Home / Hiburan / Film / Amélie : Sebuah Kisah Pencarian Makna Kehidupan

Amélie : Sebuah Kisah Pencarian Makna Kehidupan

Judul :  Amélie  atau Le fabuleux destin d’Amélie Poulain (original title)

Sutradara : Jean-Pierre Jeunet.

Penulis : Guillaume Laurant dan Jean-Pierre Jeunet.

Pemain : Audrey Tautou , Mathieu Kassovitz, Rufus

 Pijar, Medan. Mungkin banyak dari kita yang telah sering menonton komedi romansa diiringi bumbu jokes khas seperti lelucon sensual ataupun lainnya. Seperti film 10 Things I Hate About You (1999), yang dimana film ini bercerita tentang  seseorang anak baru yang kurang pergaulan  dan mencintai seorang gadis tercantik di sekolahnya. Ya formula umum film romantis dimana seorang tokoh utama yang kuper, namun pada akhirnya berhasil meluluhkan hati wanita pujaan dan berhasil menggapai mimpi-mimpinya. Saya tidak mengatakan bahwa film 10 Things I Hate About You itu tidak bagus. Saya hanya menggambarkan sebuah tema yang terdapat pada film tersebut dan telah menjadi patokan dari zaman baheula hitam putih sampai zaman 3D atau 4D saat ini. Tetapi yang film yang satu ini berbeda.

Film Amélie ini merupakan salah satu film komedi romantis. Walau intinya kisah cinta, namun pengemasannya yang berbeda. Namun apa yang membedakan film ini dengan film romansa komedi lainnya yaitu film ini banyak diselipi bumbu-bumbu motivasi untuk kehidupan dan kerja keras. Selain memberikan sebuah tontonan yang menarik dari drama, film ini juga sedikit menyuguhkan potret  kondisi kehidupan di wilayah pinggiran salah satu kota di Prancis.

Adakalanya kita harus sedikit bekerja keras, jujur, dan sedikit bermain-main untuk menjadi seorang yang sukses menikmati sebuah kehidupan. Secara garis besar itulah makna dari film ini. Amélie bercerita tentang seorang gadis  jujur, apa adanya dan naif yang tinggal berdua dengan sang ayah setelah ibunya meninggal pada sebuah kecelakaan. Secara keseluruhan film ini bercerita tentang kehidupan Amelie Poulain (Audrey Tautou) yang selama masa kecilnya hanya dihabiskan lingkungan rumah saja.Hingga petualangannya di kota Prancis, Montmartre yang bermula di sebuah kafe bernama Two Windmills. Kejadian-kejadian berlangsung di kafe tempat Amelie bekerja tersebut. Di bawah perhatian orang tua yang introver, Amelie memiliki masa kecil yang tidak terlalu baik, sehingga pada saat dewasa ia berubah menjadi seorang lugu dan bersifat tertutup. Film drama romansa tidak seharusnya seperti sama dengan  film sejenis umumnya yang hanya mengedepankan  dan menggunakan formula umumnya seperti kehidupan romansa antar tokoh. Dalam film ini Jean-Pierre Jeunet selaku sang sutradara menyelipkan adegan-adegan yang bersifat humanis dan lucu. Seperti kedekatan Amelie dengan Raymond Dufayel (Serge Merlin)  merupakan seorang pelukis yang memiliki kelainan dalam tulangnya yang dimana Raymond menjadi teman curhat Amelie dalam menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapinya. Lalu kebiasaan konyol Amelie terihat ketika dia melakukan tindakan jahil dengan menyabotase rumah seorang pemilik toko sayuran yang sering melakukan mem-bully pegawainya. Sisi humanis Amelie Poulain terlihat pada sebuah kejadian.  Ada suatu peristiwa dimana ia menemukan  kotak harta peninggalan berisi mainan dan barang yang telah berusia 50 tahun di flatnya. Amelie bersusah payah mengelilingi seputaran kota Perancis untuk menemukan sang pemilik harta tersebut. Hingga dimana dia berhasil menemukan pemiliknya dan memberikan kotak tersebut yang dimana akibat peristiwa itu mengubah hidup Amelie lebih bahagia dan berwarna.

Film berlanjut dengan dimana Amelie bertemu dengan Nino Quincampoix (Mathieu Kassovitz) di sebuah photobox. Pada saat itu, tas kantong yang berisi album foto milik Nino terjatuh ketika ia mengejar seseorang yang meninggalkan kantung plastiknya di photobox. Amelie, berusaha secara tidak langsung untuk memberikan album foto tersebut kepada Nino. Namun dibalik tujuan untuk mengembalikan album kepada sang pemilik,  Amelie juga memiliki perasaan terhadap sang pemilik album. Hingga kisah-kisah bentuk pencarian cinta sejati antara Amelie dan Nino yang menjadi akhir dari film ini.

Dalam film ini, para tokoh utama terlihat sangat menjiwai perannya masing-masing. Seperti Audrey Tautou yang memerankan Amelie. Terlihat penjiwaan dan karakter utama diaplikasikan secara maksimal oleh Audrey dalam film ini. Lalu sang sutradara Jean-Pierre Jeunet, berhasil menggarap film ini dan sukses menggambarkan bentuk kehidupan sosial dan panorama di pinggiran kota Perancis. Pesan-pesan utama sang sutradara yaitu untuk bekerja keras dan tidak menyerah dalam segala hal baik itu dalam hal  percintaan atau hal lainnya, berhasil memengaruhi para penonton.  Namun, alur yang sedikit lambat dan membosankan juga dapat mengurangi nilai plus dari film ini. Tetapi hal tersebut tidak terlalu berpengaruh dalam keseluruhan film ini.  Acting para aktor maupun aktris film Le Fabuleux Destin d’Amélie sangat baik. Didukung oleh sutradara yang memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan sebuah film yang sederhana secara sempurna. Selain itu Jean-Pierre Jeunet berhasil  menambahkan adegan-adegan atau jokes yang lucu khas Perancis dan  beberapa adegan yang membuat para penonton sedikit tergugah. Selain berhasil memvisualisasikan film Amelie ini secara menakjubkan, pemenang European Film Awards sebagai sutradara terbaik ini ini juga memberikan sebuah bentuk tontonan drama romansa yang berbeda pada umumnya dan mengubah bentuk persepsi para movie goers  terhadap film drama romansa pada umumnya. Menurut saya Jean-Pierre Jeunet sangat berhasil menyutradarai film ini dan sekaligus juga menaikkan pamor perfilman Prancis di kancah dunia yang sudah mulai agak menurun. Akhir kata, film ini worth to watch over and over dan salah satu film komedi romansa yang harus diantisipasi pada tahun 2001. (ydh)

 

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatra Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Nobody Knows: Kami Miskin, Kelaparan, dan Terlantar

Pernahkah terbayangkan ketika masa pertumbuhan, kalian harus tumbuh dan berkembang sendiri? Harus menjalani kehidupan dengan ditelantarkan dan hidup dalam kemiskinan yang membuat kalian harus menahan lapar selama berhari-hari?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *