Home / Sosok / Mora Nasution dan Pendidikan Alamnya
MORA NST

Mora Nasution dan Pendidikan Alamnya

Rizka Gusti Anggraini/Zakiyah Rizki Sihombing

PIJAR, MEDAN. Mora, begitulah sapaan akrab untuk sosok inspiratif ini. Ada yang berbeda dari dirinya, jiwa keibuan yang dilapisi semangat muda luar biasa, sangat melekat bagi sosok pemilik Salon and Spa Mia Miu Palace yang berlokasi di Komplek Setia Budi Centre Medan. Perempuan berkulit putih ini mengaku, bukan materi yang membuat seseorang dikatakan sukses tetapi besarnya penghargaan diri terhadap pengalaman hidup. Dengan kata lain, Mora sudah cukup merasakan pahit manis sebuah perjalanan yang mengantarkan ia menjadi inspirator bagi siapa saja. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan hidup ini seperti merupakan perpaduan antara menari dengan bernyanyi, dimana menari itu berisikan gerakan-gerakan piawai sedangkan bernyanyi dilandasi dengan penghayatan lantunan-lantunan irama dan melodi.

Bermodalkan keyakinan kepada jalan Sang Maha Satu, ia memulai kembali dari titik nol. Bangkit dari keterpurukan atas realita kandasnya rumah tangga, membuat sosok Mora dikenal sebagai “pembawa energi positif” di keluarga dan kerabat terdekatnya. Terkadang kegagalan hadir dalam bentuk coretan-coretan tak kasat mata, yang justru membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat, matang dan mandiri. “Saya dibesarkan dari pengalaman hidup. Dengan cobaan hidup, saya menjadi kuat. Tidak mencoba untuk marah kepadaNya, seperti kebanyakan orang lain,” ungkap Mora seraya tersenyum tulus.

Dibalik kesehariannya sebagai fasilitator di sebuah Sekolah Pengembangan Kepribadian dan Bisnis On The Stage, ia kerap menjadikan dirinya bukan sebagai seseorang yang harus dipandang tunduk, melainkan menempatkan diri sebagai pendengar. Itu ia tunjukkan dengan caranya merangkul seluruh anggota layaknya keluarga. “Bukan apa-apa, tapi yang jelas saya akan selalu membesarkan telinga untuk semua orang di sekeliling saya,” tangkasnya kemudian.

Wanita berlesung pipit ini, di awal mengaku bagian terberatnya adalah saat harus membangun hidup yang baru tanpa menelantarkan kedua anaknya. Mulai dari menjadi seorang sales promosi hingga naik pesat menduduki posisi direktur muda di sebuah perusahaan produk kecantikan. Perjalanan itu lagi-lagi bukan sebuah kisah buruk lantas dilupakan. Namun itu justru menjadi jembatan pengantar, membawanya sampai pada titik dimana ia berhasil membangun sebuah usaha yang kini beromset ratusan juta per bulan. Siapa sangka karena di setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Itulah keyakinan seorang wanita bernama lengkap Mora Chairina Nasution ini.

Mora juga mengaktifkan diri dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Pengemasan jati diri seorang Mora, ia gelorakan melalui penciptaan karya dalam sebuah kegiatan kepemudaan yang ia beri nama Indonesia Youth Icon, guna memunculkan bibit-bibit baru bagi generasi Indonesia yang akan memberi perubahan positif bagi Indonesia di masa mendatang. Gebrakan-gebrakan sederhana telah meraup berbagai dukungan dalam kegiatan Indonesia Youth Icon 2015 yang bertepatan pada Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober Dengan terpilihnya 74 duta muda Indonesia dari SMA se-kota Medan melalui tahapan roadshow hingga Pelatihan Kebangsaan yang dikerahkan oleh Mora bersama para tim, membubuhkan harapan Mora agar kelak semakin banyak anak muda Indonesia berprestasi dan menjadi anak muda yang sukses dan dikagumi.”Lima tahun dari sekarang, tepat di 28 Oktober nanti, seluruh Indonesia akan menjadi lautan merah putih dan serentak mengibarkan bendera Indonesia. Itu akan direkam dengan menggunakan satelit,” tambah Mora, berkeyakinan penuh semangat.

Pendidikan alam. Sebuah kalimat sederhana yang diucapkan oleh Mora. Kalimat yang menggambarkan garis besar dari apa yang ia tanamkan jauh-jauh di lubuk hati bahwa Sang Pencipta tidak pernah salah menempatkan takdir kepada siapapun. Tidak hanya belajar ikhlas atas sebuah takdir, tetapi juga belajar memperbaiki diri kian hari. Melepas perlahan kebiasaan-kebiasaan yang acapkali ia lakoni di masa silam demi menjadi  seorang yang lebih baik dan tak lupa untuk selalu bersyukur atas nikmatNya. “Teman-teman saya dulu bilang kalau saya itu manusia paling hedon dan nggak ada sama sekali budaya Timur yang melekat di diri saya,”  tutur Mora mengenang. Latar belakang kehidupannya yang jauh berbeda dari saat ini membuat kerabat dan teman-temannya tercengang “Mora sudah berubah” begitulah kebanyakan orang menilainya. Tidak ada yang salah, hanya saja Mora bangkit dari mimpi dengan jalan yang berbeda.

About Media Pijar

Media Pijar: Pers Mahasiswa - Pelita Insan Terpelajar - Laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Silahkan Lihat Artikel ini juga !

IMG20181127180944

Hasan Al Banna, Pegiat Seni dengan Segudang Prestasi

Pijar, Medan. Pendidikan merupakan hal yang penting, namun mencari dan melatih skill di luar pendidikan sekolah juga tidak kalah penting. Seperti sosok Hasan Al Banna yang akrab disapa Hasan, pria kelahiran Padang Sidempuan, 3 Desember 1978 ini merupakan pegawai Balai Bahasa Sumatera Utara—Kemendikbud, penyair, penulis prosa, esais, dan pekerja seni pertunjukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *