Home / Jalan-Jalan / Sisi Lain Negeri Singa
IMG-20130321-WA0001

Sisi Lain Negeri Singa

Berikut ini merupakan pemandangan Marina Bay, salah satu Integrated Resort yang ada di Singapura. Foto : Nabilah Adzhani.

Pijar, Medan. Sebagai sebuah pulau kecil yang memiliki luas kurang lebih 700 km2 di Asia Tenggara ini menyimpan begitu banyak keindahan. Singapura, negara yang terkenal dengan simbol kebersihan dan keteraturan. Negara kecil ini seakan selalu memanggil saya untuk kembali.

Saya memilih harga tiket pesawat termurah untuk perjalanan kali ini. Tentu saja, dengan harga Rp 800.000,- untuk pulang dan pergi maka saya harus rela take off pukul enam pagi. Medan – Singapura hanya ditempuh dengan 45 menit dengan perbedaan waktu Singapura yang lebih cepat satu jam dibanding dengan Indonesia. Sekitar pukul delapan waktu setempat mata saya mulai kembali harus terbiasa dengan wajah – wajah serius dan tanpa senyum khas masyarakat Singapura . Kaki ­ pun harus terbiasa berjalan dua kali lebih cepat dari biasanya. Setelah urusan imigrasi selesai, saya lebih memilih untuk segera ke apartemen untuk beristirahat. Malam tiba, saya diajak kerabat untuk menikmati udara malam Singapura. Kami memilih untuk menggunakan kendaraan umum yang sangat nyaman dan aman yaitu bus.  Sehingga anak – anak dan perempuan tidak perlu khawatir untuk menggunakan kendaraan umum di malam hari. Mata saya dimanjakan dengan lampu beraneka warna di setiap sudut kota, orang – orang bersepeda dan joging. Tidak terlihat ada orang yang berjualan disepanjang jalur pejalan kaki atau kendaraan yang mengambil jalur sepeda. Setelah melewati beberapa halte  saya tiba di Simpang Bedok. Simpang Bedok merupakan tempat jajanan malam tersohor di negara ini. Beragam pedagang jajanan tersusun dengan rapi . Harga makanan disini juga cukup terjangkau mulai dari lima dollar sampai puluhan dollar. Saya memilih Sweet and Sour Fish yang rasanya cukup enak, tetapi jauh lebih enak Sweet And Sour ala Indonesia.

Hari berikutnya saya mengunjungi China Town. Di negara ini setiap bangsa memiliki daerahnya masing – masing. China dengan China Town-nya, India dengan Little India-nya dan Melayu dengan Geylang Street-nya. Kali ini saya menggunakan MRT (Mass Rapid Transportation) yaitu kereta api listrik yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya. Kendaraaan umum yang satu ini juga sangat nyaman. Saya merasa berada didalam  adegan-adegan film Korea dimana muda – mudi lebih memilih berdiri dan menggunakan headset daripada duduk. Berjalan keluar dari stasiun mulai terdengar suara-suara berisik, musik mandarin serta  seruan “One dollar one dollar” bercampur menjadi satu. China Town merupakan tempat yang sangat tepat untuk berbelanja. China Town menyuguhkan bangunan – bangunan lama khas China dan juga harga –harga barang yang sangat murah. Di tempat ini tak tampak lagi wajah kaku dan serius. Sudut lain dari Singapura, suasana ramai dan penuh keriangan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah para penjual yang menggunakan mikrofon untuk menjajahkan dagangannya.

Setelah puas berbelanja, saya melanjutkan perjalanan ke Gardens By The Bay Marina. Tampaknya Singapura tak bersahabat dengan saya kali ini, hujan turun  dengan derasnya sehingga saya harus menaiki taksi. Gardens  by The Bay merupakan taman indoor dan outdoor terluas di Asia Tenggara.Tempat ini juga merupakan satu – satunya hutan dan taman buatan di  Asia. Ini merupakan tempat rekreasi terbaru di Singapura. Untuk memasuki lokasi indoor  dikenakan bayaran 28 dollar untuk wisatawan  mancanegara. Syukurlah, saya memiliki kartu kewarganegaraan Singapura sehingga saya hanya membayar 20 dollar untuk dua tempat indoor yaitu Flower Dome dan Cloud Forest. Wisatawan juga dapat menikmati taman dan hutan outdoor tanpa harus membayar. Tetapi sensasinya tentu berbeda. Flower Dome merupakan tempat bunga – bunga dari seluruh dunia. Disusun dengan sangat rapi dan yang paling mengejutkan ribuan bunga ini semuanya asli. Saya berpindah ke Cloud Forest yang memberikan kesan pertama yang sangat baik. Percikan air mancur yang sangat tinggi membasahi wisatawan saat memasuki arena tersebut. Setelah puas berkeliling Gardens By The Bay perut saya mulai terasa lapar dan saya menyebrang jalan untuk mencapai mall yang sangat terkenal dengan kasinonya, Marina Bay. Baru kali ini saya melihat ada sebuah mall yang menyajikan gondola dan sungai kecil di dalamnya. Perut saya terasa lupa akan kelaparannya saat melihat deretan patung yang mengenakan pakaian merek ternama. Bagi wisatawan yang memiliki kocek terbatas, ini bukan tempat yang tepat untuk berbelanja dan berwisata kuliner.

Flower Dome merupakan tempat bunga – bunga dari seluruh dunia. Disusun dengan sangat rapi dan memiliki pemandangan yang menyejukkan mata. Foto : Nabilah Adzhani.

Hari berikutnya,  saya mengunjungi Little India dengan menggunakan bus. Sesampainya saya di halte, mata saya mulai dipaksa untuk melihat berbagai wajah yang menyerupai Shahrukh Khan dan Anjeli. Inilah gambaran dari New Delhi. Singapura yang sangat teratur tidak tampak lagi disini, kawasan ini merupakan sisi lain dari Singapura. Jalan –jalan menjadi sangat sempit karena banyaknya penduduk yang sekedar hanya berkumpul dan bercerita di pinggir jalan. Anda juga harus membiasakan diri untuk menabrak dan ditabrak orang. Walaupun tempat ini sangat padat, wisatawan akan benar – benar terkagum pada budaya India yang sangat kental. Hampir setiap sudut akan terlihat wanita mengenakan sari dan pria berwajah bak bandit India sampai yang mirip dengan Shahruk Khan. Disini juga terdapat banyak wisatawan asing. Cobalah untuk berhenti di tempat makanan khas India. Saya mulai berani memilih makanan yang ekstrem. Tosai, makanan yang ada dalam film India yang dimakan menggunakan piring aluminium dan memiliki tempat untuk tiga kuah yang berbeda. Makanan ini sangat aneh rasanya. Mungkin karena lidah saya belum terbiasa.

Setelah perut kenyang oleh berbagai makanan khas India, saya melanjutkan perjalanan ke tempat bermukimnya warga – warga Melayu di Singapura. Sayang, di tempat ini rumah kampung Singapura sudah dihancurkan dan diganti dengan apartemen. Wajah – wajah sayu dan beralis tebal memenuhi tempat ini. Ini merupakan tempat yang tepat bagi anda yang ingin mencari baju kurung dan teluk belanga khas Melayu. Banyak makanan Indonesia dijual di daerah ini.

Keesokan harinya, saya harus bergerak lebih cepat dari biasanya, tujuan saya berikutnya adalah Universal Studio Singapura yang terdapat di Pulau Sentosa. Antrian akan sangat panjang pada hari libur. Untuk masuk ke Universal Studio saya harus mengeluarkan 60 dollar untuk waktu satu hari penuh. Setiap permainan disini hampir memiliki kemiripan, duduk di atas kereta dan pertunjukan dimulai. Ada permainan yang hanya menggunakan patung – patung lucu yang berbicara. Ada pula yang benar benar membuat jantung terasa akan copot, namun diantara semua permainan tersebut robot Transformers merupakan permainan yang paling keren disini. Di sekeliling juga terdapat bangunan- bangunan layaknya di Amerika maupun Hollywood.  Berbagai restoran ternama dari sejumlah negara juga terdapat di dalamnya. Setelah puas berkeliling Universal Studio, saya dan teman – teman saya yang berkebangsaan Singapura berjalan kaki mengelilingi Pulau Sentosa pada malam hari. Berjalan di pasir pantai dan melihat pertunjukan Laser Song Of The Sea.

Berikut ini merupakan salah satu permainan Transformers yang ada di Universal Studio Singapura. Foto : Nabilah Adzhani.

Tempat lain yang harus dikunjungi wisatawan di Singapura adalah Bugis Street. Sepanjang jalan akan terlihat beragam pedagang cinderamata dengan lambang Singapura. Disini juga terdapat begitu banyak pakaian bergaya Korea baik untuk wanita maupun pria seharga 10 dollar. Selain China Town, Bugis merupakan tempat berbelanja yang paling digemari di Singapura. Bagi wisatawan yang ingin mencari pakaian merek ternama dengan berbagai diskon dapat menyebrang dan memasuki area Bugis Junction.

Jangan pernah sekalipun untuk mencoba Ice Blend di tempat ini jika tidak ingin tersiksa karena teringat akan kelezatannya sesampainya di Indonesia. Itulah sekilas cerita dari Singapura dan saya masih harus menghabisakan beberapa minggu lagi di Negara yang sangat mengagumkan ini. Semoga jalan- jalan kali ini dapat menjadi informasi yang berguna bagi anda yang ingin berlibur ke Singapura. [na]

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

Sumber foto: google.com

 Kue Talam, Si Legit Yang Menggigit

Kue Talam dibilang sangat unik karena memiliki dua sisi yang dimana tekstur dan rasanya berbeda. Meskipun begitu, kue ini sangat lembut, manis dan gurih saat di makan secara bersamaan kedua sisinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *