ada yang mempraktikkan harakiri. Beberapa peristiwa, seorang ibu bahkan tega membunuh anaknya, lalu bunuh diri. Bagaimana dengan kita? Kita harus bersyukur, karena tidak ada budaya harakiri. Namun tetap saja, setiap tahun dilema UN heboh di hari penentuan kelulusan.

Dramaturgi ujian nasional
Dramaturgi tontonan media tentang UN saat ini juga memiriskan. Sistem yang diterapkan memasuki kerumitan paling canggih. Satu acara berita di televisi memperlihatkan pengamanan kertas-kertas Ujian Nasional (UN) yang melebihi ketatnya pengamanan seorang presiden. Kalau pengamanan presiden udah pernah ‘dibobol’ beberapa kali, sepertinya pengamanan kertas UN lebih sulit ditembus. Selain dilengkapi 25 buah CCTV, ruangan juga disegel dan dijaga sejumlah petugas. Jenis soal ujian pun dipecah menjadi beberapa bagian, soal ujian teman di bangku depan dan bangku belakang siswa pasti berbeda. Rencananya untuk UN tahun depan variasi soal ujian ini akan ditambah menjadi 10.

Kehebohan soal ujian itu belum ada apa-apanya. Di televisi lain, beberapa sekolah di berbagai daerah diliput mengenai persiapan jelang UN. Mata kamera pun menangkap sekolah yang lengang dengan seorang guru yang menjelaskan semua kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang sengaja dihentikan, seluruh sekolah disterilkan, dan lagi-lagi diperlihatkan ruangan yang disegel untuk perayaan UN yang mendebarkan.

Pindah lagi ke liputan lainnya. Meluncur keterangan, selama UN siswa tidak boleh membawa telepon genggam dan kelas dijaga ketat. Beberapa sekolah bahkan atas nama keamanan dijaga aparat berseragam yang biasa nangkepin segala jenis penjahat.

Isu bocoran kunci jawaban dari tahun ke tahun tidak mengalami perkembangan yang signifikan, tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya, rame! Sampai-sampai di situs jejaring sosial ada yang iseng nulis joke “dijual kunci jawaban UN tahun 1998”. Perkembangannya ada pada pos komando (posko) pengaduan soal bocoran UN yang hampir sama seperti posko pengungsian korban banjir atau korban-korban bencana lainnya.

Berita terkini menghadirkan wawancara dengan siswa yang baru saja selesai mengikuti doa bersama menjelang persiapan UN. Ada doa bersama tiga agama diselenggarakan lembaga A, doa bersama di sekolah, sampai doa bersama di makam seseorang yang dianggap mampu memberikan “kekuatan”. Berdoa pada Tuhan kapan saja tidak pernah salah, tapi beramai-ramai sampai ke makam meminta restu, sepertinya deret kelebaian ini menjadi akut dan mengerikan.

Eskapisme pendidikan
Sangat sulit sebenarnya mencari benang merah antara keberhasilan di UN dengan mendatangi makam, berdoa di sana, meminta restu, sampai-sampai memberikan sesajen. Tidakkah gejala ini seharusnya membuat kita semua berpikir ulang: Sebenarnya kita sedang menjalani sistem pendidikan yang seperti apa? Ujian Nasional sebenarnya mau membuktikan apa? Kita harus mengevaluasi sampai di mana tingkat pemahaman siswa terhadap apa yang sudah dipelajarinya selama ini. Atau mungkin kita sedang membudidayakan kultur eskapis pada generasi muda bangsa?

Kehebohan penyelenggaraan UN dengan berbagai atributnya membuat ujian yang seharusnya hanya menjadi sekadar evaluasi menjadi lebih menggalaukan. Dan kegalauan ini membuat peserta UN mencari cara untuk meringankan bebannya. Secara tidak sadar, cara-cara yang dilakukan malah menjadi sebuah eskapisme, menuju yang irasional. Melarikan diri, mencari tempat teraman yang dirasa mampu mengangkat beban yang ditanggung. Logika kita tidak lagi tersambung dengan kenyataan. Mencari bocoran ujian dan kuburan menjadi tempat melarikan diri yang dianggap dapat membantu menyelesaikan UN dengan gampang. Kita tengah menanamkan budaya melarikan diri pada calon penerus kita.

Penyelenggara UN pun tak kalah eskapisnya. Posko pengaduan kebocoran UN, aneka ria jenis soal ujian, CCTV, penjaga-penjaga berseragam, semuanya juga merupakan bentuk eskapis yang berusaha menutupi kekurangan atau kegagalan dalam proses pendidikan panjang selama masa ajaran berlangsung. Penyelenggara UN sibuk memadatkan tiga bulan hanya untuk menjawab berlembar-lembar ujian. Bagaimana mungkin dalam satu hari lembaran-lembaran soal dijaga layaknya kitab agar tidak bocor dan menjadi ketok palu seseorang menjadi layak atau tidak layak untuk melanjutkan pendidikan? Semua beban proses pendidikan ditumpukkan dalam perayaan UN.

Ujian yang diselenggarakan saat ini hanya menjadi ajang pertaruhan prestise antarsekolah. Sekolah yang siswanya banyak tidak lulus, menorehkan citra buruk dan konsekuensi lainnya. Sebaliknya, jikalau jumlah siswa banyak yang lulus akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, khususnya orangtua untuk berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Mengapa? Sebab, orangtua berharap kelak anaknya juga lulus dalam prosesi UN mendatang. Ujian hendaknya bukan hanya untuk mengevaluasi kemampua belajar siswa, hingga dinyatakan layak lulus atau tidak. Seharus itu paralel dengan mengevaluasi kemampuan mengajar para guru!

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

cyber

Parlemen Dunia Maya

Beberapa waktu lalu mata dunia tersorot habis pada fenomena Arab Spring. Indonesia juga mengalami gejala-gejala sosial politik yang sama di dalam negeri, meski dalam tingkat yang relatif stabil dalam proses mengkritisi pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *