Home / Tengok-Tengok / Pondok Madu, Usaha yang Menyehatkan
FOTO NAIK 2

Pondok Madu, Usaha yang Menyehatkan

Pijar, Medan. Siapa di dunia ini yang tak kenal madu? Rasanya yang manis dan beraroma khas itu diminati banyak orang. Selain rasanya yang manis, madu mengandung nutrisi yang berkhasiat untuk dikonsumsi semua orang. Saat ini, usaha penjualan madu kian dilirik menjadi salah satu usaha yang menjanjikan.

Pondok Madu. Inilah nama salah satu toko pertama yang khusus menjual madu di Kota Medan, tepatnya di Jl.Dr.Mansyur. Toko ini didirikan pada bulan April 2012 lalu. Meskipun masih terhitung baru, toko madu ini sudah banyak diminati oleh kalangan mahasiswa dan orangtua yang mengerti benar manfaat madu bagi kesehatan. Pondok Madu ini merupakan usaha keluarga yang didirikan oleh Bapak Cahyo Pramono, yang juga seorang Dosen USU sekaligus Manajer Marketing Hotel Niagara dengan memiliki empat karyawan yang masih memiliki hubungan keluarga.

Ketika kita masuk kedalam toko Pondok Madu kesan pertama yang kita rasakan adalah aroma madu yang khas serta jajaran botol madu yang disusun secara rapi di dalam pahatan kayu berbentuk heksagon, menggambarkan suasana madu disarang lebah yang masih segar.

“Pada dasarnya hanya ada dua, madu hutan dan madu ternak”, ungkap Ibu Koni, salah satu karyawan yang menjaga toko saat kedatangan kami. Madu Hutan didapat dari para peternak lebah madu hutan yang terdiri dari berbagai jenis pohon tualang didaerah Hutan Riau sedangkan madu ternak diternakkan di berbagai jenis pohon. Misalnya madu karet, lebahnya diternak di kebun karet, kalo madu rambutan diternak di kebun rambutan. “Kalau madu kelengkeng, ya diternak di kebun kelengkeng juga”, ungkap Ibu koni sambil menunjukkan berbagai madu curah yang disajikan didalam tong aluminium dibelakang tempat duduknya.

Madu tersebut disajikan untuk para konsumen yang ingin membeli madu dalam hitungan kiloan bukan per kemasan seperti madu-madu lain yang dijual di toko lain. Madu curah ini dijual dengan harga sekitar Rp.110.000 – Rp.150.000 perkilogramnya.

Nah, uniknya Pondok Madu ini tidak hanya menjual produk madu lokal saja, tetapi juga madu produksi dari berbagai negara seperti Capilano asal Australia, As Shifa asal Jeddah, GiantB asal Malaysia, Khaula asal Iran, Giant Honey asal Thailand, Bee Easy asal Jerman, Langnese asal Belgia, Zummerse asal Belanda, dan Knotts asal Amerika. Akan tetapi, ibu koni mengaku kalau meskipun banyak produk impor, konsumen yang datang ke toko ini tetap saja mencari produk madu lokal. Salah satu contoh Madu Lokal yang banyak diminati adalah Madu Pohon Raja.

Walaupun masih terhitung baru dalam dunia usaha, toko yang buka dari pukul 08.00-22.00 ini sudah sering pula mengikuti pameran kesehatan. Seperti baru-baru ini, Pondok Madu mengikuti kegiatan sosial dari Salah satu Bank, termasuk juga diundang oleh PMI. karena “Produk kita kan termasuk produk kesehatan yang baik dan banyak diminati masyarakat,” ujar ibu Koni dengan senyum ramah.

Ibu Koni juga membagi tips-tips untuk membedakan mana madu yang asli dengan yang tidak asli. Secara sederhana, kita bisa mengetahuinya dari warnanya. Madu yang asli warnanya akan homogen (sama) walaupun dia mengkristal (mengendap). Sedangkan madu yang palsu, warnanya akan terlihat berbeda warna. “Karena bisa jadi ada campuran gula” ujar ibu koni. Aroma juga bisa menunjukkan kualitas madu. Madu asli akan mengeluarkan gembung udara yang halus secara perlahan dan wanginya khas apabila dikocok.

Madu memang telah lama menjadi salah satu alternatif kesehatan alami bagi masyarakat indonesia. Ibu Koni mengatakan, “dengan mengkonsumsi madu kita berarti kembali ke bahan alami.” Banyak khasiat yang terkandung dalam madu untuk mengobati berbagai macam penyakit bagi semua umur. Mulai dari pertumbuhan bayi, asam lambung, antioksidan bahkan menurunkan kolesterol. Bagaimana, tertarik membuka usaha yang menyehatkan ini?[ysi,tri]

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

2

Jejak Berkah dari Produksi Rumahan

Siapa sangka keahlian yang didapatnya selepas bekerja disebuah pabrik sepatu membawa berkah berkelanjutan bagi pria berusia 30 tahun ini . Bermodalkan tekat yang kuat pada tahun 2005 Anton membuka kios kecil-kecilan dibilangan HM. Joni, Medan, Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *